diajeng.id - Menjalin hubungan asmara yang baru dengan seseorang yang juga baru setelah tak lama putus cinta dari kekasih mungkin pernah dialami beberapa orang dalam hidupnya. Dalam dunia kencan modern, orang tersebut bisa saja mengalami "rebound relationship".
Istilah rebound relationship ditujukan kepada orang yang baru saja mengalami perpisahan, lalu demi mengatasi kesedihan dan kesepiannya, ia dengan segera mencari pasangan baru demi mengembalikan rasa percaya dirinya. Namun, apakah hubungan ini benar-benar dapat membantu proses pemulihan emosional di hati?
Apa Itu Rebound Relationship?
Rebound relationship adalah hubungan romantis yang dimulai ketika seseorang belum sepenuhnya pulih dari hubungan sebelumnya.
Menurut Verywell Mind, hubungan ini dapat menjadi cara untuk mencari kenyamanan emosional setelah putus cinta, meskipun perasaan terhadap mantan pasangan masih belum terselesaikan.
Ciri-Ciri Rebound Relationship
Untuk mengenali hubungan yang sedang dijalani apakah benar-benar rebound relationship, beberapa tanda yang bisa dicermati akan Diajeng bahas berikut ini.
Tanda atau ciri pertama, seperti dijelaskan laman Choosing Therapy, hubungan baru dimulai tidak lama setelah perpisahan. Kemudian, saat bersama dengan pasangan barunya, ia masih sering membicarakan atau membandingkan mantannya dan kekasih yang sekarang.
Lalu tanda ketiga, hubungan akan berkembang lebih cepat dari perkiraan, baik dari sisi kedekatan emosional maupun komitmen.
Selain itu, tanda yang perlu dicermati adalah, orang tersebut mungkin terlihat sangat antusias pada awal hubungan, tetapi kemudian mulai menjauh ketika harus menghadapi perasaan yang belum selesai.
Meski demikian, ciri-ciri tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa suatu hubungan merupakan rebound relationship. Jadi, penting untuk melihat pola perilaku dan komunikasi kedua pihak secara menyeluruh.
Alasan Seseorang Menjalani Rebound Relationship
Mengapa seseorang memilih hubungan baru setelah putus cinta? Salah satu alasannya adalah kesepian dan ada keinginan kuat untuk kembali merasa dicintai. Ada pula yang mencari validasi, ingin membuktikan bahwa dirinya masih menarik, atau berusaha membuat mantan pasangan cemburu.
Dalam situasi tertentu, pasangan baru menjadi tempat pelarian dari kesedihan dan proses berduka. Hubungan tersebut dapat memberikan kebahagiaan sementara, tetapi berisiko membuat seseorang menghindari emosi yang sebenarnya perlu dipahami dan diproses.
Dampak Rebound Relationship bagi Kedua Pihak
Sementara itu, pasangan baru berisiko merasa tidak dihargai, bingung, atau sekadar menjadi pengganti mantan. Ketidakseimbangan perasaan dan harapan dapat memicu konflik, terutama ketika satu pihak menginginkan komitmen serius, sedangkan pihak lainnya belum siap.
Situs Bonobology juga menjelaskan bahwa hubungan rebound dapat melalui fase ketertarikan, kedekatan, perbandingan dengan mantan, hingga kekecewaan. Namun, tahapan tersebut bukan pola yang pasti dialami setiap pasangan.
Cara Menyikapi Rebound Relationship dengan Bijak
Langkah pertama untuk menyikapi hal ini adalah, wajib mengenali perasaan dan motivasi diri sebelum memulai hubungan baru. Beri diri sendiri waktu untuk menerima perpisahan, tanpa harus mengikuti batas waktu tertentu.
Jika sudah menjalin hubungan, komunikasikan kebutuhan, perasaan, dan harapan secara jujur kepada pasangan.
Pada akhirnya, *rebound relationship* tidak selalu berarti hubungan yang gagal. Dengan kesadaran diri, komunikasi terbuka, dan niat yang jelas, hubungan baru tetap berpeluang berkembang menjadi koneksi yang sehat dan bermakna.
Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih