Menuju konten utama

Bangun Fondasi Literasi dan Karakter Anak dengan Storytelling

"Anak yang terbiasa mendengar cerita cenderung memiliki kosa kata lebih banyak, kemampuan berbahasa lebih baik, dan daya imajinasi yang lebih berkembang."

Bangun Fondasi Literasi dan Karakter Anak dengan Storytelling
Header DIajeng Mendongeng untuk Anak. foto/istockphoto

diajeng.id - Storytelling atau mendongeng mungkin kerap dipandang sebelah mata sebagai kegiatan menghibur anak sebelum tidur.

Padahal, di balik cerita-cerita fiktif yang terkesan sederhana tersebut, terdapat banyak manfaat besar bagi perkembangan anak, mulai dari membangun kedekatan emosional anak, memupuk rasa empati, hingga menumbuhkan kemampuan literasi sejak dini.

Dalam webinar tentang pentingnya storytelling dalam keluarga, Selasa (12/5/2026), storyteller Mochamad Ariyo Faridh Zidni menjelaskan bahwa momen mendongeng adalah “keajaiban kecil” pada anak.

Anak-anak biasanya menjadi antusias, matanya berbinar-binar, ingin mendengar cerita lebih lama, bahkan mulai banyak bertanya setelah dongeng selesai.

"Nah, itu adalah salah satu keajaiban-keajaiban yang bisa terjadi setelah kegiatan mendongeng itu selesai. Dan akan sangat baik sekali kalau misalnya kita menanggapi itu semua," ujar Ariyo.

Meski begit, pertanyaan-pertanyaan dari anak juga tidak selalu harus langsung dijawab oleh orang tua.

"Yang paling bagus adalah kita bisa memfasilitasi anak untuk terus memiliki banyak rasa ingin tahu itu, terus mengungkapkan pertanyaan atau pikiran mereka, kemudian kita memfasilitasi mereka untuk mencari tahu," ucap Ariyo.

Menurut Ariyo, anak bisa diajak mencari jawaban bersama, misalnya melalui buku, perpustakaan, atau sumber belajar lainnya. Dengan begitu, storytelling tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana belajar dan membangun kebiasaan berpikir kritis.

"Itu salah satu caranya. Misalnya, kita tanya pustakawannya yuk, kita googling yuk, begitu. Jadi, bagaimana caranya tidak kalah dengan perkembangan teknologi adalah dengan memahami mereka dan membuat mereka jadi teman. Jadi, mempergunakan dan memanfaatkan mereka sebisa mungkin untuk memudahkan kehidupan kita tentunya," jelas Ariyo.

Ariyo juga menyoroti pentingnya interaksi langsung antara orang tua dan anak di tengah perkembangan teknologi saat ini.

Gawai dan media sosial memang tidak bisa dihindari. Pada waktu sama, kehangatan hubungan manusia tetap tidak tergantikan, terutama bagi anak-anak yang sedang berkembang secara emosional dan intelektual.

Dalam pemaparannya, Ariyo menjelaskan bahwa kita perlu meluangkan waktu secara khusus untuk mendongeng, alih-alih menunggu waktu luang untuk datang.

Kegiatan santai seperti menemani anak sebelum tidur, mengobrol, atau membacakan cerita selama beberapa menit dapat menjadi rutinitas yang membangun kedekatan keluarga.

Menariknya, Ariyo juga membagikan hasil pengalamannya bahwa setiap orang tua memiliki cara berbeda dalam mendongeng. Ayah biasanya lebih spontan dan penuh candaan, sementara ibu cenderung lebih nyaman membacakan buku cerita.

"Kalau sama bapak itu pasti kebanyakan bercandanya dan ngarang cerita," kata Ariyo. "Beberapa detik kemudian, bapaknya sudah ngorok karena baca buku. Tapi kalau sama ibu, baca buku itu paling oke dan disuruh ngarang cerita itu paling enggak oke. Karena ibu-ibu itu enggak bisa ngarang cerita, dan ini hasil penelitian. Ternyata kedua-duanya itu tetap menyenangkan buat anak, apa pun caranya. Karena buat mereka, ketika ada orang tua hadir dan menemani, itu menyenangkan sekali."

Selain mempererat hubungan keluarga, storytelling juga membantu perkembangan bahasa dan kemampuan literasi anak.

"Anak yang terbiasa mendengar cerita cenderung memiliki kosa kata lebih banyak, kemampuan berbahasa lebih baik, dan daya imajinasi yang lebih berkembang," sebut Ariyo.

Tips Membacakan Storytelling Menyenangkan untuk Anak

Ariyo kemudian memberikan beberapa tips membacakan storytelling yang menyenangkan untuk anak.

Teknik pertama adalah dengan menggunakan media visual dan sensorik, karena anak lebih mudah memahami cerita melalui bantuan visual, seperti buku bergambar, buku bertekstur, boneka, atau benda-benda nyata. Anak juga bisa diajak menyentuh dan merasakan langsung objek yang diceritakan agar lebih mudah memproses cerita.

Kemudian orang tua bisa memilih bahasa yang sederhana.

"Bukan yang terlalu sastra banget, tapi yang kosa katanya itu mudah dipahami, kalimat-kalimatnya pendek, kemudian ada waktu jedanya. Jadi pengucapan itu tidak terlalu cepat, karena tentu mereka perlu waktu untuk benar-benar fokus mendengarkan dan mengolah itu. Nanti lama-lama kalau sudah terbiasa, waktunya juga akan bertambah," tutur Ariyo.

Tips selanjutnya dengan memerhatikan kontrol suara dan ekspresi. Intonasi, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh perlu disesuaikan dengan kondisi anak.

"Hindari suara-suara keras yang tiba-tiba yang mengejutkan. Apalagi untuk anak dengan sensitivitas sensorik tertentu, tidak berlaku yang seperti itu. Jadi cukup dengan kontrol suara dan ekspresi seperlunya," imbuhnya.

Teknik berikutnya ialah menggunakan perubahan emosi secara bertahap. Saat menunjukkan ekspresi sedih, senang, atau marah dalam cerita, lakukan perlahan agar anak bisa mengikuti perubahan emosi dengan nyaman dan tidak merasa kaget.

Lalu, kenali minat dan kebutuhan anak. Setiap anak memiliki karakter dan sensitivitas berbeda. Karena itu, orang tua perlu mencoba berbagai media dan pendekatan untuk menemukan cara storytelling yang paling disukai anak.

Selanjutnya adalah fokus pada interaksi, alih-alih kesempurnaan. Storytelling tidak harus rumit atau penuh alat peraga mahal. Dalam konteks ini, interaksi hangat antara orang tua dan anak menjadi elemen paling penting dalam kegiatan mendongeng.

"Sisanya yaitu tinggal pilihan ceritanya saja. Biasanya lebih ke cerita apa pun itu, ujung-ujungnya social story. Itu cerita-cerita yang membuat mereka untuk mengetahui sesuatu yang bisa mereka hadapi nantinya atau mempersiapkan mereka untuk sesuatu yang baru," tukas Ariyo.

Dalam kesempatan yang sama, pustakawan Linda Dwi Jayanti menambahkan bahwa budaya literasi perlu dibangun sejak dini melalui lingkungan yang dekat dengan buku dan aktivitas membaca, agar bisa menumbuhkan minat baca sejak mereka kecil.

"Storytelling itu ternyata bukan hanya bercerita biasa. Namun ternyata itu sebagai sarana untuk membangun kedekatan emosional. Kemudian juga ternyata menanamkan nilai-nilai literasi sejak dini, ini yang saya garis bawahi," papar Linda.

Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin tinggi, storytelling menjadi salah satu cara untuk menarik perhatian anak agar tetap dekat dengan buku dan cerita.

"Melalui kegiatan ini, anak dapat belajar mengenal bahasa, melatih konsentrasi, serta mengembangkan kreativitas mereka," imbuhnya.

Cerita sederhana dapat memberikan dampak besar bagi perkembangan anak. Dengan storytelling yang menyenangkan, fondasi literasi dan karakter anak dapat tumbuh sejak usia dini secara alami dan positif.

Simak juga artikel lainnya terkait mendongeng untuk anak di sini.

Baca juga artikel terkait MEMBACAKAN DONGENG atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih