diajeng.id - Awal tahun ini, istilah child grooming mulai ramai diperbincangkan setelah seorang figur publik merilis buku tentang pengalamannya di masa lalu sebagai korban.
Kisahnya membuka mata banyak orang bahwa ancaman terhadap anak-anak bisa jadi muncul dalam wujud perhatian, kedekatan, bahkan rasa aman yang semu.
Di balik itu semua, tersirat tujuan yang berbahaya: eksploitasi, termasuk eksploitasi seksual.
Yang membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan adalah fakta bahwa anak sering kali tidak sadar dirinya sedang dimanipulasi.
Dalam banyak kasus, perhatian yang mereka terima terasa seperti sesuatu yang tulus, terutama ketika kebutuhan emosional mereka tidak sepenuhnya terpenuhi dari keluarganya di rumah. Di titik inilah, celah itu dimanfaatkan oleh pelaku.
"Sebetulnya ini [adalah] manipulasi psikologis yang terencana dan sistematis. Yang intinya membangun kedekatan emosi, kepercayaan, kemudian ada rasa aman palsu, tapi dengan tujuan. Dijadikan korban eksploitasi seksual. Namanya anak-anak, bisa jadi mereka tidak sadar bahwa ini adalah suatu manipulasi, apalagi ketika orang tuanya juga tidak memberi perhatian atau kasih saran yang cukup kepada anaknya."
Demikian disampaikan oleh Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) saat webinar “Mengenali Child Grooming” pada Selasa (31/03/2026).
Fenomena ini mustahil dilepaskan dari perubahan pola interaksi anak di era digital.
Menurut dokter Piprim, langkah pemerintah melalui kebijakan pembatasan akses media sosial per 28 Maret 2026 bagi anak di bawah usia 16 tahun patut diapresiasi.
Kebijakan ini hadir sebagai respons terhadap meningkatnya kasus cyber bullying dan kejahatan seksual terhadap anak di ruang digital. Dunia digital, yang seharusnya menjadi ruang eksplorasi, sering kali menjadi pintu masuk bagi berbagai ancaman.
Namun begitu, perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Lingkungan terdekat, yaitu keluarga, memegang peran yang jauh lebih fundamental.
"Anak itu harus diberi rasa aman, diberi ruang aman. Baik di dunia nyata maupun di dunia sosial. Intinya, sebetulnya bagaimana di keluarga itu perhatian kepada anak anak. Itu (perhatian) diberikan secara adekuat," imbuhnya.
Dokter Piprim menekankan bahwa hubungan dalam keluarga perlu dibangun dengan kedekatan yang nyata. Selain diarahkan, anak juga perlu diajak berdiskusi. Terutama bagi remaja, kehadiran orang tua sebagai “teman” dan “sahabat” menjadi sangat penting.
Ketika anak merasa didengar dan dihargai, mereka tidak akan mudah mencari validasi di luar. Sebaliknya, ketika anak merasa kurang diperhatikan, muncul ruang kosong yang berpotensi diisi oleh pihak lain, termasuk orang-orang yang berpura-pura peduli, memberi pujian, dan menawarkan kenyamanan, padahal menyimpan niat buruk.
Selain itu, orang tua juga perlu belajar menjadi pendengar yang baik. Bukan sekadar memberikan nasihat, orang tua perlu menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi.
Apabila anak merasa orang tuanya “tidak nyaman untuk diajak bicara”, maka sangat mungkin mereka akan mencari tempat lain untuk berbagi, dan di situlah risiko mulai muncul.
Karakteristik Utama Proses Child Grooming
Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M.Kes, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI menambahkan, sisi lain yang tak kalah penting adalah bagaimana child grooming itu sendiri bekerja secara sistematis dan sering kali tidak disadari.
Fenomena child grooming, kata dokter Ariani, sebenarnya bukan hal baru. Kasus-kasusnya sudah lama terjadi, hanya saja sering tersembunyi dan luput dari perhatian.
"Baru ketika ada yang mengangkatnya ke ruang publik, kita seperti “tersadar” bahwa ancaman ini nyata dan dekat," ucapnya.
Dokter Ariani menyebutkan ada lima karakteristik utama yang menjelaskan bagaimana child grooming berlangsung.
Pertama, prosesnya tidak instan. Alih-alih terjadi dalam satu atau dua percakapan singkat, prosesnya berjalan perlahan, bertahap, dan penuh perencanaan.
Pelaku dengan sabar membangun kedekatan, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya si anak merasa nyaman tanpa sadar bahwa dirinya sedang diarahkan.
Kedua, pelaku akan membangun kepercayaan, bukan hanya dari anak, tetapi juga dari lingkungan di sekitarnya.
Ketiga, ada manipulasi emosional yang sangat kuat. Pelaku biasanya menargetkan anak-anak yang berada dalam kondisi emosional tertentu, misalnya yang merasa kurang diperhatikan, sedang mencari jati diri, atau membutuhkan pengakuan.
Melalui pendekatan yang terkesan hangat, pelaku membuat anak merasa dihargai, istimewa, dan aman, sesuatu yang mungkin tidak selalu mereka dapatkan sebelumnya.
Keempat, child grooming bisa terjadi di mana saja, baik secara langsung (luring), secara online (daring), atau kombinasi keduanya.
Di era digital, ruang-ruang seperti media sosial bahkan permainan daring menjadi titik rawan yang sering dianggap “aman”. Padahal, di sanalah percakapan-percakapan manipulatif bisa dimulai.
"Dan yang nomor lima pasti tujuannya eksploitasi, terutama eksploitasi seksual dengan dengan beberapa proses tahapan. Tujuan akhirnya pasti eksploitasi seksual pada anak. Ini sebenarnya meningkat pesat dengan akses internet dan media sosial dengan berbagai platform baru yang muncul," terang dokter Ariani.
Banyak Korban Child Grooming Tidak Sadar Dirinya Korban
Yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah kenyataan bahwa banyak kasus tidak dilaporkan. Salah satu kemungkinannya adalah karena korban tidak sadar bahwa dirinya korban.
"Korban tidak menyadari bahwa mereka menjadi korban. Setelah beberapa tahun kemudian saat si anak sudah dewasa baru merasakan. Kok aku pernah merasakan seperti ini. Jadi sebenarnya, grooming ini tahap awal sebelum kekerasan seksual pada anak," sebut dokter Ariani.
Dampaknya pun tidak berhenti pada saat kejadian. Secara jangka pendek, lanjut dokter Ariani, anak bisa mengalami kebingungan emosional. Namun, dalam jangka panjang, dampaknya bisa menyentuh aspek yang lebih dalam, termasuk kesehatan mental dan perkembangan otak.
Otak anak masih dalam tahap berkembang. Pengalaman traumatis seperti ini dapat mengganggu proses tumbuh kembang mereka secara keseluruhan.
Dokter Ariani menyebutkan, betapa sistematis dan terstrukturnya proses child grooming, bahkan bisa dipetakan dalam tahapan yang jelas. Pelaku tidak bergerak secara acak. Mereka berpegang pada pola. bekerja dengan pola.
Apa Saja Tahapan Child Grooming?
Tahap awal dimulai dari proses "targeting the child".
Pada tahap ini, pelaku akan menarget anak-anak yang kira-kira bisa jadi korban sasarannya, seperti anak yang terlihat merasa kesepian, kurang percaya diri, atau rumah tangganya yang tidak stabil dan orang tua jarang ada di rumah.
"Pada anak-anak remaja di fase remaja juga terjadi fase aktualisasi diri, rasa ingin dipuji, rasa ingin dihargai, rasa ingin diistimewakan. Jadi, sebenarnya tidak menutup kemungkinan anak yang baik-baik saja itu bisa juga sebagai target," terang dokter Ariani.
Setelah itu, pelaku mulai membangun kepercayaan atau "gaining trust". Tidak hanya kepada anak, tetapi juga kepada orang tua atau lingkungan sekitarnya. Mereka bisa tampil sebagai sosok yang membantu, peduli, bahkan “solutif", sehingga kehadirannya tidak menimbulkan kecurigaan.
Tahap selanjutnya "fulfilling a need", memenuhi kebutuhan anak. Di sinilah manipulasi menjadi semakin halus. Pelaku memberikan perhatian, hadiah, atau dukungan emosional yang membuat dirinya terasa penting dalam kehidupan anak. Anak mulai merasa dimengerti, mungkin lebih dari siapa pun sebelumnya.
Lalu, perlahan terjadi isolasi. Anak mulai menjauh dari lingkungan terdekatnya, baik secara emosional maupun sosial. Pelaku bisa menjadi satu-satunya tempat anak merasa nyaman, sehingga ketergantungan mulai terbentuk.
Tahap yang paling mengkhawatirkan adalah ketika hubungan mulai “digeser” ke arah seksual ("sexualizing the relationship"). Kejadiannya tidak tiba-tiba, karena berlangsung melalui proses normalisasi, misalnya melalui sentuhan yang awalnya kelihatan biasa saja, atau percakapan yang perlahan berubah arah.
Terakhir, "maintaning control", pelaku mempertahankan kontrol. Upaya ini bisa dilakukan melalui ancaman, rasa bersalah, atau berkaitan dengan rahasia yang harus dijaga bersama. Pada titik ini, anak biasanya sudah telanjur terjebak dalam relasi yang sulit keluar.
Kerentanan anak sendiri tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan. Dari sisi individu, anak dengan harga diri rendah, paparan konten yang tidak sesuai usia, atau kebutuhan afeksi yang tinggi menjadi lebih rentan.
Dari sisi keluarga, kurangnya pengawasan, hubungan yang tidak dekat, hingga konflik rumah tangga dapat membuka ruang bagi pihak luar untuk masuk.
Bahkan, dalam beberapa kasus, kerentanan keluarga secara keseluruhan, seperti tekanan ekonomi, kesibukan orang tua, atau minimnya dukungan sosial, menjadi celah bagi pelaku untuk membangun relasi.
Yang mungkin paling mengusik adalah kenyataan bahwa pelaku tidak selalu orang asing. Mereka bisa siapa saja saudara, tetaangga, tenaga profesional, bahkan individu yang dipercaya oleh keluarga.
"Kerabat, teman, keluarga, orang asing, siapa pun, dan di mana pun itu, sebenarnya tidak ada tempat yang aman bagi si anak. Pun, di sekolah, di tempat les, tempat ibadah, guru kadang kadang juga bisa menjadi pelaku. Bisa daring dan tatap muka, biasanya pelaku mencari cara untuk mengenal si anak dan keluarganya. Pelaku biasanya berpura-pura menjadi anak seusianya atau figur selebriti. Jadi, pakai foto yang palsu, identitas yang palsu. Akhirnya, secara daring. Ini si anak teperdaya," kata dokter Ariani.
Bagaimana Ciri-Ciri Anak Korban Grooming?
Korban child grooming acap kali tidak menunjukkan tanda-tanda. Namun, ada perubahan-perubahan kecil yang patut diperhatikan.
Anak mungkin menjadi lebih tertutup, terlihat menyimpan rahasia, atau menunjukkan perubahan emosi seperti cemas, mudah marah, atau murung. Dalam beberapa kasus, anak juga bisa menunjukkan pemahaman atau perilaku yang tidak sesuai dengan usianya.
Perubahan sosial juga menjadi sinyal penting. Anak bisa mulai menjauh dari keluarga, mengurangi interaksi dengan teman, atau justru memiliki kedekatan yang tidak wajar dengan seseorang yang jauh lebih tua.
Selain itu, hal-hal seperti menerima hadiah tanpa alasan jelas atau intens berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal bisa menjadi tanda peringatan.
Di titik ini, refleksi kita kembali mengarah pada hal yang sederhana tapi krusial, yaitu kepekaan.
Apa kita sudah cukup peka melihat perubahan kecil pada anak? Apa kita sudah jadi orang tua yang hadir untuk menyadari ketika sesuatu mulai bergeser pada keseharian anak?
Tindakan yang Harus Dilakukan Jika Anak Jadi Korban
Saat kejahatan ini mulai dicurigai dan terungkap, respons orang dewasa di sekitar anak menjadi penentu yang sangat krusial.
Pertama, usahakan tetap tenang. Reaksi emosional yang berlebihan, seperti marah atau panik, bisa membuat anak semakin takut untuk terbuka. Anak perlu melihat bahwa orang dewasa di sekitarnya adalah tempat yang aman, bukan tempat yang menghakimi.
Kedua, percaya pada anak. Meskipun cerita mereka mungkin terdengar tidak masuk akal atau membingungkan, penting untuk memahami bahwa anak memproses pengalaman dengan cara yang berbeda. Rasa percaya ini menjadi fondasi agar anak berani terus bercerita.
Di saat yang sama, anak perlu diyakinkan bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahan mereka.
Banyak korban child grooming membawa rasa bersalah yang tidak seharusnya mereka tanggung. Orang tua dan pendamping berperan penting dalam mengembalikan rasa aman sekaligus harga diri anak.
Memberikan dukungan emosional juga menjadi kunci. Anak membutuhkan rasa dicintai, diterima, dan dilindungi, baik melalui kata-kata lembut dan kehadiran orang tua yang konsisten.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan, psikolog, konselor, guru, hingga aparat berwenang menjadi bagian dari langkah yang perlu dipertimbangkan sebagai upaya untuk memastikan bahwa pemulihan anak berjalan dengan baik.
Selain itu, ada tanggung jawab yang lebih luas ketika kita sebagai orang tua, keluarga, atau lingkungan mulai melihat tanda-tanda yang mengarah pada child grooming.
Kewaspadaan memang penting. Di satu sisi, insting waspada tersebut tidak boleh berubah menjadi kecurigaan yang membabi buta.
Gunakan insting kewaspadaan untuk mencari informasi lebih lanjut dari lingkungan sekitar dan secara perlahan membuka percakapan dengan anak, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana, “Kamu nyaman nggak sama orang itu? Apa ada sesuatu yang bikin kamu nggak enak ketika mengunjungi orang itu?”
Tidak perlu mengajukan pertanyaan yang terlalu menjurus atau mengarah pada penghakiman. Fokuskan pada upaya menciptakan ruang agar anak merasa aman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jujur.
Sebagai orang dewasa, kita cenderung fokus melindungi anak dari ancaman yang terlihat, lingkungan yang berbahaya, orang asing, atau situasi mencurigakan.
"Jadi, kesimpulannya adalah child grooming ini sebenarnya hidden. Ya, sebuah ancaman yang tersembunyi, kadang tidak disadari oleh korban dan orang tuanya karena dia bersifat manipulatif. Sayangnya, dampaknya jangka panjang sehingga harus dideteksi secara dini. Penanganannya juga harus multi disiplin berbasis keluarga dan komunitas dan didukung oleh kebijakan nasional," tukas dokter Ariani.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, seperti telah dijelaskan sebelumnya oleh dokter Piprim di atas, perlindungan terbaik yang bisa kita berikan pada anak adalah dengan menjadi tempat pulang yang paling aman bagi mereka.
Simak juga artikel lainnya seputar child grooming di sini.
Editor: Sekar Kinasih