Menuju konten utama
Diskusi dengan dr. Rizni #4

Anak Mau Jadi Dokter: Bagaimana Jika Belum Lolos PTN Kedokteran?

Alternatif berkuliah di kampus swasta membutuhkan biaya lebih besar, di satu sisi niat dan kemampuan anak sangat kuat. Apa yang bisa dilakukan orang tua?

Anak Mau Jadi Dokter: Bagaimana Jika Belum Lolos PTN Kedokteran?
Header Diajeng Seri Anak Mau Jadi Dokter. tirto.id/Quita

diajeng.id - Artikel ini adalah bagian keempat dari Serial Diskusi dengan dr. Rizni yang membahas topik "Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Bercita-Cita Menjadi Dokter", cek artikel ketiga "Anak Mau Jadi Dokter: Biaya Pendidikan untuk Dipertimbangkan".

Di balik dukungan luar biasa orang tua dan kesiapan anak untuk meraih cita-citanya sebagai dokter, tentu akan ada tantangan dalam prosesnya.

Salah satunya, bagaimana jika anak tidak lolos ujian masuk kedokteran di perguruan tinggi negeri, sementara biaya di perguruan tinggi swasta terasa berat? Haruskah orang tua tetap memaksakan, bahkan hingga berutang untuk memenuhi komponen pembiayaannya?

Menurut dr. Rizni Fitriana, M.Biomed, keputusan ini tidak bisa disamaratakan karena harus dikembalikan pada kondisi masing-masing keluarga. Kunci utamanya adalah diskusi yang matang antara orang tua dan anak, dengan dasar saling pengertian.

Anak perlu memahami keterbatasan orang tua, pada waktu sama orang tua juga perlu memahami seberapa besar kesungguhan dan passion anak di bidang kedokteran. Ada dua hal penting yang perlu dipastikan terlebih dahulu, kata dr. Rizni.

"Yang harus terpenuhi adalah passion anak, harus benar-benar di kedokteran. Kemudian, yang kedua harus terpenuhi, adalah secara kemampuan anak ini memang mampu. Kalau dua hal ini bisa terpenuhi, maka memang masalah finansial itu menjadi masalah eksternal. Itu kembali lagi ke orang tua bagaimana cara mengusahakan untuk anaknya dan sejauh apa orang tua berharap hasilnya. Jadi sebaiknya jangan sampai orang tua berpikir bahwa anak berutang kepada orang tua," ujar dr. Rizni.

Jadi, lanjutnya, orang tua harus menilai sejauh apakah dia akan rela dan tulus memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Terkait keputusan untuk mengambil pinjaman pendidikan, hal ini kata dr. Rizni, juga harus dipikirkan dengan sangat matang.

Orang tua perlu mempertimbangkan kesiapan seluruh keluarga, karena konsekuensinya bukan hanya cicilan, tetapi juga perubahan kondisi finansial rumah tangga. Penting untuk memastikan bahwa keputusan tersebut tidak menjadi beban emosional bagi anak, misalnya dengan mengungkit pengorbanan di kemudian hari.

Selain itu, komunikasi dalam keluarga harus terbuka, termasuk kepada saudara kandung. Hal ini penting untuk mencegah munculnya rasa iri atau konflik akibat perbedaan kesempatan pendidikan. Dalam situasi seperti ini, dukungan dan pemahaman dari seluruh anggota keluarga menjadi sangat krusial.

Sebagai alternatif, mengambil waktu tambahan atau gap year bisa menjadi pilihan yang masuk akal. Anak dapat mempersiapkan diri lebih matang untuk masuk ke perguruan tinggi negeri melalui jalur yang lebih terjangkau.

Menurut dr. Rizni, penundaan adalah bagian dari proses, alih-alih kegagalan. Sepanjang waktu tersebut dimanfaatkan dengan baik untuk belajar dan berkembang, kesempatan tersebut akan menjadi bekal berharga di masa depan.

Langkah gap year tersebut diambil oleh dr. Rizni, yang memutuskan berkuliah di jurusan Biologi sebagai strategi untuk memperkuat dasar keilmuan sebelum kembali mencoba masuk ke sekolah kedokteran.

"Nah, bisa disampaikan kepada anak bahwa mungkin kita butuh waktu ekstra untuk mengumpulkan dananya dan anak juga butuh waktu tambahan untuk belajar lagi. It's okay karena gap year sekarang bukan hal tabu. Gap year bisa dipertimbangkan untuk membantu meraih cita-cita. Itu hanya penundaan sementara, dan selama penundaan itu pun kita belajar," jelas dr. Rizni.

Ada pelajaran yang didapatkan dari proses tersebut, yaitu menjadi lebih sabar sekaligus memiliki kesempatan untuk belajar ilmu lain yang tetap relevan dengan cita-cita studi kedokteran.

Yang terpenting, setiap keputusan diambil dengan kesadaran, kesiapan, dan komunikasi yang sehat dalam keluarga, agar perjalanan menuju cita-cita tetap menjadi proses yang membangun, bukan membebani.

Nantikan artikel selanjutnya berisi saran-saran praktis dari dr. Rizni untuk orang tua yang ingin mendukung cita-cita anaknya jadi dokter!

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih