Menuju konten utama

Di Tengah Ketidakpastian, Cobalah Mewarnai untuk Redakan Anxiety

Riset menunjukkan bahwa aktivitas mewarnai adalah bentuk terapi relaksasi mandiri yang aman dan terjangkau untuk mengatasi kecemasan harian.

Di Tengah Ketidakpastian, Cobalah Mewarnai untuk Redakan Anxiety
Ilustrasi kolase komposit garis doodle warna biru. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di tengah hiruk-pikuk hidup sehari-hari dengan segala problematika strukturalnya, mulai dari korupsi pejabat dan kenaikan harga berbagai komoditas hingga lanskap politik elite yang gonjang-ganjing, kita sebagai warga negara yang tangguh tentu berusaha sebaik mungkin untuk bertahan. Caranya beragam, dengan terus bekerja keras, konsisten menyuarakan pendapat dan memprotes penguasa, serta menjaga dan menguatkan satu sama lain melalui aksi-aksi kolektif yang membumi.

Di tengah berbagai upaya tersebut, kita tidak boleh lupa pentingnya menyediakan ruang untuk beristirahat. Dihadapkan pada situasi yang memicu kecemasan bukan berarti kita tidak boleh menjaga diri melalui aktivitas yang praktis dan menenangkan.

Olahraga, membaca buku, dan berkegiatan bersama komunitas adalah beberapa bentuk strategi perawatan diri (self-care) yang bisa kita lakukan di tengah ketidakpastian saat ini. Selain itu, aktivitas mewarnai juga bisa menjadi salah satu pilihan.

Mewarnai memang identik dengan kegiatan anak-anak. Namun pada hari-hari ini buku mewarnai dewasa, dengan pola rumit seperti mandala hingga gambar lanskap rinci, mulai dikenal sebagai sarana terapi relaksasi yang banyak digemari untuk meredakan stres dan kecemasan. Tertarik mencobanya di kala kecemasan menyerang?

Mengapa Mewarnai Efektif Meredakan Kecemasan?

Artikel berjudul "Can Coloring Really Help You Relax? 9 Reasons to Try Adult Coloring" di laman Healthline menjelaskan, aktivitas mewarnai bagi orang dewasa memberikan berbagai dampak positif bagi kesehatan mental.

Manfaat utamanya terletak pada fungsinya sebagai bentuk distraksi positif. Saat kita memfokuskan perhatian pada sapuan warna di atas kertas, pikiran sejenak teralih dari tumpukan beban kerja dan kekhawatiran yang memicu kecemasan.

Psikolog Michele Goldman menjelaskan bahwa gerakan tangan yang berulang saat mewarnai memiliki efek menenangkan dan mendamaikan bagi sebagian orang yang sedang mengalami stres berat serta kecemasan berlebih.

“Kita semua sering memiliki terlalu banyak beban pikiran sehingga perlu ‘mematikan’ atau ‘melepaskan diri’ sejenak; dalam hal ini, mewarnai bisa menjadi teknik pengalihan perhatian jangka pendek,” ujar Goldman.

Sebuah penelitian tahun 2012 pernah melaporkan warna-warna seperti biru dan pink juga dikaitkan dengan penurunan tingkat stres. Aktivitas ini turut memicu flow state (kondisi "terhanyut" fokus), ketika belahan otak kiri dan kanan bekerja secara selaras untuk memproses bentuk, koordinasi motorik halus, dan keputusan warna.

Proses berulang ini melatih kesadaran penuh (mindfulness), sehingga membantu kita untuk lebih hadir pada momen saat ini tanpa terganggu oleh pikiran negatif.

Mewarnai sebelum tidur juga menjadi rutinitas malam yang ideal karena bebas dari paparan radiasi blue light layar pintar yang berisiko mengganggu hormon melatonin dan kualitas tidur.

Mewarnai Bikin Fokus Terjaga dan Bebas Berkreasi

Luluk (22), menyatakan kegiatan mewarnai merupakan salah satu kegiatan yang sangat dinikmati bagi dirinya yang mempunyai kepribadian introvert.

"Mewarnai itu menarik karena selain sederhana dan bisa bikin relaks, mewarnai tetap bisa membuat kita fokus dan bisa berkreasi sesuai dengan yang kita mau," ujarnya saat berbincang dengan Diajeng baru-baru ini.

Perempuan yang sedang menggarap skripsi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA), Yogyakarta ini mengaku, ketertarikannya dengan mewarnai dimulai sejak dirinya masih duduk di sekolah dasar.

"Dari awal memang suka main warna, tapi lama-lama juga merasa mewarnai bisa menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan untuk diri sendiri," imbuhnya.

Ketika sedang banyak pikiran, Luluk memang lebih suka melakukan sesuatu yang bisa bikin pikirannya sedikit terdistraksi.

"Nah, ketika mewarnai, saya jadi lebih fokus sama gambar yang sedang dikerjakan, mulai dari memilih warna sampai mengisi bagian detail gambarnya. Jadi, yang tadinya pikiran ke mana-mana, sedikit demi sedikit bisa lebih teralihkan," ucap Luluk.

Meski demikian, Luluk menegaskan, bukan berarti setelah mewarnai semua masalah yang dihadapinya langsung lenyap begitu saja. Setidaknya dengan mewarnai, Luluk jadi tidak terlalu memikirkan hal-hal yang membuat dirinya cemas.

"Setelahnya juga biasanya ada perasaan lebih lega dan suasana hati jadi lebih baik," kata Luluk.

Mewarnai, lanjut Luluk, merupakan kegiatan yang tidak terlalu menuntut kita untuk berpikir berat.

"Kita bisa melakukan sesuai keinginan sendiri, mau pilih warna apa, mau mulai dari bagian mana, semuanya bebas. Jadi, enggak ada tuntutan harus bagus atau harus sempurna juga," jelasnya.

Luluk menyebutkan, dirinya sendiri lebih menyukai gambar yang agak detail, karena bisa lebih menikmati ketika mewarnainya, apalagi jika bisa memadukan beberapa warna agar hasilnya kelihatan menarik.

"Biasanya juga lebih nyaman kalau dilakukan sambil mendengarkan musik. Jadi, menurut saya yang bikin menyenangkan itu bukan cuma hasil akhirnya, tetapi proses selama mewarnai itu sendiri," tukas Luluk.

Bukti Ilmiah: Dari Pola Mandala Hingga Pasien Klinis

Manfaat relaksasi dari mewarnai bukan sekadar klaim anekdotal, melainkan didukung oleh bukti riset ilmiah yang kuat.

Studi eksperimental oleh Nancy A. Curry dan Tim Kasser yang hasilnya dipublikasikan di Art Therapy:

Journal of the American Art Therapy Association (2005) menguji efektivitas mewarnai terhadap penurunan tingkat kecemasan.

Penelitian ini menemukan bahwa mewarnai pola geometris terstruktur seperti mandala secara signifikan lebih efektif menurunkan tingkat kecemasan dibandingkan dengan mewarnai pola biasa maupun menggambar bebas.

Bentuk bundar mandala yang utuh menciptakan sensasi ruang aman dan perlindungan psikologis bagi individu saat mewarnai.

Bukti efektivitas klinis diperkuat oleh penelitian Bosomtwe Samuel dan tim (2022) dalam jurnal Animal Models and Experimental Medicine (PMC NCBI). Uji klinis acak ini melibatkan 88 pasien rawat inap dengan Generalized Anxiety Disorder (GAD).

Hasil penelitian membuktikan bahwa pasien yang mendapatkan terapi mewarnai terstruktur (30-120 menit, 5 kali seminggu selama 3 minggu) sebagai pendamping pengobatan medis menunjukkan penurunan skor kecemasan yang jauh lebih besar pada skala Hamilton Anxiety Scale (HAMA) dan Self-Rating Anxiety Scale (SAS) dibandingkan kelompok kontrol yang hanya menerima terapi konvensional.

Terapi mewarnai ini juga terbukti secara signifikan meningkatkan emosi dan afek positif pada pasien.

Aktivitas mewarnai, contohnya seperti yang sering dilakukan Luluk, telah memberikan hasil nyata sebagai bentuk terapi relaksasi mandiri yang aman, terjangkau, dan menyenangkan untuk mengatasi kecemasan harian.

Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa mewarnai berfungsi sebagai terapi pendukung dan bukan pengganti konseling psikologis atau perawatan medis utama untuk kondisi mental kronis.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih