Menuju konten utama

Floodlighting: Mengumbar Sisi Rentan di Awal Kencan

Kebiasaan mengumbar kerentanan diri saat kencan pertama seolah-olah jadi hal lumrah. Padahal, perilaku ini dapat memicu tekanan emosional pada lawan bicara.

Floodlighting: Mengumbar Sisi Rentan di Awal Kencan
Header Diajeng terlalu mengumbar saat kencan. foto/istockphoto

diajeng.id - Apa kamu pernah mendengar cerita tentang orang yang pada awal kencan langsung menceritakan informasi pribadi atau mengumbar rahasia masa lalu sebelum rasa saling percaya atau intimasi sejati terbentuk? Atau, kamu pernah mengalami sendiri; menjalani kencan pertama dengan orang yang mengumbar hal-hal terlalu personal?

Dalam dinamika kencan modern, situasi tersebut dikenal dengan istilah floodlighting.

Artikel "The ‘floodlighting’ dating trend is totally toxic — here’s why" di laman Today menyebutkan, kebiasaan mengumbar masa lalu ini seolah-olah menjadi hal yang lumrah di tengah maraknya konten-konten yang mewajarkannya di media sosial. Di satu sisi, perilaku ini bukan bentuk keterbukaan yang sehat. Floodlighting bisa jadi sebuah pemicu tekanan emosional.

Sejatinya yang terjadi pada kencan pertama adalah percakapan hangat untuk saling mengenal, alih-alih sesi terapi dan curhat yang mendalam.

Menukil Happiful, floodlighting bisa dideskripsikan lewat contoh kencan pertama lewat aktivitas makan malam bersama. Dalam waktu singkat, pasangan kencanmu tiba-tiba menceritakan trauma masa kecil, perceraian orang tua, atau patah hati terberatnya secara mendalam.

Awalnya, kamu mungkin merasa ada ikatan batin yang kuat karena teman kencan tersebut terkesan berani dan vulnerable (rentan). Namun, seusai kencan, kamu jadi kelelahan secara emosional dan akhirnya merasa terbebani.

Disadari maupun tidak, pengungkapan trauma yang sangat cepat ini menempatkan pelaku sebagai pihak yang membutuhkan pertolongan, sehingga mendorongmu untuk mengambil peran sebagai "penyelamat" alias rescuer atau savior.

Apa sebenarnya yang menyebabkan beberapa orang floodlighting?

Alasan Memulai Floodlighting

Dalam penjelasan di situs The Attachment Project, istilah yang dipopulerkan oleh pembawa acara siniar sekeligus peneliti Brené Brown ini memiliki tiga alasan utama, yaitu untuk menguji penerimaan (testing for acceptance), mempercepat kedekatan (fast-tracking intimacy), dan menggunakan kedok kerentanan sebagai perisai perlindungan (veil of vulnerability).

Brown melahirkan istilah ini berdasarkan pengalaman pribadinya, yang juga merujuk pada penelitian psikologi sosial sebelum-sebelumnya tentang pengungkapan diri (self-disclosure).

Ada orang yang mungkin mengumbar kekurangannya sejak awal untuk menguji apakah calon pasangan sanggup menerimanya, atau mencoba "memotong kompas" agar mereka bisa segera merasa dekat.

Berbeda dengan kerentanan autentik yang berkembang secara bertahap, floodlighting bersifat sepihak dan prematur, serta cenderung dipicu oleh gaya kelekatan cemas (anxious attachment) .

Dampak Buruk Floodlighting

Masih menukil The Attchment Project, dampak buruk floodlighting terhadap hubungan hampir mirip seperti perilaku love bombing. Perbedaannya, jika love bombing pada awalnya membanjiri pasangan dengan berbagai hadiah, pelaku floodlighting membombardir pasangan dengan cerita traumatik untuk menciptakan ilusi keintiman instan.

Floodlighting juga kurang pas untuk disamakan dengan oversharing. Orang yang oversharing umumnya menceritakan hal-hal yang tidak toksik karena karakternya cenderung terbuka dan blak-blakan. Oversharing juga bisa disebabkan oleh rasa gugup saat kencan pertama, keinginan untuk segera mengisi atau menghindari suasana yang canggung, atau pun bentuk lain dari kecemasan sosial yang sebenarnya tidak berbahaya.

Sementara floodlighting lebih pada memberikan tekanan emosional yang tidak adil kepada pasangan yang mendengarkan karena adanya norma timbal balik, sehingga pendengar merasa terpaksa untuk ikut membagikan rahasia pribadinya meskipun merasa tidak nyaman. Hubungan yang dipaksakan lewat metode ini cenderung rapuh karena tidak berlandaskan fondasi kepercayaan yang organik.

Apa yang bisa kita lakukan ketika berhadapan dengan teman kencan yang melakukan floodlighting? Yang paling penting, alihkan topik secara halus. Ucapkan kalimat seperti, "Terima kasih sudah berbagi, tapi aku mau tahu lebih banyak tentang hobi atau pekerjaanmu."

Apabila kamu menyadari kecenderunganmu sebagai pihak yang melakukan floodlighting, pakar hubungan Sarah Hodges melalui Today mengingatkan untuk bertanya pada diri sendiri, "Apa aku membagikan kerentananku ini untuk membangun hubungan autentik atau sekadar buat cari validasi?"

Setiap hubungan yang kita bangun dengan orang lain, lanjut Hodges, memerlukan ikatan emosional dan dapat diibaratkan seperti maraton, alih-alih lari cepat (sprint).

"Melangkah perlahan dan membiarkan kepercayaan tumbuh seiring waktu akan menghasilkan hubungan yang lebih kuat dan sehat," tukas Hodges.

Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih