Menuju konten utama
Opini

Feminisme Tanpa Kesadaran Kelas, Siapa yang Tertinggal?

Feminisme borjuis, dibalut dalam girlboss feminism, gagal melihat bagaimana struktur ekonomi & ketimpangan kelas turut memengaruhi pengalaman perempuan.

Feminisme Tanpa Kesadaran Kelas, Siapa yang Tertinggal?
Header Diajeng Elite Feminism. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Gelombang pertama feminisme dimulai sejak awal abad ke-19.

Berdasarkan The Historical Development of Feminism (2025) yang ditulis Gupta dan Kumari, persisnya pada tahun 1840, perempuan mulai gencar memperjuangkan hak untuk memperoleh pendidikan, hak kepemilikan properti, dan hak untuk memilih.

Perempuan yang terlibat dalam upaya memperjuangkan hak-hak tersebut disebut Suffragette, yang berdomisili di Inggris dan Amerika Utara.

Di belahan dunia lainnya, seperti India, ada Savitribai Phule dan Pandit Rama yang sama-sama mengupayakan pemenuhan hak perempuan.

Namun, feminisme pada esensinya tidak sekedar mengupayakan perempuan untuk bisa menikmati hak-hak yang dimilikinya.

Dalam definisi bell hooks, feminisme dimaknai sebagai “...gerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi seksis, dan penindasan.”

Mendukung gerakan feminis berarti menjalankan perubahan terhadap sistem yang melanggengkan ketidakadilan gender. Upaya dalam menghapuskan sistem diskriminatif ini tidak hanya menguntungkan bagi perempuan, melainkan semua orang yang terdampak dari ketimpangan sistem tersebut.

Artinya, feminisme berupaya membangun masyarakat yang jauh lebih setara dan adil.

Seiring berjalannya waktu, feminisme berkembang dalam bentuknya masing-masing. Menariknya, sejarah perkembangan feminisme tidak dapat dihindarkan dari eksklusivitas atau elitisme, alias belum menjangkau atau relevan dengan realitas kehidupan seluruh perempuan dari berbagai lapisan sosial ekonomi.

Salah satu jenis feminisme yang masih lekat dengan aspek eksklusifnya ini sering kita dengar dengan istilah feminisme borjuis atau feminisme elite.

Kritik terhadap Feminisme Borjuis

Melihat kehidupan perempuan dari sudut pandang satu kelompok masyarakat saja tidak cukup untuk menghapuskan ketidakadilan. Perempuan memiliki kondisi hidup yang beragam dengan kompleksitas yang cenderung berlapis-lapis atau beririsan dengan identitas lainnya.

Feminisme borjuis merupakan gerakan feminisme yang mengedepankan pandangan perempuan kelas atas alias kaum borjuis.

Gerakan ini sudah pernah dikritik oleh Alexandra Kollontai melalui esainya yang berjudul The Social Basis of the Woman Question (1909).

Dalam tulisannya, Kollontai menyoroti bahwa gerakan feminisme borjuis mengabaikan kesulitan yang dialami perempuan kelas pekerja di lapis sosial ekonomi bawah. Perempuan borjuis berjuang demi mendapatkan hak politik, akses ke berbagai profesi, termasuk pendidikan.

“Bagi kaum feminis, mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki dalam sistem kapitalisme saat ini sudah menjadi tujuan penting. Namun, bagi perempuan dari kelas pekerja, kesetaraan hak hanyalah langkah awal untuk melanjutkan perjuangan hidup yang lebih adil dan melawan eksploitasi ekonomi yang mereka alami,” tulis Kollontai.

Pemenuhan hak disebut hanya mampu memperbaiki kehidupan para perempuan borjuis. Di satu sisi, perempuan pekerja atau kaum proletar masih harus memperjuangkan kehidupan yang layak dengan melawan sistem kelas yang secara terus-menerus menindas mereka.

Gerakan feminis borjuis lahir dari pemikiran yang mengabaikan persoalan kelas. Akibatnya, feminisme borjuis dinilai kurang mampu melihat bagaimana struktur ekonomi dan ketimpangan kelas turut memengaruhi pengalaman perempuan.

Feminisme Borjuis dalam Balutan Girlboss Feminism

Pada era modern, pemenuhan hak perempuan tentu telah mengalami banyak perkembangan sejak masa Kollontai pada 1909. Namun, gagasan yang dikritik sebagai feminisme borjuis masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk feminisme masa kini.

Salah satu contohnya adalah girlboss feminism yang dipopulerkan oleh Sophia Amoruso pada 2014 melalui buku berjudul #Girlboss. Pendiri jenama fesyen Nasty Gal ini memperkenalkan dirinya sebagai pebisnis perempuan yang berhasil membangun kesuksesan dari nol.

Melalui kisahnya, Amoruso menempatkan dirinya sebagai sosok yang dianggap dapat memberdayakan perempuan lain untuk mengejar kesuksesan serupa.

