diajeng.id - Ketika memiliki teman atau sahabat, apa kamu pernah berpikir bahwa teman-temanmu itu mencerminkan siapa diri kamu sebenarnya?
Kadang-kadang kita baru menyadari sifat, nilai, bahkan pola pikir diri kita sendiri ketika menyaksikannya "hidup" di dalam diri orang-orang yang kita pilih untuk berada di sekitar kita.
Lingkungan pertemanan acap kali bekerja seperti cermin. Dia tidak hanya menunjukkan sisi terbaik yang ada di dalam diri, tetapi juga menunjukkan kebiasaan dan cara kita memandang dunia.
Maka, teman-teman kita bisa jadi semacam refleksi diri, yang meski tidak kita sadari, selalu "berbicara" lewat kehadiran dan kedekatan mereka dalam hidup kita.
Itu sebabnya kita cenderung nyaman dengan orang-orang yang pikirannya sejalan dengan kita.
Bukan semata karena kemiripan karakter atau sifat yang membuat percakapan menjadi lebih mudah, tetapi karena kesamaan itu menghadirkan rasa saling memahami.
Inilah yang disebut dengan Similar-to-Me Effect atau Efek Mirip dengan Diri Sendiri.
Telah banyak dipelajari dalam ilmu psikologi, efek ini menunjukkan bahwa orang secara alamiah berteman, berkolaborasi, atau jatuh cinta dengan orang lain yang memiliki kemiripan dengan dirinya. Konteksnya luas, bisa dari cara berpikir, keyakinan, atau karakteristik.
Di balik kecenderungan ini, ada kebutuhan dasar manusia untuk merasa menjadi bagian dari kelompok.
Teori Identitas Sosial menyebutkan bahwa berada di sekitar orang yang mirip dengan kita membantu membuat identitas diri jadi lebih kuat dan tervalidasi.
Kita merasa pandangan kita masuk akal karena ada orang lain yang melihat dunia dengan cara yang sama. Studi lama dari Byrne (1971) menyebutkan bahwa mahasiswa lebih mudah berteman dengan yang menjunjung sikap dan nilai hidup serupa.
Efek ini ternyata tidak berhenti pada hubungan pribadi.
Kita pun cenderung mudah terhubung dengan mereka yang sepemikiran. Di sisi lain, perspektif yang berbeda sering kali membawa solusi yang lebih kaya.
Memahami efek ini membantu kita untuk melihat pola pilihan kita. Hal ini juga mengingatkan bahwa membuka ruang bagi perbedaan dapat membawa manfaat.
Studi oleh Wellesley College dan University of Kansas yang terbit di Journal of Personality and Social Psychology (2016) menegaskan betapa kuatnya dorongan kita untuk mencari orang yang mirip dengan diri sendiri.
Penelitian ini bahkan menggoyahkan pandangan tentang opposites attract, relasi romantis pada pasangan dengan kepribadian atau karakter yang bertolakbelakang.
Faktor kesamaan ternyata merupakan fondasi yang sudah hadir sejak awal interaksi, alih-alih sesuatu yang tumbuh seiring waktu.
Yang mengejutkan, penelitian ini menemukan bahwa orang dalam hubungan ternyata tidak banyak saling mengubah.
Justru pada momen-momen awal percakapan pertama, tawa yang canggung, atau kesan spontan, kesamaan itu semua akan menentukan arah hubungan: berkembang, atau berhenti di situ saja.
Para peneliti Angela Bahns dan Chris Crandall menggambarkan bahwa kita secara naluriah sedang “membangun dunia sosial” yang membuat kita merasa aman dan dimengerti. Kesamaan merupakan resep utamanya.
"Bayangkan dua orang asing memulai percakapan di pesawat, atau sepasang kekasih menjalani kencan buta," kata Bahns.
"Sejak detik-detik awal senda gurau yang canggung, seberapa mirip dua orang ternyata langsung berperan besar dalam interaksi berikutnya. Akankah mereka terhubung? Atau menjauh? Pengenalan awal akan kesamaan tersebut sangat penting dalam keputusan itu."
Bahns dan Crandall juga menekankan bahwa kecenderungan ini jauh lebih kuat daripada yang selama ini diperkirakan.
Kita tidak hanya mencari satu atau dua hal yang sejalan. Kita cenderung mirip dalam banyak aspek sekaligus, terutama pada hal-hal yang paling penting bagi identitas kita.
"Kalian berusaha menciptakan dunia sosial yang membuat kalian merasa nyaman, berhasil, memiliki orang-orang yang dapat dipercayai dan dengan siapa kalian dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan," kata Crandall. "Untuk menciptakan hal ini, kesamaan sangat berguna."
Ketika dua orang tampak sangat serasi sejak awal, bisa jadi itu karena mereka memang sudah “sefrekuensi” sejak pertama kali bertemu.
Pada akhirnya, kita memang cenderung mendekat pada mereka yang "sejalan" dengan pandangan diri kita. Maka dari itu, penting untuk memilih lingkungan yang mengangkat, alih-alih menjatuhkan.
Bertemanlah dengan orang-orang yang hatinya baik, yang mendorongmu tumbuh, yang membuatmu nyaman tanpa harus menjadi orang lain.
Kesamaan akan mempertemukan kalian, tetapi kebaikanlah yang menjaga hubungan itu tetap bernilai.
Editor: Sekar Kinasih