Menuju konten utama

Popularitas "Cat Dad" dan Pergeseran Makna Maskulinitas Modern

Meski lekat dengan citra laki-laki yang tulus, peka, dan menghormati perempuan, "Cat Dad" tak lepas dari kritik sebagai bentuk maskulinitas performatif.

Popularitas
Header Diajeng Cat Dad. foto/istockphoto

diajeng.id - Beberapa waktu belakangan ini, mungkin kita sering melihat konten gambar maupun video berseliweran di media sosial yang menunjukkan aktivitas laki-laki dengan kucing peliharaannya, entah itu saat menggendong, memeluk, bahkan membiarkan kucingnya meringkuk di pundak mereka. Sosok laki-laki tersebut mendapat julukan di internet sebagai "Cat Dad".

Dalam dunia kencan modern, foto profil laki-laki berpose dengan kucing mulai sering ditemukan, bergeser dari yang sebelumnya orang bangga menunjukkan foto profilnya dengan gaya hidup aktif, pose keliling dunia, pose sedang di gym sambal pamer otot, atau foto mencicipi kuliner ekstrem.

Pertanyaannya, apa kehadiran seekor kucing dalam foto profil benar-benar bisa menambah daya pikat seorang laki-laki?

Studi psikologi mengenai dating app menunjukkan hasil yang menarik sekaligus unik. Ketika laki-laki menyertakan kucing dalam foto profilnya, persepsi pengguna lain, khususnya perempuan terhadap mereka, berubah.

Dampak Cat Dad pada Foto Profil Aplikasi Kencan

Melansir The Conversation, sebuah penelitian dari Colorado State University mengungkapkan bahwa laki-laki yang berpose dengan kucing sering kali dinilai kurang maskulin secara tradisional dan dianggap kurang prospektif untuk kencan jangka pendek oleh sebagian responden.

Mengapa bisa begitu?

Secara historis, masyarakat sering mengasosiasikan kucing dengan sifat feminin atau independen, berbeda dengan anjing yang kerap melambangkan energi ekstrovert dan protektif.

Meski sempat diterpa stereotip lama, arus utama di media sosial kini membalikkan keadaan. Dulu, istilah "cat lady" sering dipakai untuk ejekan, sementara laki-laki penyuka kucing dianggap aneh.

Namun sekarang, tren bergeser drastis. Generasi muda, terutama Gen Z dan Milenial, mulai memandang fenomena "Cat Dad" sebagai sebuah green flag alias sinyal positif.

Di Balik Melejitnya Cat Dad

Popularitas sosok "Cat Dad" terletak pada perubahan persepsi tentang maskulinitas itu sendiri.

Seiring pergeseran tren kencan yang kini lebih kritis terhadap dominasi laki-laki dan kurangnya kepekaan emosional pada laki-laki, "Cat Dad" menunjukkan bahwa kelembutan, kepedulian, dan rasa aman secara emosional dapat menjadi tolok ukur baru bagi maskulinitas modern.

Seperti dinukil situs Cosmopolitan, perempuan masa kini kemungkinan merasa lebih nyaman dengan figur laki-laki yang memiliki emotional softness atau dapat menunjukkan sisi maskulinitas yang sehat.

Salah satunya adalah dengan figur laki-laki yang bisa menyayangi dan meluluhkan kucing, sebab kucing merupakan hewan yang dikenal sangat menjaga jarak, kucing punya sikap mandiri, juga tidak bisa dipaksa.

Ketika ada kucing yang bisa nyaman sampai mendengkur saat berada di pangkuan seorang laki-laki, bukan tidak mungkin sosok laki-laki tersebut memiliki kesabaran, kelembutan, pemahaman tentang batasan sehingga kucing mau dekat dan percaya dengannya.

Karakter seperti inilah yang banyak dicari dalam hubungan, khususnya oleh perempuan saat ini. Dalam konteks "Cat Dad", laki-laki yang memiliki empati, nyaman dengan dirinya sendiri, dan tidak merasa perlu selalu memegang kendali dapat menunjukkan kualitas yang membuat orang lain merasa aman dan dihargai.

Benarkah Laki-Laki Penyayang Kucing Lebih Respek terhadap Perempuan?

Secara teoretis dan psikologis, cara manusia memperlakukan kucing bisa dikaitkan dengan cerminannya dalam menghargai persetujuan dan batasan pribadi (boundaries) dalam hubungan antarmanusia.

Memelihara kucing mengajarkan kita bahwa rasa kasih sayang tidak bisa dipaksakan, melainkan harus diusahakan secara bertahap. Ciri-ciri ini tentu sangat relevan dengan nilai-nilai hubungan yang sehat dan saling menghormati, termasuk terhadap perempuan.

Namun, jika melihat realitas di lapangan, sebagaimana diulas dalam artikel Vice berjudul "Do ‘Cat Dads’ Actually Respect Women More?", kita sebagai perempuan diingatkan untuk tidak menelan mentah-mentah estetika "Cat Dad".

Meskipun banyak laki-laki penyayang kucing yang memang tulus, peka, dan menghormati perempuan, tidak sedikit pula yang memanfaatkannya sekadar sebagai bentuk performative masculinity atau umpan agar terlihat seperti pria baik-baik (nice guy) di aplikasi kencan.

Memiliki kucing tidak secara otomatis membebaskan laki-laki dari risikonya melakukan tindakan buruk seperti ghosting, manipulasi, atau bahkan pengabaian dan kekerasan dalam relasi. Status pemelihara kucing hanyalah sebuah indikator awal, bukan jaminan mutlak atas karakter seseorang.

Diajeng sempat menanyakan kepada salah satu perempuan dengan satu anak, sebut saja Ikha (43). Tahun 2018, Ikha pernah menikah dengan seorang lelaki pecinta kucing. Namun sayang, pernikahannya itu hanya bertahan 5 tahun.

Ikha bercerita bahwa mantan suaminya adalah sosok yang sangat mencintai kucing. Mereka punya hingga 7 anabul di rumahnya.

"Dulu salah satu yang bikin saya jatuh hati sama mantan karena perlakuannya yang sangat baik ke kucing. Kucing yang dia punya itu juga rata-rata stray cat, ada yang karena sakit, ketabrak motor, atau kucing nyasar," kisah Ikha.

Menurut Ikha, semua kucing itu diurus dengan sangat telaten, dari mulai memandikan, membawa ke dokter karena penyakitnya, hingga memberikan makanan yang bergizi. Saat itu, mantan suaminya juga memperlakukan Ikha dengan sangat baik, hingga sampailah pada satu momen yang membuat Ikha sadar sifat asli dari mantannya.

"Waktu itu setelah punya anak, saya pernah minta tolong ke dia untuk membeli popok bayi kami yang sudah habis, posisinya memang dia lagi ngasih kucingnya makan. Padahal saya posisi juga capek, minta tolong pun soft spoken banget, tapi dia kayanya enggak terima. Langsung bentak dan marahin saya," terang Ikha.

Setelah kejadian itu, kata Ikha, mereka berbaikan. Namun, sifat laki-laki yang kini menjadi mantannya itu tetap sama; ketika sedang sibuk dengan kucing, keluarga dinomorduakan.

"Sejak kejadian itu kami jadi sering cekcok. Hal-hal kecil juga diributin, jadi enggak cuma karena kucing aja. Saya ya enggak baik-baik juga orangnya, yang saya minta, anak juga perlu biaya hidup. Boleh sayang kucing, tapi kebutuhan keluarga juga tetap harus utama. Intinya, saya nyerah sama kondisi ini. Jadi, penyayang kucing bukan berarti bisa sangat sayang dan empati juga ke keluarganya. Ini mungkin enggak berlaku ke semua cat lover laki-laki ya, kebetulan saya pas dapat apesnya," tutur Ikha lagi.

Pada akhirnya, maraknya "Cat Dad" membuktikan satu hal, bahwasanya dunia kencan saat ini merindukan rasa aman dan kehangatan emosional. Kucing mungkin bisa jadi topik pembuka percakapan yang manis dan sinyal awal dari sosok laki-laki yang lembut dan penuh perhatian.

Kendati demikian, penilaian sejati tentang apakah seorang laki-laki bisa dipercaya dan menghargai perempuan, akan kembali pada bagaimana dia bersikap, berkomunikasi, dan menghargai pasangannya dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait KENCAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih