Menuju konten utama

Ego-Scrolling: "Ya, Aku Masih Diminati" di Aplikasi Kencan

Ego-scrolling adalah kebiasaan untuk menggeser profil demi profil di aplikasi kencan tanpa ada niat membangun komunikasi atau menjalin hubungan.

Ego-Scrolling:
Header Diajeng ego scrolling. foto/istockphoto

diajeng.id - Di tengah hiruk-pikuk era digital, aplikasi kencan modern seperti Tinder atau Bumble semakin mempermudah sebagian dari kita dalam menemukan pasangan hidup.

Bersamaan dengan kemudahan berkat kecanggihan teknologi tersebut, bermunculan pula "efek samping" yang bersifat langsung maupun tidak langsung, salah satunya ego-scrolling.

Apa Itu Ego-Scrolling?

Dinukil VICE, ego-scrolling didefinisikan sebagai kebiasaan menggeser layar (swiping) di aplikasi kencan secara terus-menerus tanpa ada niat sedikit pun untuk membangun komunikasi atau menjalin hubungan nyata.

Ibaratnya, kita berdiri di depan cermin sembari mematut-matutkan diri ("Apa aku masih kelihatan cantik/ganteng, ya?"), lalu menunggu orang lain memberikan konfirmasi atau afirmasi terkait penampilan diri kita.

Katie Dissanayake, pendiri After (aplikasi kencan yang mewajibkan penggunanya untuk memberikan alasan sebelum memutuskan untuk unmatch sebuah profil), menjelaskan bahwa ego-scrolling pada dasarnya adalah pencarian bukti bahwa diri kita masih diinginkan, sehingga status kecocokan (match) menjadi tujuan utama, alih-alih awal dari sebuah percakapan.

Dissanayake mencontohkan ego-scrolling dengan situasi kita yang sedang bosan atau kesepian, lalu mengunduh aplikasi kencan pada malam hari. Kemudian, kita mulai menggeser profil demi profil ke kanan. Saat layar menampilkan notifikasi "It's a Match!", muncullah rasa puas sesaat yang membuat kita jadi "ketagihan".

Meski begitu, ketika lawan bicara yang telah dicocokkan oleh sistem tersebut mengirimkan pesan sapaan yang hangat, kita malah memutuskan untuk mengabaikannya, tidak membalas, atau bahkan menutup aplikasi tersebut.

Skenario lain terlihat dari orang-orang yang sebenarnya sudah memiliki pasangan, tetapi secara sembunyi-sembunyi mengaktifkan aplikasi kencan. Aktivitas menggeser profil di aplikasi kencan dilakukannya demi memamerkan jumlah match sekaligus memuaskan rasa percaya diri bahwa dia selalu memiliki opsi lain.

Mengapa Melakukan Ego-Scrolling?

Ada beberapa beberapa faktor utama yang mendorong kita menjadi pelaku ego-scrolling.

Masih melansir VICE, faktor pertama disebutkan karena adanya suntikan dopamin dan pengalihan emosi. Notifikasi match yang bekerja mirip dengan tombol likes di media sosial dapat diibaratkan seperti suntikan dopamin instan.

Dissanayake menyebut aplikasi kencan sering difungsikan sebagai "dot emosional" (emotional pacifier) untuk meredakan rasa bosan, stres, atau kesepian secara instan.

Faktor berikutnya adalah zona nyaman tanpa kerentanan. Terapis Jordan Pickell mengungkapkan bahwa ego-scrolling bisa jadi sangat memikat karena memberikan kita semacam sensasi diperhatikan tanpa harus menghadapi risiko kerentanan (vulnerability) yang hadir dalam relasi sesungguhnya.

Selanjutnya, karena kebutuhan validasi dan insecurity alias perasaan tidak aman. Pakar hubungan Angelika Koch melalui laman Lifestyle Asia menjelaskan, orang yang berjuang dengan rasa tidak aman (insecurity) cenderung memanfaatkan ego-scrolling untuk menopang harga diri mereka melalui validasi eksternal.

Selain itu, perilaku ini juga kerap menjadi plester sementara (temporary Band-Aid) bagi orang-orang yang baru saja melewati perpisahan atau perceraian untuk meyakinkan diri bahwa mereka masih memiliki daya tarik.

Dampak dari perilaku ini bekerja dua arah. Bagi sang ego-scroller, pada awalnya ada perasaan bangga (ego boost) dan kebanggaan atas daya tarik personalnya. Namun begitu, Namun, karena kebutuhan emosional dasar tidak benar-benar terpenuhi, rasa bangga itu segera berganti menjadi kepuasan dangkal yang cepat sirna, bahkan meninggalkan rasa hampa, lelah emosional (dating app fatigue), atau rasa bersalah karena telah "mengeksploitasi" ekspektasi dari orang lain,

Sementara bagi lawan bicara yang otomatis menjadi korban ghosting, pengalaman ini sangat mengecewakan dan memicu keraguan terhadap nilai diri sendiri.

Menghadapi Realitas Ego-Scrolling

Ada beberapa langkah yang bisa kita terapkan setelah menyadari kita melakukan ego-scrolling.

Langkah pertama, selalu evaluasi diri sebelum membuka aplikasi. Tanyakan pada diri sendiri, apa tujuanku membuka aplikasi ini?

Amati perasaan-perasaan yang muncul setelah menggeser layar. Kalau kita merasa capek atau hampa, bukannya terhubung, artinya kita harus berhenti. Penting untuk mengenali diri sendiri dulu sebelum menyerahkan diri kita pada cara kerja algoritma.

Kedua, kedepankan empati dan transparansi. Ingat kembali bagaimana rasanya ketika pesan kita diabaikan atau di-ghosting. Kalau memang belum siap berkomunikasi, jangan memberikan harapan palsu atau memicu janji manis yang tak bisa ditepati.

Berikutnya, mampu menetapkan dan menghormati batasan diri. Apabila kita masih memproses trauma masa lalu atau sedang tidak memiliki kapasitas emosional untuk menjalin hubungan, mundurlah secara baik-baik daripada menjadikan orang lain sebagai pemuas ego sementara.

Dengan memahami dinamika di balik ego-scrolling, kita dapat lebih bijaksana dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi kencan digital, serta menjaga kesehatan emosional diri sendiri maupun orang lain.

Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih