Menuju konten utama

It Girl dari Masa ke Masa: Popularitas Ikon Perempuan Ideal

Konsep dan label ini melekat pada figur publik yang dianggap memiliki persona dan gaya khas, dari aktris era 1920-an Clara Bow sampai penyanyi Charli XCX.

It Girl dari Masa ke Masa: Popularitas Ikon Perempuan Ideal
Header Diajeng it girl dari masa ke massa. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Setiap kali melihat konten bertagar #itgirl berseliweran di media sosial, apa yang terlintas di benak kalian?

Sebagai sebuah konsep dan label, It Girl melekat pada figur publik seperti akrtis Hollywood, penyanyi, dan model di runway.

Popularitas perempuan yang dielu-elukan sebagai It Girl tidak diraih semata karena mereka memiliki paras menawan, tetapi juga karena gaya, kepribadian, dan pembawaan atau persona yang membuat orang lain tertarik untuk mengetahui keseharian hidupnya.

Meski begitu, It Girl tidak memiliki definisi yang kaku atau baku. Setiap dekade, kita menyaksikan pergeseran standar kecantikan, selera publik, dan budaya massa yang berpengaruh terhadap popularitas It Girl.

Terutama di era media sosial, It Girl tidak lagi terbatas pada figur publik yang mendominasi layar televisi atau majalah fesyen; karakter fiksi, kreator konten, hingga perempuan dengan estetika tertentu pun bisa dijuluki It Girl.

Dari Clara Bow hingga Dua Lipa: Siapakah It Girl pada Zamannya?

Pada esensinya, It Girl merujuk pada perempuan yang memiliki daya tarik kuat dan mampu mencuri perhatian publik dengan kekhasan dirinya. Karisma, kepercayaan diri, dan bagaimana mereka menyatu dengan kebudayaan populer pada masanya membuat sosok It Girl mudah untuk diingat.

Mengutip tulisan Tammy Lam di The Science Survey, akar dari popularitas istilah It Girl dapat ditelusuri hingga era perfilman Hollywood pada 1920-an.

Clara Bow adalah figur perempuan yang lekat dengan sejarah awal It Girl. Bow membintangi film bisu bertema komedi It (1927), yang diadaptasi dari novela karya penulis Inggris bernama Elinor Glyn. Dalam ceritanya, “It” digambarkan sebagai faktor dan kualitas pada diri perempuan yang mampu menarik perhatian orang lain melalui daya pikatnya.

Melansir BBC Culture, pesona Bow di layar lebar turut membentuk citranya sebagai ikon perempuan di masa itu. Bow dikenal melalui ekspresi yang bebas dan pembawaannya yang percaya diri; berbeda dari gambaran perempuan feminin yang submisif.

Kehadiran Clara Bow menjadi elemen tak terpisahkan dari perkembangan budaya flapper di masyarakat Eropa dan Amerika Serikat pada 1920-an; era perempuan muda mulai mengekspresikan kebebasan melalui gaya berpakaian, penampilan, dan pembawaan diri mereka. Gaya ini merupakan salah satu simbol perubahan norma tradisional feminin setelah usainya Perang Dunia I.

Pada dekade-dekade berikutnya, sosok yang dianggap sebagai It Girl terus berganti. Memasuki era 1950-an, Audrey Hepburn menjadi It Girl kesayangan publik melalui pesona elegan, muda, dan gaya minimalis yang ditampilkan di antaranya melalui film seperti Roman Holiday (1953) dan Sabrina (1954).

Berbeda dari citra Clara Bow yang lekat dengan pergerakan semangat perempuan muda di era 1920-an, Hepburn menunjukkan keanggunan yang menginspirasi dunia mode dan jejaknya masih kita temukan di jenama-jenama fesyen masa kini.

Jika Hepburn identik dengan keanggunan, Madonna menghadirkan citra yang lebih provokatif pada 1980-an. Melalui musik dan eksperimen fesyennya di atas panggung, Madonna sebagai It Girl mengekspresikan kebebasan diri dan seksualitas yang menantang norma pada masanya.

Memasuki dekade 1990-an, label It Girl semakin lekat dengan beragam figur dari dunia hiburan dan fesyen. Pamela Anderson, yang mulai dikenal luas setelah dirinya tertangkap kamera dan ditampilkan melalui jumbotron di tengah penonton pertandingan BC Lions, Vancouver pada 1989.

Tak lama kemudian, Anderson muncul di sampul majalah Playboy dan memulai karier di industri hiburan. Popularitasnya melejit melalui perannya pada serial Baywatch.

Sementara model Kate Moss didapuk sebagai It Girl melalui penampilan natural yang "mentah", minimalis, dan lebih membumi dibandingkan citra supermodel glamor yang mendominasi industri fesyen 90-an.

Di layar lebar, aktris Winona Ryder turut dipuja sebagai It Girl setelah memereankan karakter-karakter unik dalam film garapan Tim Burton yang dekat dengan estetika grunge dan horor.

Penampilan Ryder dalam film Beetlejuice (1988) dan Edward Scissorhands (1990) turut membangun persona khas yang berbeda dari kebanyakan gambaran gemerlap perempuan Hollywood pada masa itu.

Ikon It Girl tidak berhenti pada aktris dan model. Di dunia perfilman, ada pula Sofia Coppola, yang menonjol sebagai sutradara dengan pendekatan sinematiknya yang khas. Karya-karya Coppola seperti The Virgin Suicides (1999) dan Lost in Translation (2003) mengangkat diskusi tentang identitas dan pengalaman perempuan.

Memasuki era media sosial, popularitas It Girl tidak lagi sepenuhnya bergantung pada industri film, televisi, atau pun peragaan busana. Hailey Bieber, misalnya.

Salah satu figur sosialita berpengaruh di dunia kecantikan sekaligus pendiri bisnis kosmetika Rhode ini merupakan sosok yang kerap jadi topik perbincangan di medsos, mulai dari riasan makeup-nya hingga pilihan busana sehari-hari.

Kebiasannya sehari-hari di medsos bahkan tak perlu waktu lama untuk jadi tren di kalangan pengikutnya, sesimpel aktivitas menikmati sushi sambil mengenakan masker wajah.

Sementara penyanyi pop seperti Dua Lipa dan Charli XCX memperlihatkan bahwa daya tarik It Girl dapat melampaui narasi seputar kecantikan. Keduanya membangun identitas melalui musik dan keterlibatan mereka dalam budaya populer.

Dua Lipa, misalnya, selain dikenal melalui musik dan pilihan fesyennya, dia juga seorang bookworm alias pecinta buku. Kecintaannya pada dunia literasi ditunjukkan melalui klub buku pribadinya, Service95 Book Club di London dan The Manifesto Library di Porto, Portugal.

Sementara Charli XCX menciptakan tren estetika melalui album Brat (2024). Estetika album tersebut berkembang menjadi tren yang dikenal sebagai “Brat Summer”, merujuk pada gaya hidup yang membebaskan, percaya diri, sekaligus berantakan. Tren yang populer dua tahun lalu ini mengajak kawula muda untuk menerima ketidaksempurnaan diri.

Dari Clara Bow hingga Charli XCX, It Girl senantiasa mengalami perubahan dengan kekhasan masing-masing yang disambut hangat oleh khalayak. Pertanyaannya kemudian, sejauh mana ekspektasi publik terhadap perempuan ikut berperan dalam mengusung popularitas It Girl di setiap zamannya?

It Girl: Standar Sosial, Selera Pasar, dan Kontradiksi

Di satu sisi, It Girl bisa kita lihat sebagai bentuk apresiasi terhadap perempuan yang memiliki gaya khas dan kemampuan dalam memengaruhi budaya pop serta menginsipirasi banyak orang pada satu zaman.

Di sisi lain, narasi seputar It Girl mengingatkan kita bagaimana standar sosial masih berperan kuat dalam menentukan perempuan yang dianggap menarik dan layak untuk diberi spotlight.

Mengutip pendapat kolumnis Raven Smith dalam artikel opininya di Vogue, sosok It Girl kerap tampil sebagai figur yang berbeda dari kebanyakan orang, akan tetapi pada akhirnya tetap membentuk keseragaman baru. Artinya, figur yang semula menarik perhatian karena keunikannya ini berpotensi menjadi satu-satunya acuan penampilan banyak orang.

Dalam kritiknya, Smith juga menyorot bagaimana jejak jejak historis It Girl mustahil dipisahkan dari figur perempuan berkulit putih, berambut pirang dan bertubuh kurus, meski akhirnya representasi ini bergeser seiring waktu.

Masalah lainnya adalah bagaimana It Girl, baik sebagai konsep maupun label, semakin berkaitan dengan komersialisasi.

Melansir tulisan Diana Pearl di CNN Style tentang generasi It Girl terbaru, It Girl rupanya tidak selalu terbantuk secara spontan atau alamiah. Tim publisis, hingga stylist pribadi para figur yang kita elu-elukan sebagai It Girl ikut andil membangun citra yang dapat menarik perhatian media dan sponsor merek fesyen serta kecantikan.

Kontradiksi juga lekat pada sosok It Girl Modern. Schenelle Dsouza dalam tulisannya di Harper’s Bazaar mengamati bagaimana figur It Girl harus terlihat autentik dan dekat dengan audiens, tetapi pada waktu sama merepresentasikan gaya hidup yang tidak selalu dapat diakses oleh semua orang.

Menurutmu, apa narasi It Girl masih relevan di zaman yang semakin merengkuh inklusivitas dan kesadaran kuat untuk menjadi versi diri paling nyaman serta sehat?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih