diajeng.id - Menjadi diri sendiri atau menemukan diri sejati bukanlah perkara yang sederhana.
Proses untuk sampai di titik bahwa kita telah merasa cukup mengenali karakter diri dan paham dengan keinginan diri sendiri tidak datang begitu saja.
Perjalanan menuju ke sana pasti selalu dipenuhi dengan keraguan, usaha meraba-raba, lengkap dengan momen kejatuhan dan kehilangan arah.
Menariknya, banyak dari kita kemudian kerap mengasosiasikan diri kita dengan pekerjaan yang kita telateni sekian tahun lamanya. Kita memperkenalkan diri, misalnya, sebagai guru, jurnalis, aktor, penulis, atau ibu rumah tangga (IRT).
Jelas, rasanya menenangkan ketika kita punya identitas yang "pasti" dan berasosiasi dengan kesuksesan, pengabdian, ketulusan, maupun nilai-nilai mulia lainnya.
Namun begitu, ada risiko-risiko yang mengintai dengan identifikasi berlebihan melalui pekerjaan sehari-hari.
Ketika identitas diri terlalu lekat pada pekerjaan, batas antara “siapa kita” dan “apa yang kita lakukan” menjadi kabur. Kita mulai mengukur nilai diri dari pencapaian, produktivitas, atau pengakuan profesional.
Seperti dibahas dalam artikel berjudul "Why It’s Dangerous to Define Yourself by Your Job" di Psychology Today, kondisi ini dapat membuat kita menjadi lebih rentan mengalami stres, kelelahan emosional, bahkan krisis identitas, terutama ketika pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan. Seberapa pun fulfilling dan menyenangkannya pekerjaan atau pengabdian kita, akan selalu ada titik-titik jenuh dan lelah yang mungkin membuat kita berpikir ulang tentang eksistensi diri maupun tujuan hidup kita.
Selanjutnya, apabila kita terlalu mengidentifikasi diri dengan pekerjaan, cara kita memandang hidup pun bisa jadi lebih sempit. Hal ini terjadi karena ada dorongan untuk bekerja secara berlebihan dan menghabiskan banyak waktu demi pekerjaan tersebut.
Akibatnya, bukan tidak mungkin kita abai pada aspek-aspek kehidupan lainnya yang tak kalah penting, seperti relasi, kesehatan mental, hobi, atau hal-hal sederhana lain yang bisa memberikan kebahagiaan.
Ketergantungan pada pekerjaan ini pun bisa membuat jiwa kita semakin mudah rapuh karena perubahan yang terjadi di sekitar.
Padahal, waktu terus berjalan, peran bisa berganti, organisasi bisa berubah, bahkan karier yang dibangun bertahun-tahun bisa diberhentikan secara tiba-tiba karena hal-hal di luar kendali kita.
Jika pekerjaan mengampu seluruh rasa harga diri, maka perubahan tersebut tidak hanya terasa sebagai kehilangan aktivitas, tetapi juga kehilangan atau kegelisahan terkait makna hidup.
Pada fase inilah banyak orang mengalami kebingungan karena mereka lupa bahwa jangkauan diri mereka sesungguhnya jauh lebih luas daripada profesi atau posisinya di tempat kerja selama ini.
Menyadari hal ini bukan berarti kita harus menjauh dari pekerjaan atau menganggapnya tidak penting. Pekerjaan tetap bisa, dan penting, sebagai bagian bermakna dari hidup setiap manusia. Namun, pekerjaan bukan satu-satunya sumber identitas diri.
Kita adalah entitas yang dibangun oleh rangkaian dari banyak hal. Kita memiliki nilai-nilai dan keyakinan tertentu. Kita berinvestasi pada hubungan-hubungan sosial yang harus dijaga. Kita menyelami pengalaman-pengalaman unik dan personal. Semua itu adalah elemen-elemen berharga yang kerap tak disadari telah membentuk siapa diri kita pada hari ini.
Dalam konteks tersebut, kemungkinan akan selalu ada hal-hal kecil, bahkan terkesan remeh atau sepele, yang sebenarnya memberikan kita "rasa hidup", yang acap kali tak berkorelasi dengan pekerjaan sehari-hari.
Bagaimana Cara Membebaskan Diri dari Keterikatan Pekerjaan?
Salah satu pendekatan yang disarankan dalam artikel Forbes berikut bisa jadi refleksi.
Pertama-tama, cobalah memisahkan nilai diri dari pencapaian kerja. Kemudian, bangun kembali hubungan dengan hal-hal di luar pekerjaan, seperti hobi, olahraga, atau aktivitas lain yang memberikan kesegaran di tengah rutinitas bekerja. Selanjutnya, beri ruang untuk mengenali siapa diri kita tanpa label kerja profesional yang kita lakoni.
Kita bisa mulai dengan pertanyaan simpel, "Kalau pekerjaan bukan lagi bagian dari hidup kita, apa yang tetap membuat diri kita merasa berarti?"
Pekerjaan tentu penting untuk memberi makna, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber makna.
Dengan mencoba berefleksi melihat diri secara lebih luas, kita tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu peran.
Kita akan menjadi lebih lentur dalam menghadapi perubahan, lebih utuh dalam menjalani hidup, dan lebih bebas untuk menemukan versi diri terbaik, di luar label apa pun yang pernah kita sandang dari pekerjaan selama ini.
Simak juga artikel lainnya seputar profesi dan pekerjaan di sini.
Editor: Sekar Kinasih