diajeng.id - Mulai dari karya Agatha Christie sampai William Shakespeare dapat kita ditemukan di antara 4 ribuan koleksi buku di Foreword Library. Perpustakaan independen Foreword didirikan oleh Nishrin dan Nihlah pada tahun 2023 sebagai ruang aman nan nyaman untuk pembaca buku yang ingin mengakses literatur berkualitas.
“Mereka berdua kebetulan suka baca buku dari kecil, punya koleksi buku banyak, dan merasa kita kekurangan third space di Jakarta yang aman, nyaman untuk bertemu sama pembaca buku, dan juga orang-orang kekurangan akses untuk ke bacaan-bacaan yang berkualitas. Karena sebetulnya kami percaya kalau baca buku itu bagus, tapi bukan semua buku harus dibaca,” kata Olive, General Manager dari Foreword Library saat ditemui Diajeng Tirto di cabang Jakarta Selatan pada 9 Oktober 2026.
Foreword Library memiliki tiga cabang; Jakarta Selatan, Tangerang, dan Bandung. Foreword menawarkan fleksibilitas tinggi bagi para pembaca dengan membebaskan anggotanya untuk meminjam dan mengembalikan buku lintas cabang sesuai dengan kenyamanan mobilitas atau domisili. Sebagai contoh, kita dapat meminjam koleksi dari cabang Jakarta Selatan dan mengembalikannya dengan mudah ke cabang Tangerang.
Awalnya, koleksi buku Foreword Library hanya berisi koleksi pribadi Nishrin dan Nihlah yang berjumlah 300 buku saja. Seiring waktu, koleksi buku terus bertambah. Anggota perpustakaan pun mulai menitipkan buku sampai kemudian di tahun kedua pihak Foreword rutin melakukan pengadaan pembelian buku.
Foreword Library tidak menerima semua buku yang dititipkan atau didonasikan. Mereka punya proses kurasi yang cukup ketat.
“Karena buku-buku Foreword dikurasi. Jadi salah satu yang membedakan Foreword dari yang lain adalah benar-benar kurasinya lumayan strict dibanding perpustakaan lain,” tutur Olive.

Olive mengaku, Foreword Library bisa mendapat kiriman ratusan buku, akan tetapi hanya sebagian kecil yang akhirnya diterima. Biasanya mereka menyalurkan kembali buku-bukunya ke komunitas lain.
Rata-rata buku yang ada di Foreword Library adalah buku berbahasa Inggris dari berbagai penulis terkenal di dunia dengan macam-macam genre.
“Sesimpel orang-orang ke [toko buku independen] POST Santa, karena mereka bisa melihat, ‘Oh yang dijual di sini buku-bukunya beda sama toko-buku lain’. Nah, Foreword lumayan mirip karakteristiknya sama POST Santa,” jelas Olive.
Buku yang tidak bisa masuk ke Foreword Library adalah yang isinya bertentangan dengan nilai-nilai Foreword, seperti buku yang mengandung unsur-unsur Zionisme dan buku yang tidak mengandung semangat critical thinking (tidak mengajak pembaca berpikir kritis).
“At the same time, kami berusaha untuk bisa seinklusif mungkin, jadi berbagai macam penulis dari banyak latar belakang juga ada di sini,” lanjut Olive.

Yang Bisa Dilakukan di Foreword Library
Di Foreword Library, kita bisa datang dan membaca buku di tempat secara gratis. Jika ingin meminjam bukunya, kita bisa mendaftar sebagai anggota dengan harga mulai dari Rp50 ribu untuk keanggotaan selama satu bulan, Rp100 ribu untuk 5 bulan, dan Rp200 ribu untuk satu tahun.
Foreword Library di cabang Jaksel, tepatnya di daerah Cilandak Timur, Pasar Minggu, memiliki dua ruangan yaitu General Reading Room dan Tween dan Teens Reading Room yang bisa digunakan pengunjung untuk membaca, belajar, atau bahkan bekerja disana.
Foreword Library juga memiliki komunitas buku. Setiap hari Jumat sore mereka mengadakan acara bertajuk “Friday Findings”. Pertama kali diselenggarakan pada Januari 2025 dan dihadiri tujuh orang saja, “Firday Findings” sekarang bisa diikuti oleh 15-20 orang dalam satu kali pertemuan.
“Karena pengen bikin intimate. Soalnya Friday Findings itu diskusi bukunya bukan seperti kebanyakan yang silent reading dulu, di awal baru diskusi. Kami langsung diskusi. Jadi nggak ada silent reading session. Kalau mau silent reading, ya datang lebih awal, baca dulu sendiri,” kata Olive.
Di “Friday Findings”, tidak semua peserta harus bicara dan mempresentasikan soal bacaan mingguannya. Jika kita tidak ingin menceritakan bacaan kita, kita bisa duduk untuk mendengarkan penjelasan yang lain.

Komunitas Foreword Library
Ada urgensi tersendiri bagi Dina (28) setiap kali tuntas membaca sebuah buku. Alih-alih menyimpannya untuk diri sendiri, warga Jakarta ini merasa kisah dan wawasan di dalamnya punya potensi besar jika dibagikan.
Pencariannya akan wadah berbagi itulah yang akhirnya mengarahkan Dina pada perpustakaan. Bagi Dina, perpustakaan tak hanya menyediakan akses buku yang beragam, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan untuk menyebarkan keberdampakan lewat literasi.
“Aku merasa library adalah pintu yang tepat, karena selain aku bisa share soal buku itu, aku juga bisa dapet resource-nya, daripada aku beli buku lagi. Pas aku datang, ternyata [perpustakaannya[ curated. Jadi di situ, aku pikir, ‘Oh kayaknya ini tempat yang tepat untuk aku dapet resource-resource baru,’” tutur Dina.
Melalui komunitas yang dibangun oleh Foreword Library, Dina tidak hanya mendapat teman baru untuk berdiskusi buku tetapi juga untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain, seperti berdiskusi mengenai isu yang sedang hangat terjadi di Indonesia atau isu global, sampai teman bermain untuk olahraga atau karaoke bersama.
“Aku merasa, di sini, bertemu kawan-kawan yang sama-sama suka baca, terus juga kebetulan bacaannya setipe. Dan di sini orang-orangnya juga welcome. Jadi aku merasa di sini safe space,” kata Dina.

Kehangatan komunitas Foreword Library Dina rasakan saat dirawat di rumah sakit akibat tipes tepat di hari ulang tahunnya. Padahal, Dina sudah berencana merayakan hari bahagianya di perpustakaan tersebut.
"Ternyata aku sakit tipes, tapi justru mereka yang datang menjenguk dan tetap merayakan ulang tahunku," kenang Dina penuh haru.
General Manager Olive menjelaskan bahwa Foreword Library memiliki tujuan sederhana; mengusahakan segala macam jenis buku ada dan bisa diakses oleh semua orang agar orang jadi suka membaca. Salah satu langkah kecilnya adalah membalut kegiatan membaca itu sebagai sesuatu yang lebih “keren” lewat komunitas baca buku.
Melalui komunitas baca buku, Olive berkata, mereka ingin menunjukkan, “Membaca itu keren, terus banyak orang-orang keren juga yang juga baca. Selama ini mungkin stigma membaca buku itu grieving, sendirian, introvert, tidak bisa berteman, segala macam. Tapi itu yang berusaha kita jawab dengan membangun Foreword sebagai live community.”

Tantangan Bagi Perpustakaan Independen
Menjalankan perpustakaan independen yang ramah dan terbuka bagi publik selama tiga tahun bukanlah perjalanan tanpa lika-liku.
Di balik suasana hangat dan deretan buku yang tertata rapi, Foreword Library menyimpan cerita dinamika pengelolaan ruang baca yang terus bertransformasi demi kenyamanan bersama.
Alyssa, salah seorang pustakawan di Foreword Library, menceritakan bagaimana konsep ruang terbuka yang mereka usung sejak awal membawa tantangan tersendiri. Berbeda dari perpustakaan independen lain yang membatasi akses melalui biaya masuk sebagai filter awal, Foreword Library memilih untuk bisa diakses publik secara gratis dan inklusif untuk siapa saja.
"Karena dari awal open for public tanpa kurasi, tantangannya justru hadir dari hal-hal kecil harian. Pernah suatu kali puluhan anak sekolah datang bersamaan setelah jam pulang. Mulai dari lupa menutup pintu toilet, sampai lempar-lempar barang di dalam ruangan,” kata Alyssa.

Pengalaman-pengalaman kecil tersebut mendorong para pengelola untuk melakukan berbagai penyesuaian. Fasilitas Wi-Fi yang semula bebas diakses kini dikhususkan bagi anggota.
Selain itu, dari pukul lima sore hingga jam tutup, mereka menerapkan aturan yang melarang penggunaan gawai di ruang atas. Kebijakan ini secara alami memilah pengunjung yang hendak bekerja agar berpindah tempat, menyisakan ruang yang tenang bagi mereka yang benar-benar ingin membaca.
Peraturan mengenai pengunjung anak-anak pun diperketat. Anak berusia di bawah 13 tahun kini diwajibkan datang bersama pendamping atau orang tua.

Tantangan tak berhenti di situ. Dinamika media sosial kerap mendatangkan gelombang pengunjung tak terduga.
Usai mendadak viral di salah satu forum daring, puluhan orang berbondong-bondong memadati perpustakaan yang kapasitas atasnya bahkan tak muat menampung 80 orang sekaligus. Belum lagi fenomena pengunjung yang datang membawa kamera profesional demi kebutuhan konten digital.
Semenjak itu, pihak pengelola menyusun panduan perilaku yang lebih ketat. Pembuatan konten dengan kamera smartphone tetap diperbolehkan dengan syarat, yakni wajib meminta izin kepada orang yang berada di perpustakaan.
Penyesuaian ini dilakukan oleh Foreword Library supaya semua orang tetap merasa nyaman, terutama para anggota dan pengunjung. Bagaimana, kamu tertarik berkunjung ke Foreword Library dan jadi anggota komunitas baca bukunya?
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih