diajeng.id - Beberapa waktu lalu, publik sempat dihebohkan dengan promosi film horor Aku Harus Mati yang terpampang di berbagai sudut jalan di berbagai kota.
Visualnya yang menyeramkan memicu keresahan, terutama di kalangan orang tua yang khawatir akan dampaknya bagi anak-anak.
Setelah sekian protes dilayangkan, terutama karena hal tersebut mengerikan dan membahayakan kesehatan mental tak terkecuali pada anak, baliho-baliho itu pun diturunkan.
Kondisi tersebut membuka diskusi lebih luas tentang hal-hal tidak pantas yang berseliweran di sekitar kita, dari papan baliho dengan pesan-pesan kekerasan atau kengerian, konten-konten seksual, video kekerasan, ujaran kebencian, atau bahkan dorongan menyakiti diri sendiri di media sosial, yang berisiko membahayakan anak-anak kita.
Sebagai orang tua, wajar jika muncul rasa panik, marah, atau bersalah saat menyadari anak telah terpapar hal yang tidak seharusnya mereka lihat.
Lantas, apa yang sebaiknya orang tua lakukan setelah mengetahui anak terpapar konten atau hal-hal tidak pantas yang berbahaya?
Langkah yang Bisa Dilakukan Orang Tua saat Anak Terpapar Konten atau Hal-Hal yang Tidak Pantas
Alih-alih larut dalam kepanikan, ada beberapa langkah sigap dan bijak yang bisa orang tua lakukan untuk meminimalisir dampak negatifnya pada anak:
1. Tenangkan Diri, Tidak Perlu Panik Berlebihan
Reaksi pertama sebagai orang tua sangat menentukan.Laman Digital for Life dan Happy Families menekankan pentingnya orang tua untuk tetap tenang.
Apabila kita merespons dengan teriakan, kemarahan, atau kepanikan yang berlebihan, anak akan merasa malu dan takut untuk jujur di masa depan.
Tarik napas dalam-dalam, ingatlah bahwa tujuan utama kita adalah menjadi "ruang aman" bagi anak.
2. Mulai Dialog Tanpa Menghakimi
Gunakan pendekatan yang lembut untuk mencari tahu apa yang mereka pahami.Orang tua bisa bertanya, seperti, "Apa yang tadi kamu lihat?" atau, "Bagaimana perasaanmu setelah melihat itu?"
Menurut Erikson Institute, anak kecil sering kali belum memahami konten yang mereka lihat dan mereka akan menafsirkan sesuai usia perkembangannya.
Dalam konteks ini, pertanyaan yang kita ajukan bukanlah untuk menggali detail, tetapi lebih untuk memahami bagaimana pengalaman paparan tidak terduga tersebut berdampak pada anak.
3. Sesuaikan Penjelasan dengan Usia Anak
Anak tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang. Yang mereka butuhkan adalah pemahaman yang sesuai usia.Digital for Life menegaskan bahwa orang tua cukup menjelaskan kepada anak kecil jika itu adalah sesuatu yang tidak sesuai untuk mereka, sementara untuk anak yang lebih besar bisa mulai dikenalkan konsep batasan, keamanan, dan nilai-nilai keluarga.
4. Tegaskan bahwa Mereka Tidak Bersalah
Khususnya dalam kasus pornografi atau konten ekstrem, anak sering merasa takut atau bersalah. Penting bagi orang tua untuk menegaskan bahwa anak tidaklah melakukan kesalahan.Hal ini, seperti dijelaskan Happy Families, akan membantu mengurangi rasa malu dan mencegah anak menyimpan pengalaman tersebut sendirian.
5. Bantu Anak Memproses Apa yang Mereka Lihat
Paparan konten kekerasan atau seksual, tulis situs Parents, bisa menimbulkan kebingungan atau ketakutan.Orang tua dapat membantu anak dengan meluruskan informasi yang salah, menjelaskan bahwa tidak semua yang ada di internet mencerminkan kenyataan, serta menguatkan nilai empati dan rasa aman.
6. Ajarkan Strategi Menghadapi Situasi Serupa di Masa Depan
Alih-alih hanya melarang, bekali anak dengan langkah konkret, seperti mengarahkan mereka untuk:
- Segera menutup atau meninggalkan konten tersebut
- Memberi tahu orang tua atau orang dewasa tepercaya
- Tidak mencoba mencari ulang konten itu
7. Evaluasi dan Perkuat Pendampingan Digital
Peristiwa yang dialami ini juga bisa menjadi momen refleksi bagi orang tua untuk melakukan hal-hal seperti:
- Mengatur ulang kontrol orang tua (parental control)
- Mendampingi anak saat menggunakan gadget
- Membangun kebiasaan diskusi rutin tentang dunia digital
8. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional
Jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti:
- Ketakutan berlebihan
- Perubahan perilaku drastis
- Kecemasan atau mimpi buruk berulang
Mencari bantuan bukan berarti kita gagal sebagai orang tua. Dengan berkonsultasi dengan pakar, kita ingin anak mendapatkan dukungan yang terbaik.
Di zaman serba digital, hampir tidak mungkin anak benar-benar “terlindungi” dari semua paparan negatif. Namun, yang penting bukanlah menghindari seluruh risiko, bukan pula melarang atau mengekang anak.
Dengan pendekatan yang tenang, terbuka, dan penuh empati, pengalaman yang awalnya mengkhawatirkan bisa jadi momen penting untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.
Simak juga artikel lainnya terkait parenting di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih