diajeng.id - Gaslighting merupakan fenomena bullying atau perundungan yang semakin banyak diperbincangkan dalam dinamika dunia kerja.
Kepala Bidang Divisi Inklusi, Kesetaraan, dan Dampak di firma teknologi Carta, Mita Mallick dalam sebuah wawancara siniar dengan Harvard Business Review (HBR) pada 2021 memberikan contoh paling simpelnya.
Mallick memberikan pengandaian bahwa dirinya telah menampar pipi sang pembaca acara. Lalu, si pembawa acara bertanya pada Mallick, kenapa menamparku? Mallick memberi respons ringan, "Nggak kok, aku nggak menampar kamu. Itu tidak terjadi."
"Inilah bentuk kekerasan psikologis yang memungkinkan orang lain untuk menguasai dan mengendalikanmu, dalam konteks kerja. Mirip dengan relasi personal, yang secara historis memang sering menggunakan istilah gaslighting. Intinya, orang itu berbohong dengan maksud menjatuhkan atau menggagalkanmu. Upaya melemahkan, memanipulasi, dan meyakinkan kamu bahwa kamulah masalahnya," lanjut Mallick.
Dibandingkan bullying dalam wujud intimidasi fisik, gaslighting bekerja secara psikologis. Korban perlahan jadi meragukan diri sendiri, merasa bingung, dan kehilangan kepercayaan diri seiring mempertanyakan kembali ingatan, kinerja, akuntabilitas, dan persepsi tentang realitas yang sesungguhnya.
Definisi Gaslighting sebagai Bentuk Bullying
Dalam laman The Safety Mag dijelaskan, gaslighting di tempat kerja adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis dan perilaku toksik yang menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat.
Secara mendasar, gaslighting didefinisikan sebagai taktik manipulatif yang digunakan seseorang untuk membuat orang lain meragukan persepsi, ingatan, atau kewarasan mereka sendiri.
Dalam konteks profesional, praktik ini sering disebut sebagai "bullying tempat kerja yang halus" (subtle workplace bullying), penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan dengan niat sengaja untuk mengendalikan orang lain atau situasi tertentu.
Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology, Kukreja & Pandey (2023) juga merinci gaslighting ke dalam dua dimensi utama: trivialization (meremehkan perspektif dan realitas bawahan) dan affliction (penderitaan yang ditimbulkan oleh atasan kepada bawahan).
Contoh Praktik Gaslighting di Tempat Kerja
Praktik gaslighting bisa terjadi secara halus maupun terang-terangan. Masih melansir The Safety Mag dan situs National Bullying Helpline, berikut adalah beberapa contoh nyatanya:
1. Penyangkalan Fakta dan Distorsi Realitas
Pelaku gaslighting mungkin menolak mengakui percakapan atau janji yang pernah dibuat dengan kalimat seperti, "Saya tidak pernah mengatakan itu," atau, "Jangan-jangan kamu salah ingat."
2. Eksklusi yang Disengaja
Mengeluarkan seseorang dari diskusi penting, tidak mengundang ke rapat yang relevan, atau menghapus nama seseorang dari kontribusi pekerjaan untuk meremehkan peran atau posisi mereka.
3. Pemberian Informasi yang Tidak Transparan
Tidak memberi informasi penting atau hanya memberikan informasi sedikit demi sedikit (drip-feeding) untuk membuat karyawan merasa bingung atau seolah-olah "disiapkan untuk gagal".
4. Memindahkan "Tiang Gawang" (Moving goal-posts)
Mengubah deskripsi pekerjaan atau target kerja secara sepihak tanpa diskusi atau dasar kebijakan yang jelas.
5. Narasi Palsu dan Proyeksi
Memberikan umpan balik positif di depan karyawan tersebut, akan tetapi berbicara negatif mengenai kinerja mereka kepada pimpinan langsungnya. Pelaku juga sering menyalahkan korban dengan menuduh mereka "terlalu sensitif" atau "irasional" saat korban mencoba membela diri.
6. Ketidakkonsistenan Kebijakan
Menolak mengikuti prosedur resmi perusahaan kecuali jika hal itu menguntungkan pihak manajemen, seperti mengabaikan keluhan formal karyawan namun sangat keras dalam menerapkan tindakan disipliner.Pada akhirnya, kita perlu belajar mengenali tanda-tanda gaslighting sebagai langkah pertama untuk melindungi diri. Gaslighting sekilas memang terdengar seperti perbedaan atau perselisihan pendapat, akan tetapi di dalamnya terdapat pola manipulasi yang bertujuan untuk merusak kepercayaan diri dan kredibilitas seseorang di lingkungan profesional.
Kalau kamu merasakan pola-pola di atas, penting untuk mulai mendokumentasikan setiap interaksi dan mencari dukungan demi menjaga kewarasan di tempat kerjamu.
Simak juga artikel seputar karier dan pekerjaan di sini.
Editor: Sekar Kinasih