Usaha dan pencapaian Amoruso sebagai perempuan tentu perlu diapresiasi. Namun, narasi girlboss tidak lepas dari kritik karena menempatkan keberhasilan individu sebagai ukuran utama pemberdayaan perempuan.

Dalam kerangka ini, perempuan dianggap telah berdaya ketika mereka berhasil menduduki kedudukan tinggi, memiliki karier mapan, menjadi pemimpin, atau membangun bisnis yang sukses, sebagaimana laki-laki.

Persoalannya, keberhasilan satu perempuan tidak serta-merta berarti kondisi perempuan secara keseluruhan ikut membaik.

Narasi girlboss feminism cenderung mengabaikan pertanyaan yang lebih krusial sekaligus struktural. Siapa yang menopang kesuksesan tersebut? Apa perempuan dari kelas sosial berbeda memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan tersebut? Lalu, bagaimana kondisi para pekerja yang berada di bawah naungannya?

Kritik ini menjadi semakin relevan ketika narasi girlboss tumbuh dalam industri seperti fesyen, media, hiburan, atau kosmetika yang memiliki sejarah panjang terkait persoalan ketenagakerjaan dan eksploitasi pekerja.

Perempuan yang berhasil menjadi pemimpin atau berkarier dengan mapan dalam industri tersebut memang dapat memecahkan batas gender di level tertentu. Di sisi lain, keberhasilannya tidak otomatis mengubah sistem ekonomi yang membuat perempuan lain tetap berada dalam posisi rentan.

“Girlboss feminism ingin meyakinkan kita bahwa kromosom XX memiliki kekuatannya sendiri. Perempuan bukan bos biasa, mereka keren, bos berkekuatan super!” ujar Leah Sheppard, PhD dalam tulisannya Psychology Today.

Sheppard menyayangkan narasi tersebut karena mengandung standar ganda dalam melihat perbedaan antara perempuan dan laki-laki.

Perbedaan gender cenderung dilihat secara negatif ketika tidak menguntungkan perempuan. Namun, ketika perbedaan tersebut membuat perempuan terlihat lebih unggul daripada laki-laki, kita cenderung menerimanya dengan tangan terbuka.

Bahkan, istilah girlboss itu sendiri mengandung ironi. Perempuan dipuji karena berhasil mencapai posisi yang selama ini dianggap sulit dicapai oleh perempuan. Namun, ukuran keberhasilannya tetap menggunakan standar yang sama dalam sistem ekonomi masyarakat kapitalis, yaitu bisa jadi pemimpin, menghasilkan keuntungan, dan mencapai kesuksesan secara individual.

Di titik inilah girlboss feminism penting untuk dikritik karena tidak memiliki kesadaran kelas.

Narasi feminis girlboss berfokus pada bagaimana seorang perempuan dapat mendobrak batas dan mencapai puncak, bukan pada bagaimana batas tersebut dapat diubah agar lebih banyak perempuan, termasuk perempuan kelas pekerja, memiliki kehidupan layak.

Dengan kata lain, kesuksesan satu perempuan tidak otomatis menjadi liberasi atau pembebasan bagi perempuan lainnya.

Seiring feminisme berhenti pada gagasan bahwa semakin banyak perempuan yang menjadi bos berarti semakin dekat pada kesetaraan, persoalan struktural yang dialami ribuan bahkan jutaan perempuan lain semakin berisiko terabaikan.

Feminisme: Dari dan Untuk Semua Perempuan

Menjadi feminis berarti membangun kepekaan terhadap kehidupan perempuan dari berbagai latar belakang, sektor, dan kelas sosial.

Dalam konteks ini, feminisme tidak sebatas berkoar-koar tentang keberhasilan atau pemberdayaan segelintir perempuan di kalangan urban perkotaan terdidik dengan privilese, tetapi juga memahami kesulitan, ketimpangan, dan penindasan yang dialami perempuan lain dengan latar sosioekonomi berbeda, tak terkecuali yang berada di daerah rawan konflik atau kawasan desa tertinggal.

Kebebasan perempuan baru dapat tercapai ketika seluruh perempuan memiliki kesempatan untuk hidup secara layak. Tanpa kesadaran kelas, feminisme berisiko hanya memperjuangkan kemajuan sebagian perempuan, sedangkan kondisi mereka dari kelas sosial dan ekonomi yang lebih rentan tetap terabaikan.

Seperti yang dikatakan bell hooks, “Tidak mungkin ada yang namanya ‘kekuasaan feminisme’ jika visi kekuasaan yang dimaksud adalah kekuasaan yang diperoleh melalui eksploitasi dan penindasan terhadap orang lain.”

Masih adanya gagasan feminis yang kurang inklusif dan bias kelas menunjukkan bahwa perjuangan menuju kesetaraan masih panjang.

Feminisme tidak cukup hanya membuka jalan bagi sebagian atau segelintir perempuan untuk mencapai puncak. Feminisme juga perlu memastikan bahwa semakin banyak perempuan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dirinya dan menjalani kehidupan yang layak.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Binar
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih