Menuju konten utama

The Angry Daughter: Emosi & Luka Tak Terlihat si Anak Perempuan

Tidak semua orang punya relasi sehat dengan orang tuanya. Alhasil, emosi kerap diekspresikan melalui amarah.

The Angry Daughter: Emosi & Luka Tak Terlihat si Anak Perempuan
Header DIajeng The Angry Daughter. foto/istockphoto

diajeng.id - Istilah “angry daughter” sering digunakan untuk mendeskripsikan sosok anak perempuan yang temperamental, mudah marah, dan emosinya meledak-ledak, terutama ketika berada di rumah atau sedang bersama keluarga seperti orang tua dan saudara.

Alih-alih menjustifikasi baik-buruknya labelisasi "angry daughter", penting untuk kita pahami bahwa amarah biasanya bukan masalah utama.

Dalam konteks relasi anak dan orang tua, marah bisa jadi semacam cara atau bentuk komunikasi anak kepada orang tuanya lantaran emosinya belum bisa tersampaikan dengan baik atau belum mendapatkan ruang aman untuk didengar.

Artinya, di balik ekspresi kemarahan dan kekecewaan kita sebagai anak, masih ada banyak hal yang perlu dikupas; luka masa kecil, perasaan yang tidak tervalidasi, sampai kebutuhan yang terabaikan.

Kalau kamu merasa sebagai anak perempuan yang mudah marah, strategi untuk menenangkan diri mungkin bisa dipertimbangkan belakangan. Yang utama, akui dulu bahwa kamu sedang merasa marah.

Kesadaran ini bisa dimulai dari dialog dengan diri sendiri, “Kenapa aku sebel/marah, ya?” atau, “Sebenarnya aku marah ke siapa, sih?”

Demikian disampaikan Karina Negara, Psikolog Klinis dan Co-Founder aplikasi konseling psikologi KALM saat sesi live interaktif pada 15 April 2026 silam.

"Kayak ngobrol sama diri sendiri sebenarnya; kenapa ya gue sebel ngelihat si adek, aku enggak tahu marahnya sama siapa nih, kenapa ya gue mikirin Mama saja sudah marah, kenapa?" ujar Karina.

Tanpa memahami alasannya, kata Karina, kemarahan hanya akan muncul sebagai reaksi berulang tanpa arah.

Namun, setelah kita merenunginya lebih jauh, biasanya muncul kesadaran lain, seperti perasaan rapuh atau sakit hati.

Misalnya, kemarahan kepada orang tua bisa berakar dari pengalaman spesifik seperti dibentak, tidak didengarkan, atau tidak diperhatikan.

"Aku sakit hati Mama bentak-bentak aku, susah untuk mengakui itu. Walaupun kayaknya simpel, biasanya kamu sudah seperti mikir, karena orang tua ya, masak marah sama orang tua? Tapi ada sakit hati," imbuh Karina.

Mengakui bahwa kita terluka karena perilaku orang tua memang sulit. Kebanyakan dari kita menahan diri dengan alasan takut disebut anak durhaka atau kurang ajar. Padahal, rasa sakit tetap valid; siapa pun dan apa pun sumber dan penyebabnya.

Dalam proses ini, teknik seperti mengatur napas memang membantu, akan tetapi itu belum cukup untuk meregulasi emosi.

Saat terjadi konflik, emosi kita sedang tinggi-tingginya. Di titik tersebut, penting untuk kita sadari bahwa tidak semua percakapan harus diselesaikan pada detik itu juga.

Alih-alih memaksakan diskusi yang berujung saling menyakiti, keputusan untuk ambil jeda dan menunda pembicaraan jauh lebih masuk akal.

"Bilang dengan setenang mungkin, kayaknya ini sudah enggak conversive—tidak bisa diubah. Kayaknya kita perlu pisah dulu sebentar, nanti kita ngobrol lagi, misalnya, itu boleh... Mereka mungkin tidak terima, tapi itu boleh. Lakukanlah!" saran Karina.

Pada beberapa kasus, menyampaikan perasaan seperti “aku sakit hati” tidak harus langsung disampaikan. Proses ini bisa dimulai secara internal; diakui dalam diri sendiri sebagai bagian dari upaya awal meregulasi emosi.

Belajar Menyampaikan, Bukan Meluapkan Amarah

Karina melanjutkan, setelah kita memahami bahwa amarah sering kali berakar dari luka, langkah berikutnya adalah belajar memprosesnya.

Mengakui perasaan seperti marah, kecewa, atau sakit hati sebaiknya menjadi praktik sehari-hari. Tidak semua emosi harus langsung diungkapkan kepada orang lain, terutama ketika emosi tersebut masih mentah. Dalam kondisi seperti ini, kata-kata yang keluar justru berisiko melukai pihak lain.

Menyampaikan perasaan kepada orang tua membutuhkan waktu dan cara yang tepat. Dalam banyak kasus, bahkan lebih aman jika proses ini dijalani dengan bantuan pihak ketiga, seperti psikolog atau konselor keluarga.

Dalam situasi yang lebih kompleks, seperti ketika seseorang mengalami kondisi seperti kecemasan berlebih, Borderline Personality Disorder (BPD), atau bahkan respons “freeze” saat berhadapan dengan orang tua, dukungan profesional menjadi sangat penting. Teman bisa menjadi tempat bercerita awal, tetapi tidak selalu cukup untuk membantu menyelesaikan akar masalah.

"Ketika kamu marah, emosi tinggi, cemas, tapi setakut itu menanggapi orang tua sampai akhirnya jadi diam saja. Itu perlu diregulasi dulu. Seperti mesin kulkas rusak, kipasnya berhenti. Perlu dibenerin supaya mutar lagi, dan kadang perlu panggil tukang. Nah, tukangnya di sini adalah psikolog, bisa juga teman yang mau coba bantu... Tapi kalau sudah berkali-kali, biasanya teman kamu juga sudah enggak bisa sentuh (bantu). Maka temui psikolog," terang Karina.

Bagaimana kalau kamu punya post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan kecemasan? Terkait ini, Karina menekankan untuk segera menjauhkan pemicunya terlebih dulu.

"Jauhi trigger-nya dulu, orang tua," tegas Karia, "lalu ajak orang tua ketemu psikolog. Kalau kamu memang sudah punya psikolog, bahas dulu sama psikolog kamu," sambungnya.

Sampaikan ke psikolog bahwa kamu ingin mengajak orang tuamu dalam sesi pertemuan. Akui bahwa kamu kesulitan memberikan penjelasan yang terang kepada orang tuamu, sehingga perlu bantuan pihak psikolog untuk menyampaikan hal yang lebih akurat, tentang PTSD, misalnya.

Kehadiran penengah, menurut Karina, dapat membantu menjaga percakapan tetap aman dan terarah.

Hal lain yang sering terlupakan adalah perspektif orang tua. Ketika orang tua dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka mungkin telah melukai anaknya, reaksi yang muncul cenderung defensif atau malah menolak. Dalam banyak contoh, ini terjadi karena orang tua belum siap menerima kenyataan yang menyakitkan.

"Miracle itu faktor yang kita enggak bisa atur. Bisa tiba-tiba Mama berubah jadinya bisa menerima, tapi nggak bisa kita atur. Yang bisa kita atur adalah ekspektasi kita. Caranya, harus pakai data. Selama ini, dalam 30 tahun ini misalnya, Mama itu bagaimana orangnya? Pernah menuntut kesuksesan enggak? Misalnya dulu yang diminta nilai di sekolah, terus sekarang sudah kerja, prestasi kerja misalnya. Dari dulu selalu mintanya harus excellent. Mungkin enggak besok tiba-tiba 'oh enggak apa-apa kamu kalau enggak excellent' enggak mungkin, kan gitu, jadi pakai history. Pakai data yang sudah jalan," kata Karina.

Membuat Jarak Bisa Bantu Perbaiki Hubungan

Menciptakan jarak, baik secara fisik maupun emosional, juga bisa jadi salah satu cara efektif untuk membantu memperbaiki hubungan.

Dengan membuat jarak, kita menyediakan ruang lebih luas untuk memahami luka yang pernah dirasakan. Di satu sisi, jarak juga menghadirkan kembali rasa rindu yang mungkin selama ini tertutup oleh konflik.

Selain itu, dalam upaya membangun relasi yang baik, pertimbangkan juga untuk menyampaikan emosi positif dan apresiatif, tidak hanya yang sifatnya negatif saja. Misalnya, sampaikan hal-hal baik yang pernah dilakukan orang tua dan membekas sampai hari ini, "Aku senang ketika Mama memeluk aku/membelikan aku es krim/mengajak jalan-jalan,"

Seiring kita sadar telah menjadi sosok pemarah tersebut, kita harus tahu bahwa di balik kemarahan ini ada isu-isu yang perlu diatasi lewat percakapan-percakapan sulit. Tanpa menjalani percakapan sulit tersebut, hubungan yang aman dan kondisi emosional yang lebih baik akan jadi semakin sulit diwujudkan.

Seperti dijelaskan Karina, prosesnya dimulai dengan membangun kedekatan terlebih dahulu, dilanjutkan percakapan ringan, sebelum akhirnya masuk ke topik lebih serius.

Pada dasarnya, obrolan yang sulit punya “seni” tersendiri karena tidak bisa dihindari, apalagi dilakukan secara sembarangan atau terburu-buru.

Tak kalah penting, proses menuju kondisi emosional lebih sehat akan selalu memerlukan “resources—sumber daya” dan dukungan yang besar dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

"Kalau kamu sudah menjalani prosesnya, aku mau bilang yay! Artinya kamu keren. Keep at it. Up and down akan selalu ada. Maka, tambahkan resources-nya, yakni sumber-sumber hidup kamu. Resources itu bisa teman, self-care, spiritual kalau yang beribadah—itu juga adalah sebuah resource. Makan, tidur, hobi, itu semua resources. Jadi, tambah-tambahin resources-nya, supaya mendukung proses healing journey yang enggak mudah ini," pungkas Karina.

Ingat, “angry daughter” bukanlah identitas atau label untuk dipertahankan maupun dinormalisasi. Di balik amarah dan ledakan emosi yang kita rasakan, ada banyak cerita yang belum tersampaikan dan kebutuhan yang belum terpenuhi.

Kita baru akan memasuki proses penyembuhan seiring kita bersedia untuk belajar mendengarkan suara hati dan memprosesnya secara sehat. Kamu sendiri, sudah mencoba cari cara terbaik untuk memproses perasaanmu?

Simak juga artikel terkait mengelola emosi di sini.

Baca juga artikel terkait EMOSI atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih