Menuju konten utama

KDRT Verbal, Luka Tak Terlihat yang Tidak Boleh Diabaikan

KDRT verbal bentuknya bisa berupa bentakan, makian, ejekan, hingga ucapan yang terus-menerus membuat seseorang merasa tidak berharga dalam rumah tangga.

KDRT Verbal, Luka Tak Terlihat yang Tidak Boleh Diabaikan
Ilustrasi KDRT Verbal. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Apa kamu pernah melihat atau mendengar ada orang yang berkata kasar, mencibir, hingga merendahkan kepada pasangannya yang membuat harga diri jadi turun, tapi hal itu malah dianggap sebagai candaan saja? Atau kamu sendiri mungkin pernah mengalaminya?

Jika situasi tersebut terjadi berulang kali, perkataan tersebut bukan sekadar masalah komunikasi. Ini adalah kekerasan verbal yang termasuk salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Berbeda dengan kekerasan fisik yang meninggalkan luka pada tubuh, KDRT verbal dapat melukai kondisi emosional dan mental seseorang tanpa terlihat secara langsung. Lantas, apa saja tanda-tandanya dan bagaimana cara menghadapinya?

Apa Itu KDRT Verbal?

KDRT verbal adalah tindakan kekerasan melalui perkataan yang bertujuan merendahkan, menghina, mengintimidasi, mengancam, atau mengendalikan orang lain dalam lingkungan rumah tangga. Bentuknya itu bisa berupa bentakan, makian, ejekan, hingga ucapan yang terus-menerus membuat seseorang merasa tidak berharga.

Dalam konteks hukum Indonesia, kekerasan verbal dapat berkaitan dengan kekerasan psikis sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Kekerasan psikis mencakup perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, atau penderitaan psikis berat.

Menurut Komnas Perempuan, KDRT tidak hanya mencakup kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga. Artinya, seseorang tidak harus mengalami pemukulan untuk dapat menjadi korban KDRT.

Tanda-Tanda KDRT Verbal

Kekerasan verbal terkadang sulit dikenali karena pelakunya bisa merupakan pasangan atau anggota keluarga terdekat. Ada beberapa tanda yang bisa dikenali ketika seseorang mengalami KDRT verbal.

Pertama, sering mendapat hinaan dan direndahkan. Pelaku kerap mengomentari penampilan, kemampuan, pekerjaan, atau kondisi korban dengan kata-kata yang menyakitkan.

Selanjutnya, ada ancaman dan intimidasi. Misalnya, pelaku mengancam akan menyakiti, meninggalkan, atau mengambil sesuatu yang berharga jika korban tidak menuruti keinginannya.

Tanda ketiga, melakukan gaslighting pada seseorang. Pelaku sering memutarbalikkan fakta, menyangkal kejadian, atau membuat korban meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri.

Kemudian tanda berikutnya, korban merasa sering dikontrol melalui perkataan. Pelaku melarang korban bertemu keluarga atau teman, mengatur aktivitas, hingga membuat korban merasa harus selalu meminta izin.

Selain itu, sering menyalahkan korban. Pelaku terus-menerus menganggap korban sebagai penyebab pertengkaran atau membenarkan perilaku kasarnya sendiri.

National Domestic Violence Hotline juga menjelaskan bahwa penghinaan, manipulasi, ancaman, kecemburuan berlebihan, dan upaya mengisolasi pasangan merupakan tanda-tanda kekerasan emosional.

Dampak KDRT Verbal

Meskipun tidak menimbulkan luka fisik, kekerasan verbal dapat memberikan dampak serius. Korban bisa mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, stres berkepanjangan, depresi, hingga merasa takut mengungkapkan pendapat.

Dalam jangka panjang, korban mungkin menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa tidak memiliki kendali atas kehidupannya. Anak-anak yang menyaksikan pertengkaran penuh hinaan dan ancaman juga dapat mengalami tekanan emosional serta merasa tidak aman di rumah.

Cara Menghadapi KDRT Verbal

Jika ada yang mengalami KDRT verbal atau kamu sendiri merupakan korban, ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang pantas diperlakukan lewat cara penghinaan atau ancaman. Beberapa langkah berikut ini bisa jadi pertimbangan untuk

Sebagai langkah awal, kenali dan akui situasinya. Jangan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar hanya karena dilakukan oleh pasangan atau keluarga.

Kemudian utamakan keselamatan. Hindari konfrontasi jika berpotensi memicu kekerasan yang lebih besar. Cari tempat aman jika diperlukan.

Lalu, jangan lupa untuk cari dukungan. Ceritakan situasi yang dialami kepada keluarga, teman tepercaya, psikolog, atau pendamping korban.

Serta simpan bukti jika aman. Catat kejadian, waktu, serta simpan pesan atau rekaman yang relevan tanpa membahayakan diri sendiri.

Tak hanya itu korban juga bisa memanfaatkan layanan perlindungan. Korban dapat menghubungi SAPA 129 melalui telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129 untuk mendapatkan informasi dan bantuan.

Pada akhirnya, mencegah KDRT verbal dimulai dari membangun komunikasi yang saling menghargai, tidak menggunakan hinaan sebagai bentuk candaan, serta menghormati batasan setiap anggota keluarga.

Ingat, rumah seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan ruang yang membuat seseorang takut terhadap kata-kata orang terdekatnya.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait KDRT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih