Menuju konten utama

Conversational Narcissist, Ketika Obrolan Selalu tentang Dirinya

Pola komunikasi seperti ini bisa membuat orang lain merasa tidak didengar, kurang dihargai, dan akhirnya menjauh secara emosional.

Conversational Narcissist, Ketika Obrolan Selalu tentang Dirinya
Header Diajeng conversational narcissist. foto/istockphoto

diajeng.id - Apa kamu pernah bertemu orang yang selalu mengarahkan setiap percakapan kembali ke dirinya sendiri? Bahkan, bahasa tubuhnya terkesan tidak tertarik dengan cerita yang kamu sampaikan.

Atau, kamulah yang sering memotong pembicaraan dan mudah bosan saat topik obrolan tidak berpusat padamu?

Perilaku ini bisa disebut sebagai conversational narcissism, yaitu kecenderungan manusia untuk mendominasi percakapan dan menjadikannya berpusat pada diri sendiri.

Memiliki kecenderungan ini tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik (NPD).

Namun, situasi ini sangat mungkin memengaruhi kualitas hubungan. Pola komunikasi seperti ini bisa membuat orang lain merasa tidak didengar, kurang dihargai, dan akhirnya menjauh secara emosional.

Berikut ini adalah tanda-tanda, penyebab, serta alasan terjadinya komunikasi berat sebelah dengan seorang conversational narcissist.

Tanda-tanda Conversational Narcissist

Dalam percakapan sehari-hari, ada beberapa kebiasaan yang tanpa disadari bisa menunjukkan kecenderungan seseorang dengan conversational narcissism. Berikut beberapa tanda yang bisa kamu kenali.

  • Sering berusaha mengungguli cerita atau pengalaman orang lain
  • Mendominasi pembicaraan atau kerap memotong ucapan orang lain
  • Mengarahkan kembali topik pembicaraan ke dirinya sendiri
  • Kurang tertarik pada kehidupan atau cerita orang lain
  • Mengekspresikan diri dengan bahasa tubuh yang berlebihan
  • Tampak tidak antusias saat bukan dirinya yang menjadi fokus pembicaraan

Alasan di Balik Conversational Narcissism

Kecenderungan orang menjadi conversational narcissist tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan pengalaman pribadi.

Berikut beberapa alasan yang dapat melatarbelakanginya.

1. Insecurity dan Anxiety

Conversational narcissist sering merasa tidak percaya diri, cemas, atau merasa kurang berharga. Pada orang dengan kecemasan sosial, mendominasi percakapan mungkin terasa lebih aman bagi mereka dibandingkan menghadapi jeda atau situasi yang canggung.

2. Pola Asuh dan Lingkungan Keluarga

Cara kita berkomunikasi saat dewasa banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil. Jika sejak kecil kita harus bersaing untuk didengar atau dibatasi untuk berbicara, kita berpotensi tumbuh dengan kebiasaan menguasai percakapan, atau malah bingung kapan harus berbicara.

Mengarahkan pembicaraan ke diri sendiri menjadi cara untuk terkoneksi.

3. Kurang Sadar Diri

Sebagian orang tidak sadar bahwa mereka terlalu mendominasi percakapan.

Ada juga yang mengira membagikan pengalaman pribadi adalah bentuk empati, padahal hal tersebut bisa membuat lawan bicara merasa diabaikan. Dengan kesadaran diri, pola komunikasi tersebut tentu bisa diperbaiki.

4. Neurodivergensi

Perilaku yang terlihat seperti conversational narcissism tidak selalu berarti egoisme. Pada individu dengan perbedaan cara kerja otak, seperti ADHD atau autisme, pola komunikasi bisa berbeda.

Mereka mungkin menyela atau mengalihkan topik karena cara berpikir yang terlalu cepat atau sebagai upaya untuk terhubung.

5. Tanda NPD

Dalam beberapa kasus, perilaku ini bisa mencerminkan sifat narsistik yang lebih kuat, seperti kebutuhan tinggi akan perhatian, kurangnya empati, dan fokus berlebihan pada diri sendiri, terutama jika disertai sikap merendahkan atau defensif saat dikritik.

Cara Menghadapi Conversational Narcissist

Kalau kamu ingin mempertahankan hubungan dengan seorang conversational narcissist, cobalah terbuka membicarakan perilaku tersebut secara langsung dan jelaskan dampaknya kepadamu.

Apabila kebiasaan ini bukan berasal dari sifat narsistik yang mengakar, biasanya orang tersebut masih bisa memahami dan bersedia memperbaiki gaya berkomunikasinya.

Jika mereka tahu niatmu sebenarnya baik, kamu bisa mendiskusikan cara agar komunikasi menjadi lebih seimbang.

Namun, perubahan tidak terjadi seketika. Tetap diperlukan kesabaran dan kemauan untuk mengingatkan mereka secara konsisten agar kebiasaan tersebut pelan-pelan bisa diubah.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih