diajeng.id - Sepulang acara atau seusai mengobrol dengan orang, mungkin pernah tebersit di pikiran kita, "Aduh, tadi aku terlalu banyak ngomong, deh," atau, "Yang aku obrolkan barusan sepertinya membosankan," bahkan sampai berkesimpulan, "Orang itu pasti enggak suka sama aku gara-gara yang aku sampaikan tadi."
Tenang saja, pengalaman tersebut tidak tunggal. Keinginan untuk disukai dan ketakutan akan penolakan sangatlah manusiawi. Namun begitu, riset psikologi menunjukkan bahwa vonis negatif yang kita berikan pada diri sendiri usai berinteraksi hampir selalu keliru.
Dalam ilmu psikologi, kecenderungan untuk menganggap orang lain kurang menyukai kita daripada kenyataan dikenal dengan istilah liking gap. Fenomena ini pertama kali diidentifikasi secara ilmiah melalui penelitian tahun 2018 yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science oleh Dr. Erica Boothby dari Yale University bersama tim peneliti dari Cornell dan Harvard.
Dalam laman VeryWell Mind, para peneliti mengamati berbagai situasi interaksi, mulai dari dua orang asing yang baru mengobrol beberapa menit, mahasiswa baru yang saling mengenal dengan teman sekamar, hingga anak-anak dari yang usianya lima tahun.
Penulis Paolina Milana yang tumbuh besar dengan ibu dan saudara perempuan yang didiagnosis menderita skizofrenia paranoid, menyatakan bahwa apa yang kita pikirkan sebenarnya hadir dan tertanam kuat di diri kita, alih-alih bermula dari pandangan orang lain.
"Jati diri kita—‘DNA’ kita—harus disembunyikan atau dijaga jaraknya, dan membiarkan orang lain melihat siapa kita sebenarnya merupakan hal yang berisiko, dan berpotensi memicu penolakan,” kata Milana.
Mengapa Kita Menganggap Diri Tidak Disukai?
Apa penjelasan di balik kecenderungan sosial yang membuat kita tidak percaya diri ini? Ada beberapa alasan utamanya.
Masih menukil VeryWell Mind, alasan pertama bisa terjadi karena efek sorot lampu (spotlight effect) dan evaluasi diri. Menurut Dr. Deborah Serani, profesor psikologi di Adelphi University, otak secara alami lebih hiper-fokus menganalisis hal-hal yang kita persepsikan "salah" ketimbang hal-hal yang berjalan lancar.
Kita terjebak dalam spotlight effect, berasumsi lawan bicara memperhatikan dan menilai setiap keraguan atau jeda canggung kita, padahal mereka sebenarnya lebih fokus pada jalan cerita atau malah sibuk mengkhawatirkan performa mereka sendiri.
Alasan selanjutnya adalah proyeksi low self-esteem atau perasaan rendah diri. Psikolog klinis Dr. Natalie Dattilo-Ryan dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa liking gap sering kali bersumber dari keraguan pada diri sendiri.
Artinya, kedua hal tersebut cenderung saling memperkuat satu sama lain, padahal kenyataan sebenarnya, orang lain hampir tidak selalu berpikir demikian.
Selain itu, bias negativitas otak juga berperan dalam hal ini. Dikutip Wondermind, konselor Jeff Guenther, LPC dalam artikelnya "Everyone Doesn’t Hate You (But Here’s Why You Think They Do)" menyatakan bahwa pikiran manusia memiliki bias negativitas evolusioner untuk melindungi diri dari ancaman penolakan sosial.
Suara kritis internal (inner critic) memanfaatkan bias ini untuk membesar-besarkan momen canggung kecil, sehingga mengabaikan fakta bahwa interaksi berjalan cukup hangat.
Menjembatani Liking Gap dalam Kehidupan Sehari-hari
Kalau dibiarkan terus, liking gap dapat memicu kecemasan sosial, overthinking, dan membuat kita menarik diri dari relasi.
Nicolle Osequeda, LMFT, pendiri Lincoln Park Therapy Group, membagikan beberapa langkah praktis untuk mengatasi linking gap.
Yang pertama adalah menyadari keberadaan riset-riset ilmiah mengenai kondisi linking gap. Saat kamu mulai mengulang-ulang percakapan yang sudah lalu secara obsesif, ingatkan diri bahwa ini hanyalah bias otak yang wajar.
Selanjutnya, saat akan bertemu dan memulai obrolan lagi dengan orang lain, alihkan fokusmu ke lawan bicara. Alih-alih sibuk menilai performa sendiri, mengalihkan perhatian untuk mendengarkan lawan bicara secara aktif serta dan mengamati bahasa tubuh mereka yang ramah merupakan cara terbaik.
Jangan lupa untuk mempraktikkan self-compassion. Terimalah bahwa percakapan tidak harus sempurna untuk terasa menyenangkan. Orang lain juga menyukai kehangatan dan ketulusan dirimu.
Sebelum menyesali sebuah percakapan lalu yang dirasa kurang pas, cobalah berhenti sejenak dan bertanyalah, "Mungkinkah lawan bicaraku sudah cukup menikmati obrolan tadi?"
Jawabannya sangat mungkin "iya", terbukti dari banyak riset yang menyebut bahwa kita sebenarnya jauh lebih disukai daripada yang kita bayangkan.
Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih