diajeng.id - Menunjukkan sisi-sisi rentan dalam diri kadang-kadang dianggap sebagai tanda kelemahan.
Namun, siapa sebenarnya yang ingin terlihat lemah? Sebagian besar dari kita bahkan sejak kecil diajarkan untuk bisa terlihat kuat, menjadi sosok mandiri, dan selalu "baik-baik saja".
Dalam psikologi, ada yang disebut dengan "emotional vulnerability" atau kerentanan emosional.
Konsep ini menekankan kerentanan sebagai inti dari emosi dan perasaan manusia untuk menjalin relasi lebih tulus dan berarti.
Apa Itu Emotional Vulnerability?
"Vulnerability" merupakan upaya kita dalam mencegah rasa malu, canggung, dan sedih dengan cara mengakui emosi yang dirasakan, termasuk yang paling menyakitkan.
Jika dimaknai secara dangkal, "vulnerability" bisa saja mengingatkan kita saat kehilangan kendali atau mendramatisasi keadaan.
Di satu sisi, kerentanan ini menekankan tentang pentingnya mengakui perasaan apa adanya meski ada risiko mendapat penolakan atau penghakiman.
Bayangkan, kita sedang merasa sangat terkuras secara mental setelah melalui hari yang berat di kantor. Ketika pasangan kita bertanya kabar, umumnya kita menjawab singkat, "Biasa-biasa saja, aku oke."
Namun, dalam konteks kerentanan emosional, kita tidak perlu menutupi kondisi apabila memang merasa perlu bantuan.
Alih-alih mengaku baik-baik saja, kita bisa saja menjawab, "Aku repot sekali karena banyak presentasi di kantor hari ini. Capek. Jadi aku butuh bantuan dan dukungan".
Contoh "Emotional Vulnerability"
Dalam situs Annapolis Counseling Center disebutkan ada beberapa contoh bentuk kerentanan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, ada teman yang menyindir dan menyakiti hatimu. Alih-alih diam saja, kamu berterus terang menyampaikan ke temanmu bahwa perkataannya bikin sakit hati.
Contoh lainnya, membuka diri saat berkonsultasi dengan psikolog tentang rasa malu atau rasa bersalah yang kamu alami; mau meminta bantuan saat merasa kewalahan; tidak menutup-nutupi kesalahan dan mau mengakuinya serta siap bertanggung jawab atas konsekuensi yang ditimbulkan; tidak sungkan berkata tidak jika ada hal yang tidak sesuai dengan apa yang kamu rasakan.
Skenario lainnya juga bisa terkait dengan menyatakan perasaan cinta atau menunjukkan penghargaan terlebih dahulu, tanpa mengharapkan balasan atau respons yang sama.
Mengapa Menjadi Rentan Itu Baik?
Mengakui kerentanan bisa memberikan dampak luar biasa bagi kesehatan mental dan kualitas hubungan.
Tulisan Nick Wignall berjudul "Emotional Vulnerability: What It Is and Why It Matters" menyebutkan bahwa dengan menjadi rentan, kita berpotensi mengurangi perasaan cemas.
Ini terjadi karena otak manusia sering menganggap bahwa emosi yang menyakitkan adalah ancaman yang membahayakan.
Dengan mengakui kerentanan yang kita miliki, kita melatih otak untuk berpikir bahwa gejolak emosi itu memang menyakitkan, tetapi tidak membahayakan. Dampaknya, tingkat reaktivitas emosional dan kecemasan kronis bisa menurun.
Selain mengurasi kecemasan, menjadi rentan juga bisa membuat hubungan relasi lebih kuat.
Hubungan yang tulus bisa dibangun dengan fondasi kepercayaan emosional.
Kalau kamu berani berbagi tentang pengalaman kegagalan atau rasa takut yang ada di dalam pikiranmu, pengakuan tersebut bisa dimaknai sebagai pesan untuk teman, pasangan, atau kolegamu bahwa mereka pun bisa berbagi hal yang sama jika sedang merasa takut.
Hasilnya, terciptalah hubungan yang bisa jadi lebih mendalam dan kepercayaan yang lebih kuat.
Kerentanan emosional juga dapat meningkatkan kesadaran diri lantaran membantu kita dalam mengidentifikasi mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat.
Tak hanya itu, mengakui kerentanan juga bisa membuat hidup kita lebih bahagia.
Mengapa begitu? Sebab, jika kita menutup diri dari rasa sedih atau malu, kita secara tidak sengaja juga menutup diri dari pengalaman positif seperti cinta, rasa memiliki, kegembiraan, hingga empati.
Cara Menjadi Vulnerable yang Sehat
Menjadi rentan bukan berarti "menumpahkan" semua rahasia atau perasaan kita kepada siapa saja tanpa pandang bulu (oversharing).
Melansir laman James Madison University (JMU), ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mempraktikan "emotional vulnerability" secara sehat:
Pilih Orang yang Tepat
Ceritakan perasaan yang kamu alami kepada orang yang benar-benar bisa kamu percaya dan memang peduli dengan pengalaman yang sedang kamu lalui.
Gunakan Bahasa Simpel
Coba gunakan istilah sederhana seperti anak kecil yang sedang berbicara, "Aku sedih/marah sekali," atau, "Aku benar-benar takut." Dengan menamai emosi yang benar-benar sedang dialami, akan membantumu memahami perasaan tersebut.
Amati dan Validasi
Saat kamu merasakan emosi yang muncul, jangan langsung bereaksi atau mencoba melenyapkannya.Amati bagaimana tubuh sedang merasakan perasaanmu, lalu validasi dengan berkata pada diri sendiri, "Aku benar tidak apa-apa kok kalau sedang sedih karena kehilangan sesuatu/ditinggal teman/diabaikan."
Fokus pada Keunggulan, Bukan Kesempurnaan
Berhentilah menuntut diri untuk jadi sempurna. Terimalah bahwa melakukan kesalahan adalah bagian dari menjadi manusia. Perlakukan dirimu sendiri dengan empati dan welas kasih yang sama seperti kamu melakukannya kepada teman atau orang lain.
Mulai dari Hal Kecil
Latih "otot kerentanan" dengan bersikap asertif dalam hal-hal kecil, seperti memilih tempat makan yang benar-benar kamu inginkan daripada hanya mengikuti keinginan orang lain.
Membuka diri artinya kita belajar untuk menyembuhkan diri sendiri sekaligus memberi ruang bagi orang lain untuk melihat diri kita yang sebenarnya, apa adanya, termasuk dengan segala kekurangan yang kita miliki.
Simak juga artikel terkait lainnya di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih