diajeng.id - Apa kamu punya teman yang suka mengeluh tentang masalah yang bertubi-tubi dihadapinya, akan tetapi tidak pernah benar-benar meminta bantuan secara langsung?
Dalam situasi tersebut, kamu jadi merasa seperti "disuruh" menawarkan bantuan pada temanmu, meski temanmu tidak meminta tolong secara terang-terangan.
Situasi tersebut dikenal dengan istilah dry-begging.
Apa Itu Dry-Begging?
Dry-begging merupakan bentuk permohonan tidak langsung.
Alih-alih bertanya, "Apa kamu bisa membantuku?", si pelaku akan menggunakan kalimat-kalimat samar yang mengharuskan pendengarnya menyimpulkan sendiri adanya sebuah permintaan.
Psikolog Hubungan Dr. Carolina Estevez di laman Parade menyebutnya sebagai bentuk peralihan kode emosional. Keluhan digunakan sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu tanpa harus bertanya secara langsung.
"Aku nggak tahu gimana cara menyelesaikan semua ini sendiri" adalah kalimat yang cenderung diucapkan oleh pelaku dry-begging, kata Dr. Estevez.
Tujuan utama dari dry-begging acap kali bersifat manipulatif. Dengan tidak meminta secara langsung, orang tersebut dapat menghindari risiko penolakan yang memalukan.
Contoh Dry-Begging
Perilaku dry-begging bisa muncul di mana saja, mulai dari hubungan asmara hingga lingkungan profesional.
Dalam hubungan asmara, misalnya, ketika sedang beres-beres rumah, hanya satu pihak yang repot, sementara pihak satunya santai nonton TV atau hanya bermain smartphone.
Kemudian, pasangan yang sibuk mungkin menyampaikan sindiran halus dengan berkata seperti, "Kalau punya suami yang bantu-bantu kerjaan rumah, pasti enak, ya!"
Contoh lainnya bisa juga terjadi pada skenario saat sedang memilih makanan di restoran. Pelaku dry-begging bisa berkata, "Ya sudah, nanti aku makan yang sisa saja enggak apa-apa." Harapannya, mereka akan dipilihkan menu yang lebih baik oleh pasangannya.
Sementara itu, dalam pertemanan, seperti dinukil VeryWell Mind, kita mungkin pernah punya teman yang suka mengeluh tidak punya barang tertentu.
Misalnya, "Aduh, aku enggak punya baju bagus buat acara ulang tahun besok." Dengan menyampaikan hal tersebut, dia berharap agar kita mau meminjamkan pakaian kita.
Contoh lain yang sering ditemui adalah teman yang minta ditraktir dengan berkata, "Wah, udah lama banget ya nggak ngopi di luar, tapi ga bisa pergi karena lagi bokek nih." Kalimat tersebut bisa jadi kode agar kita menawarkan diri untuk mengajaknya dan membiayainya minum kopi.
Dalam dunia kerja seperti di kantor, dry-begging sering muncul dalam bentuk keluhan strategis tentang beban kerja, seperti, "Tugas kali ini banyak banget, aku saja bingung dari mana harus mulainya." Kalimat ini disampaikan agar ada rekan kerja yang terdorong untuk menawarkan bantuan.
Kalimat lainnya seperti, "Tiap hari kok bisa-bisanya lembur, kantor kayak rumah kedua aja!"
Kata-kata seperti ini terkesan sebagai keinginan untuk mendapatkan pujian dan validasi, bahkan mungkin permintaan untuk mendapatkan waktu istirahat, tanpa harus mengajukannya secara resmi.
Cara Menyikapi Orang yang Suka Dry-Begging
Menghadapi perilaku dry-begging bisa sangat melelahkan karena kita dipaksa untuk terus "membaca pikiran" orang lain.
Saat bertemu dengan pelaku dry-begging, hal pertama yang sebaiknya kamu lakukan adalah jangan buru-buru menjadi penyelamat saat diberi "kode".
Alih-alih menebak-nebak apa yang diinginkan pelaku, laman Huff Post menekankan agar kamu langsung saja minta kejelasan dengan bertanya langsung, "Kamu sebenarnya pengen apa? Lagi butuh bantuan aku lagi buat ngerjain tugasmu?"
Pertanyaan ini memaksa pelaku dry-begging untuk menyatakan keinginan mereka secara eksplisit, yang otomatis mengakhiri taktik manipulatif tersebut.
Komunikasikan juga secara terbuka dan jujur bahwa kamu tidak suka dengan kode-kode yang disampaikan.
Percakapan seperti itu memberikan ruang bagi mereka untuk merasa aman dalam meminta sesuatu tanpa rasa takut akan penolakan.
Tetapkan pula batasan yang tegas dan selalu ingat bahwa kamu tidak wajib untuk membantu hanya karena orang lain melempar isyarat yang membuatmu merasa bersalah.
Belajarlah untuk berkata "tidak" tanpa rasa bersalah. Kalau tidak bisa atau tidak mau membantu, kamu bisa menjawab, "Aku tahu kamu lagi susah, tapi sekarang aku belum bisa bantu."
Jika perilaku ini terus berulang dan menciptakan ketidakseimbangan dalam hubungan, maka kamu perlu mengevaluasi apakah hubungan tersebut sehat atau tidak, dan apakah itu patut untuk terus diperjuangkan.
Komunikasi yang sehat dibangun melalui keterbukaan, bukan permainan tebak-tebakan emosional.
Keterbukaan membantu kedua belah pihak terbebas dari kecemasan yang muncul karena harus menebak-nebak keinginan satu sama lain, sekaligus membangun kepercayaan yang lebih kuat.
Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih