Menuju konten utama

Bukan Sekadar Lelucon: Menyikapi Seksisme di Kantor

Kolega yang melakukan seksisme harus ditegur, disadarkan, dan didorong untuk mengedukasi diri agar budaya kerja tetap sehat dan profesional.

Bukan Sekadar Lelucon: Menyikapi Seksisme di Kantor
Header Diajeng Guyonan Seksis di Kantor. tirto.id/Quita

diajeng.id - Mungkin kamu pernah mendengar atau melihat kolega kantor mengucapkan sesuatu atau melakukan tindakan yang merendahkan perempuan. Mirisnya, banyak orang di sekitarnya, termasuk dia sendiri, menganggap perilaku tersebut sepele atau “sekadar bercanda”.

Padahal, itulah contoh nyata seksisme yang menimbulkan kondisi tidak kondusif di tempat kerja.

Kolega yang jadi objek "bercanda" juga akan merasa tidak nyaman dan tidak aman. Hal ini bisa berdampak pada kinerja individu maupun tim secara keseluruhan.

Menegur orang yang melakukan perilaku seksisme memang bukan hal yang mudah, tapi penting dilakukan agar budaya kerja tetap saling menghormati dan profesional.

Lalu, bagaimana cara menegur kolega yang, baik sadar atau tidak, telah melakukan seksisme di tempat kerja?

Cara Menghadapi dan Menegur Pelaku Seksisme di Tempat Kerja

Berikut adalah rangkuman Diajeng tentang cara-cara dan strategi yang bisa dilakukan untuk menegur kolega pelaku seksisme di kantor:

1. Sadari dampaknya terlebih dahulu

Dalam blog Surviving in Scrubs dijelaskan, sebelum menegur pelaku, sebaiknya pahami terlebih dahulu mengapa komentar atau perilakunya tersebut mengganggu.

Apakah ucapan atau perilakunya mencerminkan seksisme, diskriminasi, penghinaan?

Memahami alasan atau konteksnya akan mempermudah kita untuk menyampaikan keberatan dengan tenang dan jelas, alih-alih sekadar bereaksi secara emosional.

2. Pilih momen yang tepat

Memilih waktu dan tempat yang tepat adalah penting.

Usahakan berbicara secara pribadi dan di momen yang lebih tenang agar percakapan tidak memicu ketegangan atau rasa malu di depan teman kerja lainnya.

3. Gunakan bahasa yang jelas dan tidak menyudutkan

Sampaikan perasaan dengan pernyataan “aku”, misalnya, bahwa komentar tersebut membuat kita tidak nyaman, agar kolega tidak langsung bersikap defensif.

Contoh, "Aku merasa tidak nyaman ketika kamu bercanda dengan si A tentang...."

4. Jelaskan konteks dan dampak yang lebih luas

Jelaskan juga secara singkat mengapa komentar tersebut bermasalah, misalnya karena memperkuat stereotip atau membuat lingkungan kerja terasa tidak aman bagi sebagian orang.

5. Eskalasi ke atasan jika perlu

Jika perilaku berlanjut atau sudah masuk kategori serius, jangan ragu melibatkan atasan atau HR demi menjaga lingkungan kerja yang aman dan profesional.

Selain lima hal di atas, situs Rumie juga menambahkan 4 cara lain yang bisa dilakukan:

6. Hindari menuduh atau berasumsi

Jangan langsung mengasumsikan bahwa kolega sadar atau paham bahwa ucapannya seksis.

Bisa jadi mereka yang melontarkan atau berperilaku tersebut justru tidak menyadari dampak dari perilaku atau kata-katanya.

Maka dari itu, penting untuk memberikan penjelasan dan konteks mengapa perilaku atau kata-katanya bermasalah.

7. Dukung satu sama lain

Budaya saling mendukung membuat orang lebih berani bersuara. Respons kecil yang konsisten bisa memberi dampak besar bagi budaya kerja.

8. Akui dan pahami reaksi emosional diri

Wajar jika ada perasaan marah, tersinggung, atau terkejut. Karenanya, luangkan waktu sejenak untuk memahami perasaan sebelum merespons.

9. Ajukan pertanyaan untuk membuka refleksi

Pertanyaan sederhana seperti, “Apa maksud kamu?” dapat mendorong mereka berpikir ulang dan menyadari masalah dari ucapannya.

Tempat kerja seharusnya menjadi ruang yang aman dan saling menghormati.

Sayangnya, kesadaran kolektif ini tidak serta-merta menghapus praktik seksisme dalam keseharian.

Banyak orang masih mengalaminya dalam bentuk komentar, lelucon, atau perlakuan yang dianggap “biasa saja”.

Dalam menghadapi situasi tersebut, seperti dilansir laman Evolve Therapy Group, menyampaikan perasaan dan keberatan secara jelas dan tenang dapat menjadi awal perubahan.

Mengendalikan emosi dan memilih komunikasi yang dewasa sering kali lebih efektif daripada meluapkannya dalam kemarahan.

Pendekatan yang tenang juga membantu kita melihat bahwa pelaku tidak selalu “orang jahat”.

Mereka mungkin melakukan hal tersebut tanpa berpikir panjang. Maka menegur secara profesional merupakan langkah cerdas untuk menetapkan batasan, sekaligus tetap menjaga suasana kerja.

Selain itu, penting untuk berani mengatakan “tidak” terhadap pembagian peran kerja yang tidak adil.

Jika tugas-tugas tertentu terus dibebankan kepada perempuan karena asumsi berbasis gender, kamu juga berhak menolaknya dengan alasan yang masuk akal dan disampaikan secara faktual.

Menciptakan tempat kerja yang saling menghormati adalah tanggung jawab bersama.

Setiap suara, sekecil apa pun, berkontribusi pada perubahan budaya yang lebih sehat dan inklusif.

Baca artikel lainnya tentang isu seksisme di tautan ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih