Menuju konten utama

Andina Subarja: Arsitek yang Jatuh Hati pada Dunia Buku Anak

Melalui narasi sederhana dan ilustrasi penuh warna, Andina berupaya menyematkan pesan moral untuk pembaca cilik tanpa terkesan menggurui.

Andina Subarja: Arsitek yang Jatuh Hati pada Dunia Buku Anak
Penulis dan ilustrator buku anak Andina Subarja. tirto.id/Quita

diajeng.id - Tidak terbayang dalam benak Andina Subarja bahwa dirinya akan berkecimpung di dunia penerbitan buku anak.

Peraih IKAPI Awards dalam kategori Children’s Book of the Year 2023 ini dikenal dengan narasi ceritanya yang jenaka dan digemari baik oleh pembaca kanak-kanak maupun dewasa.

Dua bukunya yang telah diterbitkan adalah Kejutan Kungkang (2019) dan Gelinding (2021). Menyusul yang baru saja diluncurkan adalah buku berjudul Musik (2025).

Melalui korespondensi tertulis dengan Diajeng Tirto pada Oktober lalu, Andina berbagi cerita tentang lika-liku menjadi penulis dan ilustrator buku anak.

Sarjana arsitektur ini berkisah bagaimana teman-temannya zaman indekos dulu, kebanyakan berasal dari jurusan Desain dan Komunikasi Visual (DKV), telah berjasa memperluas wawasannya tentang warna-warni dunia desain dan ilustrasi.

Andina kelak menaruh minat pada animasi, kemudian menekuni profesi background ilustrator di sebuah studio animasi.

“Saya pikir, asalkan berada di dunia yang saya sukai, jadi apapun tidak masalah,” tutur Andina.

Namun ternyata realitasnya tidak sesimpel itu. Di balik pencapaiannya, Andina mengalami burnout.

Di tengah kelelahan mental tersebut, Andina mencoba mencari arah baru, mempelajari desain karakter game, pembuatan logo, sampai pengembangan storyboard. Sayangnya, tak satu pun dari jalan tersebut benar-benar selaras dengan panggilan hatinya.

Di balik perjalanan panjang mengeksplorasi passion, Andina sadar akan kenikmatan dalam proses bercerita atau storytelling. Nikmat ini mungkin tidak bisa dipisahkan dari kebiasaannya membaca buku sambil berdiri saat berada di toko buku.

Buku cerita anak, dengan narasi sederhana dan ilustrasi berkesan penuh warna, mulai mencuri perhatiannya. Andina pun memantapkan diri untuk membangun portofolio baru.

Seiring itu, Andina mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dalam lokakarya ilustrasi buku anak dari lembaga nirlaba eduksi anak, Room To Read. Dia juga mengikuti pelatihan menulis buku cerita anak.

“Jadi, untuk sampai di sini memang rangkaian salah jalur,” ungkap Andina.

Andina menjelaskan bahwa pemantik atau inspirasi kekaryaannya berasal dari guyonan atau adegan lucu di kepala yang ingin divisualisasikan, seperti adegan biri-biri menggelinding.

Dalam Kejutan Kungkang, yang proses pengerjaannya dimatangkan dalam proyek lokakarya Room to Read, Andina berpegang pada prinsip jenaka “kungkang memang lambat, tapi dia tidak pernah terlambat”.

Meski ideasinya terkesan sederhana, melalui karya-karyanya, Andina berupaya menjabarkan pesan yang relevan.

“Tema besar Kejutan Kungkang adalah manajemen waktu. Kungkang bisa dengan baik mengukur kecepatannya dengan jam pesta.”

Di samping itu, ia juga berusaha menyisipkan subteks atau pesan tersirat.

“Di hidup ini, kita berjalan dengan kecepatan dan juga tujuan masing-masing. Saya sering merasa tertinggal dari teman-teman lain. Kok mereka lebih maju, sedangkan saya terlihat tidak bergerak? Semoga pembaca yang merasakan keresahan sama bisa melihat dirinya juga di Kungkang,” jelasnya.

Sementara melalui Gelinding, Andina menceritakan bagaimana si Kancil dan para hewan berupaya mencari sisi baik dari hari buruk mereka.

Gelinding juga menjadi refleksi Andina atas pengalamannya saat merasa “tersesat”.

“Melihat kembali ke belakang, mungkin memang seharusnya itu terjadi, agar saya bisa berada di tempat yang sekarang. Tapi setelahnya, pasti akan merasa tersesat lagi atau jatuh kembali. Karena itu, di akhir cerita, si Kancil kembali menggelinding lagi. Ke mana? Apakah dia akan baik-baik saja? Entahlah,” lanjut Andina, yang mengaku suka cerita-cerita dengan open-ending.

Di balik karya-karyanya yang penuh makna, Andina menolak memaksakan teladan apapun pada pembaca, apalagi menggurui mereka.

Andina berargumen, selama kita berada di sekolah dan di rumah, telinga sudah dijejali dengan berbagai nasihat. Ketika membaca buku di kala santai, maka tidak sebaiknya kita digurui lagi.

Terlepas dari itu, tidak ada yang keliru dalam penyampaian moral yang blak-blakan di buku anak-anak, kata Andina.

Andina juga mengakui pentingnya menyematkan pesan-pesan terkait isu sosial dalam karya sastra anak, “Terlepas dari tujuan pesan itu mau membuat anak belajar lebih kritis atau tidak, mau pesan berat ataupun pesan ringan, semua tergantung bagaimana cara penulis atau ilustratornya bisa membungkus pesan tersebut dalam cerita.”

Dia melanjutkan, “Menurut saya, cerita yang menarik akan lebih mudah meninggalkan pesan pada pembaca, dan akan ikut tumbuh dewasa dengan mereka.”

Buku terbaru Andina, Musik, juga mengandung alegori kuat tentang keberagaman dalam hidup bermasyarakat melalui harmoni musik.

Terselip harapan agar narasi dalam buku Musik dapat membantu mengasah empati dan respek terhadap perbedaan pada para pembaca cilik.

Di tengah gempuran hiburan berbasis video yang kian memendekkan attention span kita semua, Andina optimis dengan masa depan literasi anak Indonesia.

“Berbeda dari masa kecil saya pada dekade 1980-90-an, akses terhadap buku zaman sekarang lebih mudah, ditambah dengan tema, cerita, teknik penulisan, konsep, ilustrasi lokal yang jauh lebih beragam. Wah, saya sangat iri dengan perpustakaan-perpustakaan anak zaman sekarang,” tukas Andina.

“Saya percaya, buku-buku cetak atau fisik masih punya tempat spesial di masing-masing orang. Beda rasanya membaca di layar dengan membaca buku fisik,” lanjutnya.

Jika pun akses terhadap buku fisik terbatas, buku digital juga dapat menjadi solusi yang dapat dipertimbangkan.

“Proyek seperti Literacycloud, Let’s Read, GLN, SIBI, juga banyak menyediakan buku anak yang bisa dibaca gratis di website mereka. Yang penting bisa baca,” tegasnya.

Di samping itu, Andina mengapresiasi pesatnya pertumbuhan komunitas baca buku yang konsisten mempromosikan literatur. Menurutnya, mereka berperan besar dalam memperbaiki ekosistem perbukuan anak.

Semakin banyaknya ajang penghargaan penulis dan ilustrator buku anak juga perlu disambut baik.

“Persaingan sehat bisa memacu para penulis dan ilustrator untuk membuat karya yang semakin baik dan beragam lagi. Artinya, dunia buku anak akan semakin menarik dan bergairah,” pungkas Andina.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Dhita Koesno