Menuju konten utama

Jadi Orang yang Bitter, Bukan Berarti Jahat?

Emosi ini adalah konsekuensi yang paling mungkin kita terima setelah kita merasa tidak dianggap atau tidak dihargai dalam konteks sosial atau relasi.

Jadi Orang yang Bitter, Bukan Berarti Jahat?
Header Diajeng Bitter. foto/istockphoto

diajeng.id - “Everybody's falling in love and I'm falling behind.”

Sesuai lirik lagu Laufey, kita mungkin pernah terpikir bahwa kita “tertinggal” dalam beberapa aspek kehidupan.

Terlebih di era medsos, kita semakin mudah menyaksikan teman atau kerabat yang memberitakan dan menampilkan keberhasilan serta kebahagiaan mereka.

Pepatah bijak berkata, kita sepatutnya ikut senang dan berbangga ketika melihat teman atau saudara yang sukses.

Realitasnya, hati manusia sangatlah kompleks. Kita bisa ikut termotivasi oleh pencapaian teman, di sisi lain kita bisa jadi kecewa, bahkan mungkin merasakan iri atau dengki, karena belum bisa meraih kesuksesan yang juga kita damba-dambakan untuk diri sendiri.

Lalu, jika kita merasa sinis dan getir atas pencapaian orang lain, tepatkah kita disebut sebagai manusia yang jahat?

Tidak sesimpel itu.

Merasa Tidak Dianggap?

Seth Meyers, Psy.D dalam artikel di Psychology Today menuliskan, emosi seperti kepahitan (bitterness) adalah konsekuensi yang paling mungkin kita terima setelah kita merasa tidak dianggap atau tidak dihargai dalam situasi-situasi sosial atau ikatan relasi.

Kepahitan itu sendiri, kata Meyers, sebenarnya adalah emosi sekunder, di luar kesedihan, kebahagiaan, rasa takut, kemarahan, kaget, atau jijik, yang bisa muncul karena kita merasa dihina atau terluka. Pada akhirnya, perasaan bitter ini cenderung sulit untuk diidentifikasi atau diungkapkan lantaran memiliki emosi berlapis-lapis.

Dalam bahasa Jerman, emosi semacam ini disebut Gluckschmerz. Gluck berarti keberuntungan, sedangkan schmerz adalah perasaan nyeri. Emosi ini bikin kita merasa sesak lantaran melihat orang lain berhasil mencapai sesuatu.

Richard H. Smith dan Wilco W. van Dijk dalam artikelnya di jurnal Emotion Review (2018) menjelaskan, Gluckschmerz bisa berkembang menjadi lebih intens ketika orang lain yang dimaksud merupakan orang yang kita tidak sukai. Namun, rasa dengki masih mungkin terjadi untuk orang-orang yang dekat dengan kita.

Kedengkian atau bitterness yang berlebihan berisiko menghancurkan kesejahteraan mental kita karena isi kepala cenderung dipenuhi dengan pandangan-pandangan negatif. Bukan tidak mungkin, memendam rasa pahit ini akan berujung pada depresi dan kecemasan berlebihan.

Hubungan sosial kita juga bisa jadi kurang sehat lantaran kita menolak untuk menghargai keberhasilan dan kerja keras orang lain.

Emosi yang Manusiawi

Naura (31) mengaku dirinya adalah orang yang mudah merasa bitter, terutama ketika sedang menjelajah linimasa Instagram.

Rasa pahit ini sangat nyata ketika Naura menemukan beberapa orang yang dikenalnya merayakan pencapaian tertentu. Menurutnya, kesuksesan mereka perlu dilihat lebih kritis lagi alih-alih sekadar dipuja-puji atau diapresiasi.

“Karena aku tahu, mereka bisa pamer gitu at the expense of someone else. Ada pihak lain yang harus berkorban demi mereka jadi begitu. Tapi lagaknya kayak mereka struggle sendiri. Kan nyebelin ya,” kata Naura.

Selain itu, Naura tidak menampik kerap merasa bitter ketika melihat orang lain bisa meraih kesuksesan yang juga didambakannya, “Paling kalau lihat postingan temen gitu, aku tutup aja app-nya. Pindah ke second account yang isinya konten-konten receh yang ngga ada orang kukenal beneran.”

Menurut Naura, dia bukan orang yang jahat karena pernah merasa bitter atas kesuksesan atau kebahagiaan orang-orang lain.

“Nggak jahat. Lumrah aja bitter. Soalnya aku tahu aku juga nggak mau memelihara perasaan ini. Aku nggak mau konfrontasi, cukup jaga jarak sehat dengan mereka, terus aku cari hiburan dan kebahagiaanku sendiri, mau olahraga, jalan-jalan, kuliner, apa aja itu,” tukas Naura.

Di balik berbagai alasan yang membuat kita bitter, faktor kecemburuan dan membanding-bandingkan diri dengan orang lain tetaplah punya porsi pengaruh besar.

Seperti disampaikan psikoterapis Sarah Noel di situs Good Therapy, “Kecemburuan merupakan strategi melindungi diri, dipicu dari perasaan rentan yang menganggap diri sendiri tidak berharga atau kurang mampu.”

Perasaan kurang ini bisa muncul dari mana saja: tidak cukup hebat, kurang baik, kurang memenuhi ekspektasi diri sendiri.

Namun, sebagaimana emosi lainnya, perasaan bitter perlu diatasi supaya tidak mengendap terlalu lama.

Seperti Naura, setidaknya kita perlu mengenal dan menyadarinya sebagai emosi yang manusiawi. Sepanjang tidak sampai merusak diri atau melampiaskan kemarahan ke sekitar, merasa sinis, nyinyir, dan getir atas pencapaian orang lain adalah lumrah.

Kalau tidak sanggup menjadikan pencapaian orang lain sebagai pecutan untuk diri sendiri agar ikut termotivasi, mungkin itu memang tidak perlu dipaksakan.

Dalam proses penyembuhan yang panjang ini, kita bisa pelan-pelan belajar untuk lebih sering menghargai diri sendiri atas pencapaian-pencapaian yang kita miliki, sekecil apapun itu. Tidak perlu menunggu sampai sehebat keberhasilan orang lain, yakinlah bahwa kemenangan kecilmu itu tetap pantas dirayakan sebesar-besarnya.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih