Menuju konten utama

Dampak Sering Googling Gejala Penyakit: Apa Kata Dokter

Tidak semua penyakit bisa disimpulkan hanya dari pencarian Google. Diperlukan pengetahuan dasar tentang kedokteran untuk bisa menegakkan diagnosis.

Dampak Sering Googling Gejala Penyakit: Apa Kata Dokter
Header Diajeng Googling Gejala Penyakit. tirto.id/Quita

diajeng.id - Saat merasa sedikit pusing, pernahkah kamu iseng-iseng membuka Google lalu mengetik, “penyebab sering pusing tiba-tiba”?

Lima menit kemudian, kamu yang tadinya masih tenang, berubah panik. Hasil pencarian di Google menyebutkan bahwa keseringan pusing tiba-tiba bisa jadi tanda penyakit serius.

Kalau kamu pernah mengalaminya, tenang saja, kamu tidak sendirian.

Kita semua kemungkinan besar pernah jadi “pasien” si Dokter Internet.

Pada zaman serba cepat ini, wajar kalau rasa penasaran muncul begitu tubuh terasa tidak enak.

Menurut dr. Sari Rahayu di Cileungsi, Bogor, hal tersebut memang wajar saja terjadi di era saat ini, karena adanya kemudahan teknologi, maka semua bisa dicari lewat Google.

"Bahkan masalah sepele pun kadang kita mengecek di Google. Dan jawabannya pun cepat didapatkan. Sekali klik langsung muncul. Berbeda ketika kita harus bertemu dengan dokter, harus daftar dulu, antre, dan sebagainya," kata dr. Sari kepada Diajeng baru-baru ini.

Namun sayangnya, ujar dr. Sari, tidak semua penyakit bisa disimpulkan hanya dari searching di Google. Alasannya, diperlukan pengetahuan dasar tentang kedokteran untuk bisa menegakkan diagnosis.

Dampak buruknya, dengan mengetahui tentang kondisi sakit yang konteksnya kurang jelas dalam pencarian di Google, pasien berisiko merasa khawatir berlebih karena mengira sakitnya berat, sehingga bisa mengarah ke kecemasan.

"Dampak selanjutnya tentu saja bisa mengarah ke 'misdiagnosis' [diagnosis keliru], karena mendiagnosis sendiri dari hasil pencarian tanpa ada dasar pengetahuan kedokteran. Sebab kalau hanya menilai dari gejala, banyak penyakit yang gejalanya hampir sama."

Dokter yang sebelumnya bertugas di Rumah Sakit Akademik UGM ini melanjutkan, misdiagnosis juga dapat berati underdiagnosis atau overdiagnosis.

Keduanya sama-sama berbahaya karena mengakibatkan penanganan atau terapi yang tidak tepat pula.

"Pada beberapa kasus underdiagnosis bisa menyebabkan pasien mengabaikan sakitnya, karena merasa tidak terlalu bermasalah, akhirnya malah mengabaikan sakitnya. Sebaliknya jika overdiagnosis, pasien bisa khawatir bahkan sampai anxiety karena mengira sakitnya terlalu berat," terang dr. Sari.

Oleh sebab itu, dalam menyikapi gejala sakit di era kemudahan akses teknologi saat ini, pertama dan yang utama, menurut dr. Sari, adalah harus bersikap tenang, tetapi tetap waspada.

Ia mengatakan, mencari informasi di Google juga tidak salah sepenuhnya.

Kamu sangat boleh mencari informasi dan menjadikan temuanmu sebagai bahan gambaran awal atau pandangan umum saja.

Selanjutnya, tetap harus berkonsultasi ke dokter sesuai keahliannya dalam masalah yang ingin ditanyakan.

"Misal masalah sakitnya di perut, bisa konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam. Masalah penyakit anak ke dokter spesialis anak, dan seterusnya. Atau jika masih bingung menentukan konsultasi ke spesialis apa, kamu bisa konsultasikan ke dokter umum terlebih dahulu," sarannya.

Intinya, tambah dr. Sari, jangan sampai kita mendiagnosa sendiri (self-diagnose) sakit yang dialami. Tetap tanyakan kepada ahlinya.

"Karena saya seorang muslim, saya juga berpegang pada hadits. Karena Rasul juga sudah mengingatkan kita dalam hadis Bukhari yang isinya: Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya," tukasnya.

Seperti disampaikan dr. Sari, mencari tahu di Google itu tidak sepenuhnya salah, asal tahu batasnya.

Gunakan untuk menambah wawasan, alih-alih untuk mendiagnosis diri sendiri.

Ingat selalu bahwa jawaban terbaik tetap datang dari mereka yang benar-benar paham, yakni para profesional kesehatan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih