Menuju konten utama

Tertawa & Belajar bersama Shaqina Alfisyah Lewat Buku Anak Satir

Penulis-ilustrator yang suka berkreasi dengan meme lewat sampul buku anak berjudul nyeleneh ini percaya pentingnya peran konteks pada setiap karya kreatif.

Tertawa & Belajar bersama Shaqina Alfisyah Lewat Buku Anak Satir
Penulis dan ilustrator buku anak Shaqina Alfisyah dalam sesi masterclass Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) 2026 pada Minggu (10/5). Kredit: Sekar Kinasih/Tirto.id

diajeng.id - Penulis dan ilustrator buku anak Shaqina Alfisyah mengaku tertarik untuk berkarier dunia kreatif setelah terkesan dengan besarnya bayaran yang diterima pembuat sketsa.

Sejak duduk di SMA pada zaman COVID-19, Shaqina sudah gemar membuat ilustrasi. Kemampuan itu kemudian diasah melalui kegiatan les menggambar, sampai akhirnya muncul tawaran kerja sebagai colorist di studio tempatnya mengikuti kursus.

Namun, begitu mengetahui upah pembuat sketsa lebih besar (dua hari kerja bisa mencapai Rp1,5 juta), tekad Shaqina jadi semakin bulat untuk belajar lebih serius di Program Studi Desain Komunikasi Visual, ISI Yogyakarta.

Di luar perkuliahan di kampus, Shaqina rajin mengikuti berbagai pelatihan ilustrasi digital, tradisional, kolase, sampai pop-up sebagai upaya untuk mengenali sebanyak-banyaknya teknik ilustrasi dan seni desain.

Setelah lulus kuliah dan merasa cukup menguasai teknik sketsa, Shaqina pun kembali mendatangi studio yang dulu menawarkan upah tinggi untuk profesi pembuat sketsa.

Alih-alih sambutan hangat, yang diterimanya adalah jawaban mengecewakan.

“Wah, kamu terlambat, Shaqina. Sekarang tim sketsa sudah tidak ada. Sekarang pakai AI.”

Tak berapa lama, guru les yang dulu menginspirasi Shaqina untuk menggambar juga menyarankannya agar tidak bekerja sebagai freelance karena pada kondisi sekarang cukup susah mendapatkan proyek baru, termasuk bagi ilustrator senior.

“Aku bingung. Aku makan dari mana? Baru lulus pula,” tutur Shaqina tentang awal mula perjalanannnya di dunia penerbitan artistik dalam sesi masterclass Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) 2026 pada Minggu (10/5).

“Buat apa aku kuliah bertahun-tahun kalau begini jadinya?” batin Shaqina lagi.

Sembari memproses banyak hal, Shaqina terus mencoba mengunggah hasil kreasi gambarnya di akun Instagram.

Namun, setiap dia mengunggah ilustrasi baru, pengikutnya berkurang. Sampai masuklah sebuah DM dari sosok misterius yang bilang, “Gambarmu nggak beres-beres.”

“Ini orang benci banget sama gambarku, atau gimana, ya?” ujar Shaqina sambil tertawa.

Setelah mengeksplorasi ragam bentuk kreasi gambar, Shaqina akhirnya paham bahwa yang membuat orang tertarik pada suatu karya kreatif adalah konteks.

“Aku suka satir, aku suka meme, aku suka buku anak. Jadi aku satukan semuanya, dan akhirnya menemukan sebuah formula: buku anak satir,” tutur Shaqina tentang awal mula muncul ideasi untuk menerbitkan buku bergambar dengan tema-tema nyeleneh.

Shaqina telah menerbitkan beberapa karya buku bergambar anak secara mandiri dengan judul Breaking Bad For Babies + Plus Recipe, My First Activity Book: Aku Bisa Pasang Kopling Supra, dan A Short Biography: Karl Marx.

Semua buku dijual lewat pemesanan langsung alih-alih melalui e-commerce. Masing-masing sudah melalui proses cetak berkali-kali karena tingginya minat pembeli.

Seiring itu, Shaqina terus berefleksi. Karya-karya unik yang dihasilkan itu semua pada dasarnya berangkat dari keresahan Shaqina lantaran naskah-naskahnya yang dibuat dengan tema-tema pakem dan “aman”, seperti tentang menghormati orang tua dan norma kesopanan, justru sering ditolak oleh para penerbit.

Maka dari itu, Shaqina berinisiatif menerbitkan sendiri karya artistik yang temanya “aneh.”

“Yang tergaet oleh buku ini bukan kalangan yang suka buku anak, tapi orang-orang yang mungkin tidak pernah baca atau pegang buku anak. Mereka jadi tahu, ternyata buku anak—picture book—itu asyik, ya!”

Shaqina Alfisyah

Salah satu buku karya penulis dan ilustrator Shaqina Alfisyah yang ditunjukkan sesi masterclass Yogyakarta Art Book Fair (YKABF) 2026 pada Minggu (10/5). Kredit: Sekar Kinasih/Tirto.id

Selain menerbitkan buku cerita bergambar anak, Shaqina juga dikenal dengan kreasi meme satir melalui sampul buku yang berjudul nyeleneh. Teks judul dan ilustrasinya yang warna-warni dicetak sedemikian rupa di atas kertas karton tebal sehingga terlihat menyerupai publikasi buku anak yang otentik.

Shaqina kemudian mengunggah foto-foto sampul buku berjudul nyeleneh tersebut di akun Instagram, yang kelak mendulang popularitas di kalangan pengguna media sosial sebagai meme.

Salah satu sampul buku untuk serial “For Babies” yang dibuatnya, My First Activity Book: I Can Write my Own CV, diunggah dengan berkolaborasi bersama platform komunitas meme global 9gag pada Januari lalu.

Meme ini jadi materi satir yang pas untuk menertawakan realitas mendunia tentang sengitnya kompetisi di pasar kerja hari ini sampai-sampai bayi pun perlu diajari membuat CV.

Meme sampul buku lainnya yang Shaqina kreasikan dalam serial “For Babies” meliputi tutorial coding C++, cara membuat cocktail, strategi lulus UTBK, kumpulan soal TKA CPNS, seri pengantar tentang profil Nietzsche, ilmu filsafat, penyelewengan pajak, sampai kapitalisme.

Selain menyinggung tema-tema edukasi seperti di atas, Shaqina juga menunjukkan kepekaannya dalam merespons isu-isu sosial sehari-hari masyarakat Indonesia melalui karyanya.

Beberapa waktu lalu ketika jagat media sosial diramaikan dengan kasus penumpang KAI Commuter yang kehilangan tumbler, Shaqina menanggapi dengan sampul buku jenaka berjudul Kisah Inspiratif: Tumblr yang Hilang (+ Free Tumblr).

Ketika publik dikecewakan dengan kebijakan pemerintah yang kacau saat penanganan bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 lalu, Shaqina berkreasi dengan sampul buku berjudul Based on A True Story: Ayah Mengapa Aku WNI.

Dari meme sampul buku berjudul lucu-lucu tersebut, Shaqina berniat untuk serius mengembangkannya jadi buku cerita yang komplet.

Umumnya, tema-tema buku anak lekat dengan harapan orang tua. Dengan membaca buku tersebut, anak diharapkan jadi sosok baik hati yang patuh dan bisa diteladani banyak orang.

Namun, Shaqina kurang setuju dengan narasi yang seperti ceramah demikian karena berpotensi menjadikan anak-anak sebagai objek yang kaku, “Seperti orang dewasa, tapi bentuknya kecil.”

Shaqina merasa lebih nyaman menciptakan karakter yang bisa berbuat salah, cacat, tidak sempurna, karena itulah esensi menjadi manusia yang dinamis dan berkembang.

Selain itu, menurut Shaqina, buku anak itu tidak selalu tentang tokoh atau karakter anak-anak.

“Yang penting, konteksnya bisa ditangkap anak, itu saja. Mau karakternya dewasa, sudah tua, binatang, apa pun itu, yang penting bisa dimengerti anak-anak,” tandasnya.

Shaqina berpesan kepada siapa pun yang terinspirasi membuat buku cerita anak agar segera memulainya, “Ketika aku bikin karya, hal yang paling kutakutkan bukan salah, tapi takut di-judge oleh orang lain. Aku ingin kita semua berani berkarya.”

“Banyak-banyak ikut les atau tutorial. Tutorial paling efektif untuk menulis buku anak ya tuliskan saja, mau sejelek apa pun hasilnya. Yang penting, tulis dulu!” pungkas Shaqina.

Baca juga artikel terkait BUKU CERITA ANAK atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Dwi Ayuningtyas