diajeng.id - Kamu baru saja membantu seseorang, sebuah gestur kebaikan sederhana yang tak perlu dipikir terlalu serius. Namun, tiba-tiba saja kamu merasakan lelah yang luar biasa.
Misalnya, seusai beres-beres rumah demi kenyamanan seluruh anggota keluarga, tidak ada apresiasi dari mereka.
Lainnya, setelah memberikan santunan sukarela, kamu tidak mendengar satu pun ucapan terima kasih. Atau, saat kamu memedulikan teman yang jatuh sakit, dia tidak menunjukkan balasan.
Kemungkinan besar, harapan-harapan akan balasan berupa pengakuan, perhatian, atau sekadar valiadsi itulah yang menguras energimu, alih-alih tenaga yang sudah dikerahkan untuk mereka.
Segala kebaikan yang telah kita berikan sebaiknya tidak bergantung pada penilaian orang lain.
Merujuk pada prinsip untuk memurnikan ketaatan, sebagaimana isyarat dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa: 146 atau Surah Az-Zumar: 11 dan 14, kita sedang belajar menempatkan orientasi hidup di luar jangkauan ekspektasi manusia yang fluktuatif.
Pendek kata, ikhlas adalah cara kita mengambil kembali kendali atas ketenangan diri sendiri. Maka, apa pun respons dunia di luar sana, hati kita tetap memiliki tempat pulang yang paling aman.
Secara psikologis, dorongan untuk mengharap balasan bukanlah tanda bahwa kita tidak tulus. Itulah respons alami otak manusia yang secara evolusioner memang membutuhkan validasi sosial.
Seperti diulas oleh Retno Ladyta dalam buku Pastikan Ikhlasmu Itu Luas (2024), otak kita cenderung mengharapkan imbalan emosional, seperti apresiasi atau balasan, setelah melakukan sesuatu.
Harapan yang tak terucap inilah yang kemudian berujung pada kekecewaan mendalam saat ekspektasi tak sesuai realita.
Ikhlas, dalam konteks ini, bukan berarti mematikan perasaan atau berhenti peduli. Ikhlas menjadi sebuah keterampilan untuk memahami mana yang bisa kita kendalikan (niat diri sendiri) dan mana yang di luar kendali kita (respons dari orang lain).
Pada titik inilah kita mulai memahami bahwa ikhlas adalah sebuah strategi perlindungan diri, bukan sekadar kata sifat yang mulia.
Saat kita melepaskan kebutuhan akan balasan, tindakan baik kita tidak lagi menjadi beban yang menguras batin.
Bayangkan apabila setiap kebaikan yang kita lakukan sebagai sebuah hadiah yang langsung kita "lepas" begitu sampai di tangan penerimanya, maka kita tidak lagi perlu menoleh ke belakang untuk menunggu tepuk tangan, pujian, atau sekadar ucapan terima kasih.
Ketika kita berhenti menggantungkan kedamaian hati pada penilaian manusia yang berubah-ubah, kita akhirnya memiliki kendali penuh atas kebahagiaan diri sendiri.
Itulah kebebasan yang sesungguhnya, yaitu melakukan kebaikan karena kita ingin menjadi baik, bukan karena kita ingin dipandang baik oleh orang lain.
Kita sering merasa lebih ringan ketika berhenti melakukan perhitungan tentang siapa yang memberi apa.
Dalam psikologi positif, menurut Positive Psychology, langkah pertama untuk mencapai keikhlasan adalah dengan belajar membedakan antara tindakan dan hasil.
Dengan memfokuskan energi hanya pada yang bisa dikendalikan, kita sedang membangun benteng perlindungan agar batin tidak mudah runtuh saat realitas tidak berjalan sesuai harapan.
Langkah selanjutnya adalah dengan mengurangi ekspektasi tak diucapkan.
Rasa kecewa sering lahir karena kita diam-diam mematok standar tertentu tentang bagaimana orang lain harus bersikap setelah kita berbuat baik.
Kita berharap mereka berterima kasih, membalas dengan bantuan serupa, atau minimal menyadari kerja keras kita.
Nah, belajar ikhlas berarti belajar untuk menerima respons orang lain apa adanya, tanpa syarat. Apabila mereka membalas dengan baik, itu adalah bonus. Kalau pun tidak, itu tidak akan mengurangi nilai kebaikan yang sudah kita berikan.
Selain itu, cobalah untuk mulai memberi tanpa menagih secara emosional di dalam hati. Penagihan ini terjadi ketika kita terus mengingat-ingat jasa kita dan merasa orang lain "berutang" secara rasa pada kita.
Alih-alih menyimpan catatan piutang emosional tersebut, arahkan perhatian kembali pada niat awal kita. Tanyakan pada diri sendiri, "Mengapa aku melakukan ini?"
Kalau jawabannya adalah untuk menjadi pribadi yang bermanfaat atau karena prinsip kasih sayang, maka tujuan itu sebenarnya sudah tercapai, terlepas dari apa pun respons pihak eksternal.
Terakhir, gunakan momen Ramadhan ini untuk melatih otot-otot keikhlasan tersebut melalui pengalihan perhatian.
Munculnya perasaan tersinggung acap kali didorong oleh kurangnya apresiasi. Sadari bahwa itu adalah dorongan alami ego yang sedang mencari validasi.
Alih-alih melawan, akuilah keberadaan rasa tersebut, lalu perlahan geser fokus kembali pada ketulusan niat.
Dengan menciptakan jarak antara diri kita dan harapan kita terhadap hasil tertentu, kita tidak akan lagi melihat ikhlas sebagai beban. Ikhlas menjadi hadiah menenangkan nan melegakan yang kita berikan untuk diri sendiri.
Ramadhan adalah ruang terbaik untuk melatih ikhlas. Misalnya, saat kita menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarga tanpa menunggu pujian, berbagi kebaikan tanpa perlu diumumkan di media sosial, atau sekadar menolong teman tanpa menagih balasan di kemudian hari.
Dengan melepas ekspektasi, kita bukan sekadar meringankan beban hati.
Kita juga menemukan kembali makna terdalam dari setiap langkah yang kita ayunkan, bahwa melakukan kebaikan, dalam sunyinya, adalah cara paling indah untuk pulang ke diri sendiri.
Artikel menarik lainnya seputar Ramadhan juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih