Menuju konten utama

Future Faking dalam Relasi: Manipulasi dan Janji Kosong

Future faking adalah cara atau taktik untuk mempertahankan relasi dengan memberi janji palsu tentang masa depan bersama tanpa ada niat mewujudkannya.

Future Faking dalam Relasi: Manipulasi dan Janji Kosong
Header Diajeng Future Faking dalam Relasi. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Ketika menjalin hubungan asmara dengan orang baru, apa kamu sudah merasa sangat diistimewakan meski kalian baru berada di awal relasi?

Sosok tersebut selalu menjanjikan kalian akan menikah, pergi liburan mewah bersama, membeli rumah impian, sampai sudah menentukan nama untuk calon anak.

Mendengar itu semua tentu bisa bikin kamu berbunga-bunga. Bayangan hidup bahagia pun sudah terbentuk di dalam kepala.

Namun, seiring waktu berjalan, janji-janji manis itu menguap begitu saja.

Begitu kamu menanyakan dan menagih janji-jani itu, yang tersisa hanya tumpukan alasan.

Kalau kamu pernah terjebak dalam pola relasi demikian, kamu bisa jadi menjadi korban future faking oleh pasangan yang manipulatif.

Apa Itu Future Faking?

Melansir The Independent, future faking merujuk pada cara atau taktik seseorang yang memberikan janji-janji palsu tentang masa depan bersama tanpa ada niat nyata untuk mewujudkannya.

Fenomena ini pada dasarnya adalah "janji palsu" yang digunakan untuk mendapatkan sesuatu darimu di masa sekarang, baik itu perhatian, validasi, komitmen, atau bahkan keuntungan finansial dan seksual, dengan memanfaatkan harapanmu akan masa depan.

Meskipun perilaku ini bisa terjadi dalam berbagai konteks relasi, seperti persahabatan (misalnya, janji untuk selalu ada tapi malah sering absen) atau dunia kerja (janji kenaikan gaji atau promosi dari atasan yang tidak pernah terwujud), dampaknya paling merusak ketika terjadi dalam relasi asmara.

Di tahap awal hubungan, pelaku future faking sering menggunakan janji masa depan sebagai bagian dari love bombing; membanjiri pasangan dengan kasih sayang dan perhatian ekstrem untuk menciptakan ketergantungan emosional yang cepat.

Antara Ketakutan akan Komitmen dan Attachment Styles

Menariknya, tidak semua tindakan future faking dilakukan dengan niat jahat atau manipulasi secara sadar.

Menurut pakar terapi pernikahan dan keluarga, Julie Menanno, banyak orang mengucapkan janji-janji tersebut karena pada saat itu mereka benar-benar percaya dapat mewujudkannya.

"Saat dua orang menjalin hubungan dan saling tertarik, mereka cocok, memiliki minat yang sama, dan merasa sangat serasi, mudah sekali untuk bilang, 'Hubungan ini akan jadi luar biasa, lihat, kita bisa membangun masa depan yang indah bersama-sama,'" ujar Menanno.

Namun, ketika konflik mulai muncul dan hubungan menuntut kedekatan serta tanggung jawab yang semakin intens, lanjutnya, orang-orang dengan fobia komitmen (commitment-phobes) mulai merasa cemas dan tertekan.

"Mungkin ada masa-masa indah, tetapi ada cukup banyak momen buruk yang membuat orang yang awalnya ingin membangun masa depan impian, mulai merasa cemas bahwa itu ternyata tidak akan seindah yang dibayangkan," kata Menanno.

Bagi mereka yang memiliki gaya kelekatan menghindar (avoidant attachment style), kedekatan emosional yang intim dapat terasa menyesakkan dan membuat mereka seakan-akan "terperangkap".

Di sinilah future faking menjadi mekanisme pertahanan diri yang tidak disadari untuk mempertahankan hubungan tanpa harus benar-benar berkomitmen secara mendalam.

Mereka ingin merasakan keintiman, akan tetapi di saat yang sama takut akan keintiman tersebut, sehingga mereka terus menggantungkan janji-janji manis agar pasangannya tidak pergi.

Kaitan Erat dengan Kepribadian Narsis

Meskipun future faking bisa terjadi secara tidak sengaja akibat rendahnya regulasi diri, taktik ini sangat sering digunakan sebagai alat manipulasi yang disengaja oleh orang dengan kecenderungan narsis.

Artikel berjudul "How Narcissists Use Future Faking to Manipulate You Into a Relationship" di Verywell Mind menulis, orang narsisis menggunakan future faking untuk mengontrol pasangannya dan menghindari pertanggungjawaban.

Dr. Sabrina Romanoff, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa kaum narsisis menciptakan ilusi komitmen yang kuat dengan menyelaraskan kebohongan mereka dengan apa yang paling diinginkan oleh korbannya, seperti pernikahan atau hubungan yang stabil.

"[Kita] dihadapkan pada kenyataan bahwa kita tidak benar-benar mengenal sosok narsis tersebut, yang bertolak belakang dengan janji-janji indah dan masa depan yang begitu kita dambakan," ucapnya.

Hal ini membuat korban menjadi sangat rentan dan terbuka terhadap manipulasi karena percaya bahwa mereka sedang membangun ikatan emosional yang mendalam.

Psikoterapis Ricki Romm, LCSW, menambahkan bahwa dalam konteks narsisisme, perilaku ini lahir dari perpaduan rasa tidak aman (insekuritas) dan sikap tidak peduli (kurangnya empati).

Mereka menggunakan janji-janji masa depan untuk menghindari penolakan atau ditinggalkan, tanpa memikirkan rasa sakit yang ditimbulkan pada pasangannya.

Ketika ditagih atau dikonfrontasi soal janji yang pernah disampaikan, orang narsisis biasanya akan mengeluarkan berbagai alasan penolakan seperti, "Jangan bicara ini sekarang ya", "Maaf waktunya enggak tepat, sayang", atau "Mari kita tunggu sampai tabungan kita cukup".

Tidak jarang pula mereka menolak bertanggung jawab, menyalahkan pasangan, dan menolak mencari bantuan pihak ketiga.

Tanda-Tanda Sedang Mengalami Future Faking

Penting untuk membedakan antara pasangan yang benar-benar bersemangat merencanakan masa depan dengan mereka yang melakukan future faking.

Situs The Attachment Project menjelaskan beberapa tanda bahaya (red flags) yang perlu diwaspadai. Salah satunya, kamu terlalu sering menelan kekecewaan akibat banyaknya harapan yang harus kandas lantaran janji yang disampaikan hanya berlalu tanpa ada kejelasan.

Kamu juga sadar bahwa semua ucapan pasanganmu tidak ada yang pernah terwujud. Misalnya, ketika pasanganmu antusias membicarakan rencana-rencana masa depan, tetapi kamu paham itu semua hanya omongan belaka. Sebab, kamu tahu, pasanganmu tidak pernah mengambil langkah konkret untuk mewujudkannya.

Tak hanya itu, ketika kamu mencoba mengambil inisiatif untuk merealisasikan rencana kalian, pasanganmu malah menghindar atau melarangmu untuk melakukannya.

Pada beberapa contoh, kamu sadar bahwa janji-janji masa depannya terdengar terlalu "wow" untuk menjadi kenyataan (too good to be true) dan tidak sesuai dengan usia hubungan kalian yang masih sangat baru.

Selain itu, orang yang suka future faking cenderung melemparkan janji-janji manis tentang masa depan ketika kamu menyatakan kekhawatiran atau keraguan tentang hubungan kalian. Mereka pun terkesan mencoba mempercepat hubungan, baik secara fisik maupun finansial di awal pertemuan.

Langkah untuk Memastikan Keseriusan Pasangan

Apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dari jerat manipulasi janji kosong?

Artikel Psychology Today yang ditulis oleh Dr. Bruce Y. Lee tahun 2024 "How Future Faking Can Be Used to Manipulate You" merekomendasikan delapan pertanyaan kritis yang harus kamu ajukan pada diri sendiri dan pasanganmu:

  1. Seberapa realistis visi masa depan yang dijanjikannya? Apakah rencana tersebut masuk akal secara logis, atau membutuhkan keajaiban di luar nalar untuk mencapainya? Apa bukti konkret bahwa pasanganmu sanggup memenuhinya?
  2. Bagaimana reaksinya saat kamu mempertanyakan visi tersebut? Apakah mereka merespons dengan argumen defensif seperti menuduhmu terlalu pesimistis, atau bersedia menjawab dengan keterbukaan?
  3. Apa tindakan nyata yang sedang dia lakukan? Apakah pasanganmu benar-benar berinvestasi (waktu, tenaga, atau finansial) untuk masa depan tersebut, atau pasif dan membiarkanmu menanggung bebannya?
  4. Berapa banyak janji yang sudah ditepatinya sejauh ini? Apakah interaksimu dengannya selama ini konsisten dan memuaskan, atau dipenuhi janji yang terus dilanggar?
  5. Apakah pasanganmu meminta maaf dan bertanggung jawab saat gagal? Ketika rencana gagal, apakah dia menunjukkan penyesalan yang tulus dan mencoba memperbaiki keadaan, atau berusaha mencari kambing hitam dan menyalahkanmu?
  6. Apakah kamu merasa terburu-buru atau ditekan? Apakah kamu merasa seperti sedang ditawari sebuah kesepakatan penjualan yang agresif (hard sell) agar segera berkomitmen dengan pasanganmu?
  7. Apa motivasi dasarnya? Apakah pasanganmu benar-benar peduli pada kesejahteraanmu, atau semua ini hanya demi memuaskan ego dan keinginannya sendiri?
  8. Apa yang dikatakan oleh intuisimu? Dengarkan sinyal fisik dan emosional dari tubuhmu. Apakah kamu merasa tenang dan aman, atau ada alarm internal yang membisikkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres?

Langkah Pemulihan dan Menjaga Batasan Diri

Menghadapi kenyataan bahwa orang yang kamu cintai melakukan future faking tentu sangat menyakitkan dan melelahkan secara emosional.

Namun, kamu bisa memulihkan diri dan melindungi kesehatan mentalmu dengan beberapa langkah praktis berikut:

1. Tegakkan Batasan Diri (Boundaries)

Terapis Ricki Romm menekankan agar kamu tidak mengorbankan kebutuhan relasional kamu saat ini demi janji manis masa depan. Jika suatu janji membuat kamu tidak nyaman, mintalah untuk menundanya hingga kamu merasa siap.

2. Beri Ruang untuk Konsistensi

Jangan terburu-buru mengambil keputusan besar di awal hubungan. Berikan jarak pada jadwal kencan kalian agar pasangan memiliki kesempatan untuk membuktikan janji-janjinya dengan tindakan.

3. Dengarkan Tubuhmu

Ambil waktu untuk menyadari emosi dan sensasi fisik saat kamu sedang bersamanya. Tubuh kita sering mendeteksi "bendera kuning" atau bahkan "red flags" sebelum pikiran kita betul-betul menyadarinya.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih