Menuju konten utama

Gelas dan Pouch Masih Jadi Suvenir Primadona di Pasar Asemka

Sekian tahun lamanya, kios-kios Pasar Asemka, Jakarta Barat menjadi saksi bagi keluarga dan pasangan yang memilih suvenir untuk hari-hari istimewa mereka.

Gelas dan Pouch Masih Jadi Suvenir Primadona di Pasar Asemka
Suvenir yang dijual di kios Dian Rizky Souvenir di Pasar Asemka. foto/Arrazani Hafidza

diajeng.id - Botol minum, mangkok bermotif bunga, pouch, kipas, korek api. Sedari lama, barang-barang itulah yang kerap dijadikan pilihan sebagai suvenir atau tanda mata dari keluarga mempelai untuk para tamu yang menghadiri resepsi pernikahan mereka.

Sekian tahun lamanya, kios-kios yang tersebar di kawasan Pasar Asemka, Jakarta Barat adalah saksi bagi para keluarga atau pasangan yang memilih dan memesan suvenir untuk hari-hari istimewa mereka, dari pesta pernikahan, perayaan ulang tahun, hingga berbagai acara syukuran.

Di antara beragam barang yang dipajang di kios-kios yang berjejer, gelas dan mangkuk masih mendominasi rak. Ada pula tas kecil, pouch atau dompet, tempat sabun, hingga tasbih yang bisa dipesan dengan tambahan nama atau inisial.

Pak Didin, penjaga kios Dian Rizky Souvenir, mengatakan bahwa gelas masih menjadi salah satu produk yang banyak dicari pembeli. Selain gelas, mangkuk dan piring juga kerap dipesan untuk berbagai acara.

“Sekarang yang bestseller masih gelas, terus mangkuk sama piring,” ujar Didin saat ditemui Diajeng Tirto pada Rabu (21/10).

Toko Dian

Aneka botol minum dan gelas yang dijual Dian Rizky Souvenir di Pasar Asemka. foto/Arrazani Hafidza. foto/Arrazani Hafidza

Alih-alih berwujud hiasan, pilihan suvenir kini cenderung mengarah pada barang-barang yang berguna untuk keperluan sehari-hari. Menurut Didin, pembeli tidak hanya mencari barang yang menarik, tetapi barang yang akan memiliki fungsi setelah dibawa pulang.

“Sekarang nyari-nyarinya yang punya manfaat, yang kepakai,” ujarnya.

Pilihan barang di kios yang dijaganya pun cukup beragam. Pembeli yang menginginkan suvenir praktis biasanya memilih botol minum kecil yang dilengkapi sedotan serta mangkuk kecil yang harganya dimulai dari ribuan rupiah saja. Sementara pembeli yang memiliki anggaran lebih besar biasanya memilih pouch.

Harga suvenir tergantung pada jenis barang, jumlah pesanan, serta penambahan inisial. Didin menjelaskan bahwa pesanan dengan teknik sablon biasanya dilakukan dengan jumlah minimal 100 buah, sedangkan untuk suvenir dengan teknik finishing emboss membutuhkan jumlah pesanan lebih banyak.

Di toko yang Didin jaga, pengunjung bisa membeli produk satuan, meski harganya tentu lebih mahal daripada pembelian grosir. Gelas yang dijual sekitar Rp6.500 untuk pesanan dalam jumlah banyak, misalnya, dijual Rp10 ribu jika dibeli satuan.

Meskipun begitu, tetap ada yang tertarik untuk membeli satuan, biasanya sebagai sampel. Contohnya Nadir (26) asal Jakarta Kota yang membeli satu botol minum kecil seharga Rp10 ribu.

“Kebetulan aku beli satu dulu, soalnya mau ngecek ini beneran bagus nggak ya untuk jadi suvenir nanti,” tutur Nadir.

Toko Dian

Aktivitas transaksi di kios Dian Rizky Souvenir di Pasar Asemka. foto/Arrazani Hafidza

Didin menjelaskan, pesanan umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk diselesaikan, serta tergantung pada jumlah dan jenis barang yang dipesan.

Bahkan, menurut ceritanya, ada pelanggan yang sudah memesan souvenir untuk acara pada Maret 2027. Dalam satu pesanan, jumlah barang yang diminta bisa mencapai 1.500 hingga 2.000 buah, tergantung jumlah undangannya.

Menjelang akhir tahun, biasanya ramai orang berdatangan untuk membeli suvenir terkait keperluan Natal. Namun, di balik keberagaman pilihan barang dan meningkatnya jumlah pesanan yang datang, Didin mengaku kondisi kiosnya tidak lagi seramai dulu.

Didin membandingkan situasi pasar sebelum pandemi COVID-19 dengan keadaan tahun ini.

“Kalau dulu sebelum corona, toko-toko ramai, sekarang mah sepi banget kalo hari biasa,” tuturnya. Didin juga bercerita bahwa sebagian toko yang pernah ditempatinya terpaksa gulung tikar.

Toko Fajar

Toko Fajar milik Ibu Yuni di Pasar Asemka, sudah berdiri sejak 1998. foto/Arrazani Hafidza

Tak jauh dari kios Dian Rizky, terdapat Toko Fajar milik Ibu Yuni. Beberapa kurir terlihat keluar-masuk kios beberapa kali untuk mengambil pesanan yang akan dikirim ke berbagai daerah, bahkan ke luar negeri.

Yuni menceritakan, Toko Fajar sudah berdiri sejak 1998.

“Kalo tempat saya banyak banget pesanan pouch yang ada inisial akhir-akhir ini. Mangkok juga,” ujar Yuni terkait suvenir yang populer dipesan dari tokonya.

Berbeda dari sejumlah kios yang bisa melayani pembelian satuan, Toko Fajar menjual barang secara grosir atau per paket. Pembeli yang ingin membeli satu barang bisa memesannya melalui e-commerce atau layanan perpesanan WhatsApp.

Menurut Yuni, sebagian besar pesanan suvenir dalam jumlah ratusan biasanya dilakukan melalui WhatsApp. Namun, pembeli juga bisa datang langsung ke toko sebelum memesan.

Toko Fajar

Suvenir yang dijual di Toko Fajar di Pasar Asemka. foto/Arrazani Hafidza

Bahkan, Yuni menuturkan, sebenarnya lebih banyak orang yang langsung datang ke toko. Menurut Yuni, mereka memilih datang langsung karena lebih mudah untuk menilai kualitas barang.

“Iya, soalnya kalo datang ke sini bisa lihat-lihat, ada yang rusak nggak, sesuai nggak,” ujarnya.

Pelanggan Toko Fajar datang dari berbagai daerah, mulai dari Bengkulu, Cianjur, Pontianak, hingga Papua. Yuni mengatakan, harga barang di tokonya bisa menjadi pertimbangan bagi pembeli di luar daerah.

“Soalnya kalau di Papua, satu item aja bisa sampai Rp20 ribu, sedangkan di toko saya cuma Rp6 ribu,” tuturnya.

Meski begitu, mengirim barang ke luar daerah maupun luar negeri memilik risiko tersendiri. Yuni mengaku pernah menerima pesanan piring dari pelanggan di Singapura. Barangnya pun harus dikemas dengan lapisan bubble wrap hingga lima lapis agar menekan risiko pecah di perjalanan.

“Nggak, kalau barangnya pecah, bukan ekspedisi yang tanggung jawab, tapi seller,” kata Yuni.

Tak hanya itu, menjual barang melalui platform digital juga menjadi pertimbangan untuk Yuni. Menurutnya, harga di toko online perlu disesuaikan dengan biaya pajak dan kemungkinan kerusakan barang selama pengiriman.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih