Menuju konten utama

"Bless and Release": Akhiri Kencan dengan Elegan, tanpa Ghosting

Konsep perkencanan ini mendorong adanya penyelesaian yang singkat dan apa adanya, alih-alih membuat pihak lain terombang-ambing dalam ketidakjelasan.

Kolase tangan memegang karangan bunga. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Istilah-istilah dalam dunia kencan modern yang populer di kalangan Gen Z kadang-kadang diwarnai dengan fenomena yang menguras energi emosional.

Kamu pasti sudah tidak asing dengan sebutan seperti ghosting (menghilang begitu saja tanpa kabar berita), breadcrumbing (memberikan perhatian sedikit demi sedikit agar pihak lain tetap berharap), hingga slow fade (menarik diri dari hubungan secara perlahan-lahan tanpa kejelasan).

Perilaku menghilang ini kerap dipilih untuk menghindari ketidaknyamanan yang muncul dari ucapan perpisahan. Namun begitu, dalam praktiknya, perilaku-perilaku tersebut berisiko meninggalkan tanda tanya dan ketidakpastian bagi orang yang ditinggalkan.

Sebagai respons terhadap dinamika tersebut, muncul tren perkencanan yang dianggap lebih beretika dan berempati, dikenal dengan istilah "Bless and Release".

Definisi Bless and Release

Artikel "Could the ‘bless and release’ philosophy be the antidote to ghosting?" di Cosmopolitan menjelaskan, sederhananya, bless and release adalah perilaku seseorang untuk mengakhiri hubungan dengan pasangannya dengan cara yang jujur, tegas, tetapi pada waktu sama penuh rasa hormat.

Dengan kata lain, orang tersebuttidak akan menghilang begitu saja, memberikan harapan palsu, atau mundur pelan-pelan dari relasi asmara yang sedang dijalaninya.

Konsep perkencanan ini mendorong adanya penyelesaian yang singkat dan apa adanya, alih-alih membuat pihak lain terombang-ambing dalam ketidakjelasan.

"Bless" (memberkati/mendoakan) merujuk pada aksi mengakui bahwa lawan kencan adalah pribadi yang baik, menghargai waktu yang telah dihabiskan bersama, serta mendoakan yang terbaik untuk perjalanan hidup masing-masih pihak.

"Release" (melepaskan) berarti menyampaikan secara lugas bahwa tidak ada keterikatan romantis yang dirasakan, sekaligus melepaskan lawan kencan agar tidak berada dalam posisi selalu siap ketika dibutuhkan, sehingga mereka mendapatkan kembali waktu dan ruang emosionalnya.

Asal Usul Tren

Menukil HuffPost, bless and release merupakan istilah yang dipopulerkan oleh pakar kencan Lily Womble asal Birmingham, Alabama, sekaligus penulis buku Thank You, More Please: A Feminist Guide to Breaking Dumb Dating Rules and Finding Love (2024).

Istilah ini pun lahir berdasarkan situasi yang pernah dialami Womble sendiri. Womble menceritakan ketika dirinya masih berstatus lajang bertahun-tahun yang lalu di New York. Womble sering menjalani kencan hambar dan datar. Salah satu laki-laki yang berkencan dengannya sempat bertanya dengan nada melucu tentang kesan tentang kencan pertama yang mereka jalani, dari kacamata seorang pakar.

Womble sempat terpaku, lalu membalas pesannya dengan tegas, “Hai, terima kasih banyak sudah meluangkan waktu. Aku mengakui bahwa aku tidak merasa adanya chemistry, dan aku mendoakan yang terbaik untukmu.”

Womble membagikan pengalamannya tersebut di TikTok, dan menjelaskan alasannya untuk memilih tidak memaksakan kencan kedua atau ketiga ketika tidak merasakan koneksi romantis.

"Pada dasarnya, bless and release adalah bentuk izin bagi diri sendiri untuk benar-benar memahami apa yang dinginkan, serta melepaskan siapa pun yang tidak memiliki keselarasan dengan masa depan yang kamu harapkan, baik dalam konteks romantis maupun aspek kehidupan lainnya,” terang Womble.

Inspirasi frasa ini berakar dari ungkapan khas Amerika Selatan "Bless your heart", akan tetapi diterapkan tanpa nada merendahkan, melainkan lebih mirip dengan filosofi "Thank you, next" yang penuh empati.

Poin Plus Strategi "Bless and Release"

Ada beberapa kelebihan yang bisa didapatkan ketika kita mencoba menerapkan bless and release ini dalam hubungan romantis.

Yang pertama, menurut Psychology Today, strategi ini bisa menjadi sebagai penawar ghosting yang memberikan kepastian. Mengakhiri obrolan secara eksplisit menghemat waktu dan energi mental bagi kedua belah pihak, serta membebaskan lawan kencan dari kebingungan.

Selanjutnya, membebaskan dari perangkap people-pleasing. Psikolog Dr. Han Ren menegaskan bahwa strategi ini memberi kita keberanian mengungkapkan apa sebenarnya maksud yang kita inginkan.

“Konsep ini memberi kekuatan untuk menyatakan apa yang sebenarnya kita maksud dan bersungguh-sungguh dengan perkataan kita, sekaligus membebaskan kita dari keharusan untuk terus menjaga perasaan orang lain,” tuturnya dikutip HuffPost.

Kelebihan ketiga, seperti dijelaskan Womble, mengatasi scarcity mindset dan sunk cost fallacy, artinya menjadi pengingat agar kita tidak bertahan dalam hubungan yang tidak tepat hanya karena takut tidak menemukan pasangan lain (scarcity) atau karena merasa sayang sudah menginvestasikan waktu yang lama (sunk cost fallacy).

Tak hanya itu, prinsip bless and release juga penting untuk menjaga integritas diri karena menggunakan prinsip komunikasi yang tidak berasas kekerasan, seperti berfokus pada ungkapan perasaan diri sendiri ("Aku merasa...") daripada menyalahkan lawan kencan ("Kamu tidak begini/begitu...").

Poin Minus dan Batasan

Di luar kelebihannya, prinsip bless and release tentu memiliki kekurangan, seperti dijelaskan di bawah ini.

Strategi ini tidak bisa diperlakukan sebagai obat penyembuh, karena penerapannya tetap menyisakan rasa sakit. Konsultan hubungan Sidhharrth S. Kumaar mengingatkan bahwa penolakan yang jujur sekali pun tetap dapat memicu kekecewaan atau rasa ragu pada diri sendiri jika kedua pihak kurang dewasa secara emosional.

Prinsip ini juga berisiko menjadi alat menghindari emosi secara mendalam.

"Faktanya, berdasarkan pengalaman saya, pesan penolakan yang jelas justru dapat memicu keraguan diri dan memberikan dampak jangka panjang yang lebih mendalam terhadap pola emosional seseorang dibandingkan dengan ghosting," kata Kumaar.

Bless and release juga kurang cocok untuk hubungan jangka panjang. Pesan singkat mungkin sangat ideal di tahap awal (kencan ke-1 hingga ke-3 atau obrolan aplikasi), akan tetapi terlalu dangkal jika diterapkan pada hubungan bertahun-tahun yang membutuhkan diskusi mengenai langkah praktis perpisahan.

Pengecualian Faktor Keamanan

Para ahli sepakat bahwa jika lawan kencan menunjukkan perilaku toksik, manipulatif, melakukan pelecehan, atau mengancam keselamatan, maka ghosting tetap merupakan pilihan yang sah dan dibenarkan demi perlindungan diri.

Strategi bless and release menawarkan kompromi yang seimbang antara keberanian menetapkan batasan pribadi dan kebaikan hati dalam memperlakukan orang lain.

Dengan memberikan kepastian yang tegas tetapi santun, tren ini mendorong iklim perkencanan modern yang lebih sehat dan manusiawi. Kamu sudah pernah menerapkannya?

Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih