Menuju konten utama
Renungan Senja Ramadhan

Bersedekah & Berbagi Secukupnya: Cara Sederhana Latih Empati

Membantu orang lain bukan semata-mata soal berapa banyak yang bisa kita beri, melainkan tentang seberapa peka kita memerhatikan kesulitan mereka.

Bersedekah & Berbagi Secukupnya: Cara Sederhana Latih Empati
Header Diajeng Serial Ramadhan Memberi dan Bersedekah. tirtoid/Quita

diajeng.id - Saat melewati pengemis di lampu merah atau melihat kotak penggalangan dana di kasir minimarket, tanganmu sempat bergerak. Namun, beberapa detik kemudian, kamu membatu.

Bukan karena kamu tidak peduli atau menolak berempati pada kesulitan orang. Tiba-tiba saja, kamu mendengar bisikan kecil, "Ah, diri sendiri saja masih kekurangan. Buat apa berbagi ke orang lain?"

Di tengah tuntunan finansial yang menuntut kita mengatur ketat pengeluaran dan menahan diri dari belanja berlebihan, rasa ragu sering terasa lebih kuat daripada dorongan untuk memberi. Kita takut apabila kebaikan kecil itu justru membuat diri sendiri merasa kekurangan.

Dalam tradisi Islam, memberi tidak pernah diposisikan semata sebagai transaksi pahala, tetapi sebagai proses menumbuhkan kehidupan.

Al-Qur'an, melalui Surah Al-Baqarah ayat 261, menegaskan bahwa sedekah dapat diibaratkan seperti sebutir benih yang menumbuhkan banyak tangkai dan melipatgandakan hasilnya.

Perumpamaan ini mengingatkan bahwa satu kebaikan kecil bisa menggerakkan banyak kebaikan lain, menguatkan yang lemah, menghangatkan yang sepi, dan menyambung kembali rasa kebersamaan yang mungkin sempat renggang.

Lebih dalam lagi, tradisi spiritual memandang memberi sebagai latihan hati.

Saat kita berbagi, sekecil apa pun, kita sedang melatih diri agar tidak selalu menjadi pusat dari segala perhatian dan kekhawatiran. Dari situlah, tumbuh empati dan kepekaan terhadap sesama.

Mengapa Memberi Membuat Perasaan Kita Lebih Baik?

Psikologi modern, seperti ditulis Psychology Fanatic, punya istilah menarik untuk menjelaskan dampak memberi, yakni “helper’s high”.

Istilah "helper's high", dicetuskan psikolog Allan Luks pada 1980-an, merujuk pada perasaan hangat, puas, dan bahagia yang muncul setelah kita membantu orang lain.

Reaksi tersebut nyata terjadi di dalam otak.

Saat kita melakukan kebaikan, otak melepaskan neurokimia seperti endorfin, zat alami yang bisa meningkatkan mood dan meredakan stres, serta oksitosin, hormon yang kerap dikaitkan dengan rasa keterikatan dan empati.

Selain reaksi kimia di otak, memberi juga berdampak pada pengurangan stres. Saat fokus kita berpindah dari masalah pribadi ke kebutuhan orang lain, kita memberi ruang bagi pikiran untuk “bernapas.”

Reaksi neurokimia yang sama, seperti endorfin dan oksitosin, ikut menenangkan sistem saraf, membantu mengurangi kecemasan dan tekanan batin yang sering menghantui kita sehari-hari.

Aktivitas bersedekah dan berbagi juga memperkuat koneksi sosial. Ketika kita membantu orang lain, kita secara naluriah membangun hubungan, menumbuhkan rasa percaya, dan memperdalam empati terhadap sesama.

Dalam konteks situasi yang sehat, rasa cukup justru muncul setelah kita memutuskan untuk berbagi.

Ketika kita menahan segala hal untuk diri sendiri, pikiran akan mudah dipenuhi perhitungan macam-macam, "Apa yang kurang? Apa yang belum dibeli atau dicoba? Apa yang belum tercapai?"

Namun, saat kita memberi, sekecil apa pun, perhatian kita bergeser. Kita melihat bahwa dari apa yang kita anggap “pas-pasan”, ternyata masih ada yang bisa dibagikan. Kesadaran itu pelan-pelan menumbuhkan perasaan cukup dan mengurangi tingkat kecemasan pribadi.

Pendek kata, memberi bisa jadi metode yang efektif untuk menata ulang perspektif: kita mungkin tidak memiliki segalanya, akan tetapi kita selalu punya bagian-bagian tertentu untuk diberikan.

Memberi Tanpa Melewati Batas

Di sisi lain, terlalu banyak memberi, menurut Psychology Today, berisiko menimbulkan tekanan pada diri.

Jika kita memaksa membantu padahal sebenarnya sedang dalam kondisi tidak mampu, kelelahan fisik dan emosional akan jadi harga mahal yang harus dibayar.

Overgiving atau memberi secara berlebihan juga berisiko membuat kita abai terhadap diri sendiri karena terlalu fokus pada kebutuhan orang lain.

Artinya, membantu bukan berarti selalu berkata “ya” terhadap semua permintaan. Kita perlu batasan yang sehat, memberi secara selektif, dengan pertimbangan kemampuan waktu, energi, dan sumber daya.

Misalnya, jika diminta bantuan yang jelas-jelas tak mampu kita lakukan, beranikan untuk menolak, "Mohon maaf, saat ini aku tidak bisa membantu.”

Keputusan tersebut adalah bentuk penghormatan pada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Memberi juga tidak selalu harus dalam bentuk nominal uang yang besar.

Dinukil dari heartlines.org, ada banyak cara kecil yang bermakna untuk tetap berkontribusi tanpa melewati batas fisik dan emosional kita.

Misalnya, berbagi makanan kepada tetangga yang membutuhkan, meluangkan waktu untuk mendengarkan teman yang sedang kesulitan, menjadi pendengar yang baik saat seseorang ingin bercerita, atau melakukan sedekah kecil secara rutin sesuai kemampuan kita.

Bentuk-bentuk kecil ini tetap memberi dampak positif tanpa membuat kita merasa terbebani.

Dengan memberi dalam kadar yang sehat, kita tidak hanya menjaga kesejahteraan diri sendiri. Kita juga memastikan bahwa kontribusi kita benar-benar tulus dan bermakna.

Momen Ramadhan sering memperlihatkan kebutuhan orang lain secara lebih nyata. Kita melihat wajah-wajah yang bersabar menunggu waktu buka puasa, mendengar kisah mereka yang berjuang mencukupi kebutuhan harian. Pada waktu yang sama, kita juga sedang belajar menahan diri.

Momen ini menjadi cerminan penting bahwa bersedekah dan memberikan sesuatu pada orang yang membutuhkan bukanlah soal seberapa banyak kita bisa memberi, tetapi tentang seberapa peka diri kita memerhatikan kesulitan orang lain.

Kebaikan kecil tetaplah pengingat bahwa hati kita masih hidup, masih peka, dan masih bersedia berbagi ruang dengan sesama.

Artikel lainnya seputar Ramadhan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih