diajeng.id - Kita telah tiba pada titik ketika friendship recession alias krisis pertemanan benar-benar terjadi di dunia nyata.
Data dari American Perspective Survey menunjukan bahwa sepanjang 2014- 2019, waktu yang dihabiskan individu bersama teman turun drastis menjadi total hanya empat jam per minggu.
Lembaga survei di atas juga menemukan banyak individu di Amerika Serikat yang tidak memiliki teman dekat, lebih jarang mengobrol dengan teman, dan atau tidak memiliki teman sebagai support system.
Kesulitan untuk menjalin pertemanan di dunia nyata memicu kemunculan aplikasi Bumble BFF—yang ada sebelum Bumble untuk kencan dan kemudian diluncurkan ulang sebagai aplikasi terpisah.
Selain Bumble BFF, ada juga Meetup, Yubo, Nextdoor, RealRoots, hingga 222. Yang paling baru, AI bahkan dimanfaatkan sebagai teman curhat.
Kemunculan tren ini menimbulkan tanda-tanya, mengapa saat ini sulit bagi orang dewasa untuk membangun pertemanan?
"Ketika kita terjebak pada kepercayaan bahwa berteman seharusnya mudah, kesulitan dalam mendapatkan teman tampaknya cukup memalukan."
Begitu kata Suzanne Degges-White, dosen di bidang Konseling dan Pendidikan Konselor dari Northern Illinois University kepada SELF pada September lalu.
Penjelasan Suzanne menunjukan bahwa pada masa tertentu, pertemanan terjadi secara alamiah dan bertahan hingga dewasa.
Pergeseran dari kemudahan mendapatkan teman menjadi krisis pertemanan ini sepertinya perlu mendapat perhatian lebih.
Penurunan tajam dalam berteman bisa jadi disumbang oleh pandemi COVID-19 yang membuat banyak orang terpaksa mengurangi interaksi dengan sesama.
Namun begitu, pandemi bukan satu-satunya penyebab. Ada masalah struktural yang juga menyebabkan krisis pertemanan terjadi. Mari kita bedah satu per satu.
Kemajuan teknologi ini membuat masa kecil individu yang dulu lebih banyak dihabiskan dengan bermain bersama sebaya (play-based childhood) menjadi lebih banyak terkuras di smartphone (phone-based childhood).
Hal ini membuat interaksi sesama pada masa kanak-kanak dan remaja berkurang jauh.
Akibatnya, banyak individu tidak melewati pengalaman sosial yang memadai serta tidak menikmati berbagai tantangan fisik ketika bermain.
Meski tidak disebut secara langsung oleh Haidt, tapi kurangnya pengalaman interaksi sosial sejak kecil kemungkinan membuat individu dewasa sulit terbuka dengan orang lain.
“Individu cenderung mengalami depresi ketika mereka menjadi (dan juga merasa) terputus secara sosial. Depresi membuat individu kurang tertarik untuk menjalin koneksi sosial,” begitu pendapat Haidt di bukunya.
Penelitian Haidt bisa dilengkapi dengan temuan dari Harvard yang berfokus pada pertemanan orang dewasa.
Mengutip penulis Anne Helen, memiliki waktu dengan teman adalah sebuah privilese yang juga berhubungan dengan prioritas.
Oleh karena itu, saat ini kesendirian bukan lagi dipandang sebagai preferensi pribadi, tapi justru menjadi setelan bawaan bagi banyak orang.
Carolyn Bruckmann dalam artikel "The Friendship Recession: The Lost Art of Connecting" di laman Harvard Kennedy School menuturkan, bekerja sudah menjadi identitas sosial paling dominan dalam diri individu.
Kerja sebagai bagian dari identitas semakin menguat karena tekanan ekonomi yang menguat selama beberapa waktu belakangan.
Selain itu, orang dewasa yang sudah memiliki anak juga lebih memilih untuk memprioritaskan keluarga.
"Pencapaian anak adalah cerminan dari kompeten tidaknya orang tua. Hal ini memicu perlombaan berupa penjadwalan [kegiatan anak] secara berlebihan, pengawasan terus-menerus, dan kerja emosional yang melelahkan," Bruckmann menuliskan.
Fokus pada anak membuat ruang bagi orang dewasa berkeluarga untuk membangun pertemanan semakin sempit.
Menariknya lagi, di luar masalah pengasuhan anak, kecenderungan bagi orang dewasa Amerika untuk menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di luar memang meningkat.
Di satu sisi, peningkatan ini kemungkinan besar tidak berhubungan dengan upaya menjalin koneksi dengan keluarga.
Toh, data menunjukkan bahwa waktu rata-rata bercengkrama dengan keluarga turun dari 262 menit per hari pada tahun 2003 menjadi 243 menit pada tahun 2019.
Individu tidak lagi punya tempat terjangkau untuk sekadar ngobrol atau pun berkenalan dengan orang baru karena keterbatasan taman yang terbuka umum.
Jadi, beragam temuan dan pendapat para ahli di atas menunjukkan bahwa krisis pertemanan bukan sesimpel masalah personal, melainkan juga beririsan besar dengan isu sistematis yang disebabkan oleh banyak faktor sosial.
Tidak bisa dimungkiri, kolektivisme adalah dukungan yang dibutuhkan saat kesulitan hidup melanda.
Ketika krisis ekonomi dan segala masalah sehari-hari menghantam, memiliki teman bisa membantu meringankan masa-masa sulit ini.
Kamu bisa mulai mencari teman dengan menemukan komunitas hobi sama. Maksimalkan penggunaan internet untuk berjejaring dengan banyak orang.
Pun kalau tetap kesulitan, mencari teman dari aplikasi pertemanan atau bahkan media sosial sama sekali bukan hal yang memalukan.
Editor: Sekar Kinasih