Menuju konten utama

Jejak Aroma dalam Emosi dan Ingatan: Apa Kata Sains?

Indra penciuman memiliki hubungan langsung dengan pusat emosi dan memori di otak. Setiap aroma bisa jadi “pintu” menuju kenangan dan ketenangan.

Jejak Aroma dalam Emosi dan Ingatan: Apa Kata Sains?
Header Diajeng Aroma Emosi dan Ingatan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Ada sesuatu yang mengetuk hatiku saat aku mencium semerbak wangi bunga melati.

Aku jadi teringat pada masa kecil ketika berkunjung ke rumah Nenek di desa.

Seperti gambar video yang tiba-tiba memenuhi isi kepalaku, muncul sosok almarhumah Nenek yang sedang membersihkan pot tanaman, menyirami, dan menatanya di halaman. Kenangan ini sungguh membuatku terharu.

Sudah tentu, pengalamanku ini tidak unik.

Kamu pun tentu pernah merasakan sensasi yang sama: saat mencium aroma, entah wangi tanah basah karena siraman hujan, atau aroma sedap suatu masakan, seketika ingatan lama kembali muncul, termasuk sesosok figur yang mungkin telah lama tiada.

Ya, indra penciuman punya cara ajaib menembus waktu, membuat kita jadi lebih emosional serta melankolis.

Indra penciuman memiliki hubungan langsung dengan pusat emosi dan memori di otak. Setiap aroma bisa menjadi “pintu” menuju kenangan.

Menariknya, tidak hanya memicu nostalgia, aroma juga bisa memperkuat kemampuan kognitif kita.

Kaitan Aroma dan Kemampuan Mengingat

Dilansir BBC, sebuah studi di Northumbria University pada 2017 lalu menemukan bahwa siswa yang belajar di ruangan beraroma rosemary memperoleh nilai 5-7 persen lebih baik dalam tes memori dibandingkan mereka yang belajar tanpa aroma tersebut.

Menurut peneliti Dr. Mark Moss, temuan ini konsisten dengan hasil pada orang dewasa dan memperkuat keyakinan lama bahwa rosemary memang berkaitan dengan daya ingat.

Hubungan antara rosemary dan memori sebenarnya sudah dipercaya sejak ribuan tahun lalu.

Pelajar Yunani Kuno mengenakan rangkaian rosemary di kepala saat ujian. Shakespeare pun menulis melalui tokoh Ophelia dalam Hamlet, “Ada rosemary, itu untuk mengingat.”

Kini, sains modern mengonfirmasi kebijaksanaan lama itu.

Aroma ternyata dapat memengaruhi aktivitas listrik di otak dan neurotransmiter yang terlibat dalam proses mengingat, seolah-olah setiap hirupan wangi rosemary membangunkan bagian otak yang menyimpan daya fokus dan ingatan terbaik kita.

Lantas, bagaimana cara kerja rosemary pada otak?

Seperti dijelaskan oleh Dipa Kamdar di The Conversation, rosemary merangsang sirkulasi darah, termasuk yang menuju ke otak. Dengan begitu, ia membantu menyalurkan lebih banyak oksigen dan nutrisi sehingga pikiran bisa semakin jernih.

Kamdar melanjutkan, rosemary mengandung senyawa yang berinteraksi dengan neutransmiter otak. Salah satunya adalah 1,8-cineole, yang ternyata dapat mencegah hancurnya asetilkolin, zat yang berfungsi untuk membantu kita belajar dan mengingat.

Tak hanya itu, rosemary juga kaya akan fitokimia, senyawa tumbuhan dengan efek peningkatan kesehatan.

Di dalam rosemary juga terkandung agen antioksidan dan antiinflamasi bernama asam karnosat yang disebut dapat membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan, terutama terkait penyakit Alzheimer.

Rosemary dan Kualitas Tidur

Studi lainnya tahun 2023 oleh UCI Center for the Neurobiology of Learning & Memory (CNLM) di University of California, Irvine menyebutkan bahwa mencium aroma tertentu berkaitan dengan kualitas tidur.

Tim peneliti melaporkan bagaimana aroma berperan besar menjaga kesehatan otak.

Partisipan dalam studi merupakan para lansia yang berusia 60 hingga 85 tahun tanpa gangguan memori.

Masing-masing kemudian diminta untuk tidur di kamar beraroma minyak alami yang diaktivasi oleh alat difuser selama dua jam setiap malam. Eksperimen ini berlangsung selama enam bulan.

Hasilnya mencengangkan. Kemampuan memori partisipan yang menghirup aroma minyak dapat meningkat hingga 226 persen dibandingkan kelompok yang tidak mendapat paparan aroma.

Tak hanya itu, para peserta lansia tersebut juga melaporkan tidur mereka jadi lebih nyenyak dengan adanya aroma wewangian.

Menurut tim peneliti, aroma yang tercium saat tidur membantu mengaktifkan jalur saraf yang berhubungan dengan daya ingat dan pengambilan keputusan. Kedua bagian di otak tersebut cenderung melemah seiring usia.

Michael Yassa, Direktur CNLM, menjelaskan bahwa indra penciuman memiliki keistimewaan khusus karena terhubung langsung dengan sirkuit memori otak. Sementara itu, semua indra lainnya disalurkan terlebih dahulu melalui talamus.

"Sedari lama, setiap orang sudah merasakan kuatnya aroma dalam membangkitkan ingatan. Namun, tidak seperti perubahan penglihatan yang bisa ditangani dengan kacamata dan alat bantu dengar untuk gangguan penglihatan, belum ada intervensi untuk hilangnya penciuman," tambah Yassa lagi.

Temuan ini, yang dipublikasikan di Frontiers in Neuroscience, membuka kemungkinan baru: aroma bukan sekadar pengalaman sensorik, tapi juga bisa jadi terapi sederhana dan noninvasif untuk memperkuat daya ingat serta berpotensi mencegah penurunan kognitif seperti demensia.

Berangkat dari penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa dengan mencium aroma yang tepat saat tidur, maka otak kita setiap malam juga "dilatih" untuk menjadi lebih peka dan waspada.

Meski begitu, pernah ada riset tahun 2022 yang menyebutkan, alih-alih aroma tertentu, justru aroma yang kita sukailah yang kemungkinan memberikan pengaruh baik.

Studi yang dipublikasikan di Scientific Reports oleh tim dari Technical University of Dresden, Jerman ini melibatkan 139 laki-laki dan perempuan sehat yang tidur sambil menghirup berbagai aroma seperti jeruk, bunga, dan parfum selama dua minggu.

Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan berarti antara aroma tertentu terhadap kualitas tidur. Bahkan, kelompok tanpa aroma pun merasa lebih segar setelah masa penelitian.

Yang menarik, peserta yang menyukai aroma yang mereka hirup justru melaporkan tidur lebih nyenyak dan bangun dengan perasaan lebih segar.

Temuan ini pun menunjukkan bahwa efek menenangkan aroma hadir bukan semata-mata dari jenis wanginya, tapi dari hubungan emosional kita dengannya.

Dengan kata lain, aroma yang paling efektif adalah aroma yang membuat kita merasa nyaman.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih