Menuju konten utama
Digital Declutter

Bagaimana Cara Kembali Fokus di Tengah Banjir Informasi Digital?

Kita memang cenderung takut tertinggal informasi jika mulai membatasi medsos. Padahal, tetap update tanpa merasa kewalahan sangat mungkin diusahakan.

Bagaimana Cara Kembali Fokus di Tengah Banjir Informasi Digital?
Diajeng Digital Declutter. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di tengah kehidupan yang semakin mustahil dipisahkan dari layar gawai, pop-up notifikasi, dan arus informasi digital tanpa henti, banyak dari kita mulai kehilangan fokus secara mental.

Waktu bersama keluarga sering terganggu oleh denting notifikasi gawai atau smartphone, percakapan terpotong oleh pesan digital, bahkan waktu istirahat pun masih dipenuhi kebiasaan scrolling tanpa sadar.

Dalam sesi diskusi IG Live oleh Ruanita bertema "Digital Declutter - Merapikan Digital, Menjernihkan Pikiran", mahasiswa S3 Psikologi di Jerman sekaligus Founder Kesmen_id, Fransiska Hapsari, dan mahasiswa Indonesia di Slovenia, Aghata Yasmin, mengajak kita memahami digital declutter alias "bersih-bersih gadget" sebagai upaya mengembalikan perhatian kita pada hal-hal yang benar-benar penting, alih-alih sekadar kurasi isi gawai.

Mulai dari membangun koneksi yang lebih nyata di dalam keluarga, mendampingi anak menggunakan teknologi secara sehat, hingga belajar tetap update informasi tanpa harus merasa kewalahan, semua itu adalah bagian dari upaya untuk kembali fokus dan mindful dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Jaga Relasi di Dunia Nyata

Seiring dunia digital semakin dinamis dan berisik, kemampuan untuk mengambil jeda sejenak dan membangun hubungan secara luring bisa jadi salah satu keterampilan yang paling penting saat ini.

Dalam keluarga, misalnya, kebiasaan seperti makan bersama tanpa smartphone dapat menjadi momen yang sangat berarti.

"Misalnya saja makan bareng bersama keluarga udah ditaruh HP-nya, lalu kita update, kita ngobrol bareng, gimana daily life dan lain-lain. Akhirnya kita membuat momen-momen kecil tadi secara sehari-hari itu menjadi family time. Bukan yang satu makan di sana tablet, satu makan di sana lihat TV, satu Tiktok-an [tertawa] scrolling gitu. Karena sebenarnya momen-momen kecil tadi di daily life itulah yang menjalin koneksi keluarga," terang Yasmin.

Yasmin juga berbagi pengalaman tentang kegiatan me time memasak bersama pasangan sambil mendengarkan audiobook. Selain hiburan, aktivitas tersebut juga menciptakan ruang untuk berbincang dan terhubung secara langsung.

"Contoh lainnya yang bisa menjadi ide yang sering aku lakukan sama partner aku di sini itu, kita sering masak bersama dan misalnya.. oh aku butuh entertainment nih, dan kita mulai audiobook kita, play audiobook, terus ada sesuatu yang menarik kita pause audiobook dan kita bicarakan," tambahnya.

Sementara itu, Fransiska menekankan bahwa orang tua perlu menjadi teladan dalam penggunaan gadget yang sehat.

Anak-anak, terutama di usia dini, masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan fokus, kontrol diri, dan interaksi sosial. Maka dari itu, penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pendampingan dapat memengaruhi perkembangan mereka.

Bukan berarti anak harus sepenuhnya dijauhkan dari teknologi, tetapi penggunaannya perlu dibatasi, diarahkan, memiliki tujuan, dan tetap melibatkan interaksi sosial secara nyata.

"Ini bahaya banget kalau tidak dilatih. Jadi itu sesuatu skill yang harus dilatih dan sering. Nah, ini yang orang tua harus hati-hati batasi penggunaan sosial media dan berbagai macam alat-alat elektronik dan gadget," sebut Fransiska.

Hal tersebut, sambung Fransiska, bukan berarti antigawai, hanya saja penggunaannya harus dikontrol.

"Kita kontrol, ada tujuannya dan itu juga ada interaksi sosialnya, juga bisa bermanfaat, ya. Misalnya ibu mau nyanyi, 'Oke, ayo kita belajar nyanyi nyanyi bareng-bareng dengan lihat program ini.' Nah, dan dibatasi waktunya 5 menit atau 10 menit. Setelah itu dibahas secara offline," ucap Fransiska.

Menurut Fransiska, meski interaksi yang berangkat dari gawai tersebut banyak manfaatnya, yang sering terjadi di Indonesia masing-masing pakai gawai sendiri.

"Anak dikasih Coco Melon [program anak-anak di YouTube] sendiri, itu sudah over stimulated. Anaknya kasihan juga dan makin tidak terlatih interaksi sosialnya, executive function-nya, metakognisi, dan perkembangan otaknya. Jadi penggunaan gadget pada anak tentunya harus dibatasi untuk anak sekolah dan untuk anak bayi atau toddler di bawah 2 atau 3 tahun, kalau bisa sama sekali tidak. Jangan sampai anak terlalu lama terpapar gadget. Ibu, orang tua, ayah harus menjadi role model atau jadi contohlah untuk penggunaan gadget yang terkontrol, terarah dan juga ada intensinya," kata Fransiska.

Tetap Update Tanpa Harus Overwhelmed

Pada dasarnya, kita memang mudah merasa takut tertinggal informasi jika mulai membatasi media sosial. Namun, dalam diskusi ini dijelaskan bahwa tetap update tanpa merasa kewalahan sebenarnya sangat mungkin dilakukan.

Caranya adalah dengan lebih sadar memilih informasi yang benar-benar relevan dan bermanfaat.

Misalnya, membaca berita dari sumber terpercaya, membatasi waktu konsumsi berita, menghindari clickbait, serta memfilter konten yang terlalu memicu stres atau emosi. Ingt bahwa kita tidak harus mengetahui semua hal yang terjadi di dunia setiap saat.

"Di era sekarang ada informasi overload, kebanjiran informasi. Sebagian besar informasi yang ada: hoaks. Atau media juga punya agenda untuk menyetir opini kita, menggiring opini kita. Jadi sebagai pengguna, kita harus kritis dan kalau kita ada tujuannya, kita mau tahu apa?" papar Yasmin.

Yang lebih penting, tambah Yasmin, adalah memahami informasi secara lebih kritis dan sehat, bukan sekadar mengonsumsi informasi tanpa arah. Inilah salah satu esensi dari digital declutter.

Di dunia yang semakin cepat berubah, penting untuk latihan melambat, memilih prioritas, dan berusaha present atau hadir di setiap momen.

Nyatanya, teknologi akan terus berkembang. Pada waktu sama, kita selalu punya pilihan untuk menyikapinya. Kita bisa memilih untuk terus tenggelam dalam distraksi, atau mulai menggunakan teknologi secara lebih sadar, lebih terarah, dan lebih manusiawi.

Simak juga artikel lainnya terkait media sosial di tautan ini.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih