Menuju konten utama

Apa Itu Rebound Relationship? Kenali Tanda dan Dampaknya

Apakah rebound relationship benar-benar dapat membantu proses pemulihan emosional di hati? Simak penjelasannya di artikel ini.

Apa Itu Rebound Relationship? Kenali Tanda dan Dampaknya
Ilustrasi jatuh cinta lagi. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Menjalin hubungan asmara yang baru dengan seseorang yang juga baru setelah tak lama putus cinta dari kekasih mungkin pernah dialami beberapa orang dalam hidupnya. Dalam dunia kencan modern, orang tersebut bisa saja mengalami "rebound relationship".

Istilah rebound relationship ditujukan kepada orang yang baru saja mengalami perpisahan, lalu demi mengatasi kesedihan dan kesepiannya, ia dengan segera mencari pasangan baru demi mengembalikan rasa percaya dirinya. Namun, apakah hubungan ini benar-benar dapat membantu proses pemulihan emosional di hati?

Apa Itu Rebound Relationship?

Rebound relationship adalah hubungan romantis yang dimulai ketika seseorang belum sepenuhnya pulih dari hubungan sebelumnya.

Menurut Verywell Mind, hubungan ini dapat menjadi cara untuk mencari kenyamanan emosional setelah putus cinta, meskipun perasaan terhadap mantan pasangan masih belum terselesaikan.

Hubungan tersebut memang tidak selalu berakhir buruk. Tapi waktu yang singkat antara perpisahan dan hubungan baru bukan satu-satunya penentu. Hal yang perlu diperhatikan adalah alasan seseorang memulai hubungan dan apakah ia benar-benar siap membangun koneksi baru.

Ciri-Ciri Rebound Relationship

Untuk mengenali hubungan yang sedang dijalani apakah benar-benar rebound relationship, beberapa tanda yang bisa dicermati akan Diajeng bahas berikut ini.

Tanda atau ciri pertama, seperti dijelaskan laman Choosing Therapy, hubungan baru dimulai tidak lama setelah perpisahan. Kemudian, saat bersama dengan pasangan barunya, ia masih sering membicarakan atau membandingkan mantannya dan kekasih yang sekarang.

Lalu tanda ketiga, hubungan akan berkembang lebih cepat dari perkiraan, baik dari sisi kedekatan emosional maupun komitmen.

Selain itu, tanda yang perlu dicermati adalah, orang tersebut mungkin terlihat sangat antusias pada awal hubungan, tetapi kemudian mulai menjauh ketika harus menghadapi perasaan yang belum selesai.

Meski demikian, ciri-ciri tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa suatu hubungan merupakan rebound relationship. Jadi, penting untuk melihat pola perilaku dan komunikasi kedua pihak secara menyeluruh.

Alasan Seseorang Menjalani Rebound Relationship

Mengapa seseorang memilih hubungan baru setelah putus cinta? Salah satu alasannya adalah kesepian dan ada keinginan kuat untuk kembali merasa dicintai. Ada pula yang mencari validasi, ingin membuktikan bahwa dirinya masih menarik, atau berusaha membuat mantan pasangan cemburu.

Dalam situasi tertentu, pasangan baru menjadi tempat pelarian dari kesedihan dan proses berduka. Hubungan tersebut dapat memberikan kebahagiaan sementara, tetapi berisiko membuat seseorang menghindari emosi yang sebenarnya perlu dipahami dan diproses.

Dampak Rebound Relationship bagi Kedua Pihak

Bagi orang yang baru putus cinta, rebound relationship dapat membantu memulihkan kepercayaan diri dan membuka kesempatan untuk membangun koneksi baru. Namun, jika dijadikan pelampiasan, hubungan ini bisa menghambat proses pemulihan emosional.

Sementara itu, pasangan baru berisiko merasa tidak dihargai, bingung, atau sekadar menjadi pengganti mantan. Ketidakseimbangan perasaan dan harapan dapat memicu konflik, terutama ketika satu pihak menginginkan komitmen serius, sedangkan pihak lainnya belum siap.

Situs Bonobology juga menjelaskan bahwa hubungan rebound dapat melalui fase ketertarikan, kedekatan, perbandingan dengan mantan, hingga kekecewaan. Namun, tahapan tersebut bukan pola yang pasti dialami setiap pasangan.

Cara Menyikapi Rebound Relationship dengan Bijak

Langkah pertama untuk menyikapi hal ini adalah, wajib mengenali perasaan dan motivasi diri sebelum memulai hubungan baru. Beri diri sendiri waktu untuk menerima perpisahan, tanpa harus mengikuti batas waktu tertentu.

Jika sudah menjalin hubungan, komunikasikan kebutuhan, perasaan, dan harapan secara jujur kepada pasangan.

Hindari menjadikan orang lain sebagai alat untuk melupakan mantan atau membalas rasa sakit. Jika hubungan terasa membingungkan, mengambil jeda untuk mengevaluasi perasaan bisa menjadi pilihan yang sehat.

Pada akhirnya, *rebound relationship* tidak selalu berarti hubungan yang gagal. Dengan kesadaran diri, komunikasi terbuka, dan niat yang jelas, hubungan baru tetap berpeluang berkembang menjadi koneksi yang sehat dan bermakna.

Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih