Menuju konten utama

Mengapa Rasanya Patah Hati Setelah Ditinggal Resign Rekan Kerja?

Duka dan kehilangan saat rekan kerja pergi adalah pengalaman yang valid karena kita bertemu setiap hari untuk berbagi rutinitas di kantor.

Mengapa Rasanya Patah Hati Setelah Ditinggal Resign Rekan Kerja?
Header Diajeng Teman Resign. tirto.id/Quita

diajeng.id - Bagi Santi, seorang pekerja milenial yang telah menghabiskan lima tahun terakhir di sebuah perusahaan swasta di jantung Jakarta, kantor sudah menjadi rumah kedua.

Namun begitu, suasana setelah Lebaran kemarin terasa berbeda.

Satu per satu rekan kerja yang selama ini menjadi "support system alias sistem pendukung" kerja dan begitu dekat dalam kesehariannya mengundurkan diri untuk mencari kesempatan kerja lebih baik di luar.

Kepergian mereka meninggalkan kekosongan yang nyata, karena meja-meja yang biasanya penuh canda kini sepi. Santi pun jadi sering bersedih dan termenung beberapa waktu sampai rasanya tidak selera makan.

Apa yang dirasakan Santi bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Perasaan berduka dan kehilangan saat rekan kerja pergi adalah realitas yang valid.

Meskipun hubungan dengan rekan kerja mungkin berbeda dengan sahabat masa kecil, ikatan yang terjalin di lingkungan profesional memiliki kedalaman tersendiri.

Sebuah riset menyebutkan bahwa kita menghabiskan rata-rata 81 ribu jam atau lebih dari sembilan tahun dalam hidup kita untuk bekerja.

Dalam waktu yang begitu lama, rekan kerja menjadi orang-orang yang menyaksikan keseharian kita secara intens.

Persahabatan di kantor acap disebut sebagai sesuatu yang "indah tapi aneh" karena kita bertemu mereka setiap hari, berbagi rutinitas dari menyapa di pagi hari sampai mengeluh bersama tentang hari Senin.

Rekan kerja adalah orang-orang yang paling memahami tekanan pekerjaan, perilaku atasan, hingga rasa frustrasi internal yang mungkin tidak dimengerti oleh orang luar.

Seperti yang pernah diungkapkan penulis Adrian Granzella Larssen di artikel The Muse, tidak perlu menutup-nutupi kenyataan bahwa rasanya sangat menyebalkan saat sahabat kerja terbaik kita pergi.

Kehilangan mereka, menurut Larssen, berarti kehilangan pendengar setia dan pilar kekuatan saat menghadapi tantangan profesi.

"Itu terasa menyakitkan. Tentu saja aku senang dengan babak baru dalam hidupnya, tetapi aku tahu bahwa tidak bisa lagi mengobrol atau minum kopi dengannya, dan ini akan terasa sulit," tulis Larssen.

Larssen melanjutkan, meski keduanya masih bisa tetap berteman, tapi tentu saja semuanya berubah, karena mereka tidak bisa bertemu setiap hari. Mungkin pertemuan hanya bisa dilakukan di akhir pekan. Otomatis, akan tercipta rutinitas baru.

Kalian mungkin membangun hubungan yang lebih dekat dengan rekan kerja lain atau akan melanjutkan hidup. Apa pun itu, kamu juga akan menemukan versi "normal baru".

"Kali ini, aku akan mengizinkan diriku untuk merasa sedih," imbuhnya.

Rasa sedih ini adalah bentuk duka atas hilangnya seseorang yang telah berkontribusi bagi tim dan hidup kita secara personal.

Menurut Elisabeth Kübler-Ross dalam buku berjudul On Death and Dying yang terbit tahun 1969, seseorang bisa mengalami lima tahap duka: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, hingga akhirnya penerimaan, meskipun urutannya tidak selalu linear.

Mengatasi Rasa Sedih dan Melangkah Maju

Jika kamu saat ini sedang berada di posisi seperti Santi, berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa diambil untuk mengelola rasa sedih dan tetap profesional seperti dinukil laman Calm Collective dan The Undercover Recruiter:

1. Berikan Ruang untuk Menenangkan Diri

Setelah mendengar kabar pengunduran diri, kamu bisa mengambil jeda sejenak untuk menenangkan dirimu yang sedang bersedih.

Berjalan-jalanlah sebentar untuk menghirup udara segar atau sekadar menikmati kopi di coffee shop di luar kantor untuk mengumpulkan pikiran kembali segar.

Ingatkan diri sendiri bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Kamu masih akan baik-baik saja.

2. Tetap Positif dan Berikan Selamat

Meskipun terasa sangat personal, cobalah untuk tetap profesional. Berikan selamat atas pencapaian rekanmu di kantor.

Mereka mungkin mendapatkan promosi atau gaji yang lebih baik. Dukungan darimu akan sangat berarti bagi mereka dalam menjalani transisi kerja yang mungkin juga penuh dengan stres.

3. Mulailah Proses Serah Terima (Handover) Lebih Awal

Untuk mencegah rasa kesal di kemudian hari, pastikan proses serah terima pekerjaan dilakukan secara terukur.

Memahami tanggung jawab yang ditinggalkan dengan jelas akan membantu kamu merasa lebih siap secara profesional dan mengurangi rasa terbebani setelah mereka pergi.

4. Refleksi Karier Pribadi

Gunakan momen ini untuk mengevaluasi diri. Apa kamu sedih karena kehilangan teman, atau karena kamu merasa "tertinggal" di saat orang lain maju?

Kepergian rekan kerja bisa menjadi inspirasi positif untuk melihat peluang naik jabatan atau mengevaluasi kembali rencana karier masa depanmu.

5. Perluas Jejaring Internal

Jangan membatasi diri pada satu lingkaran saja.

Cobalah untuk berkenalan dengan rekan dari departemen lain, terlibat dalam inisiatif perusahaan, atau sekadar ikut acara minum kopi bersama kolega baru untuk membangun koneksi baru.

6. Jaga Komunikasi dan Buat Kenangan Manis

Resign bukanlah akhir dari pertemanan. Kamu bisa merencanakan makan siang perpisahan sebagai kenangan terakhir yang menyenangkan di kantor.

Di luar pekerjaan, kamu bahkan mungkin bisa menjadi teman yang lebih baik karena tekanan kantor sudah tidak lagi menjadi penghalang.

Kehilangan dan proses berduka adalah bagian alami dari kehidupan, termasuk di dunia kerja.

Meski sulit, melalui "kehilangan" inilah kita belajar menghargai hubungan yang telah terjalin dan nilai tak ternilai yang dibawa oleh kehadiran orang lain dalam dunia profesional kita.

Bagi Santi, dan siapa pun yang sedang merasa patah hati karena ditinggal rekan kerja, ingatlah untuk tidak terburu-buru merasa "baik-baik saja".

Izinkan dirimu untuk memproses emosi tersebut dengan sehat.

Simak juga artikel seputar profesi dan relasi kerja di sini.

Baca juga artikel terkait KARIER atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih