diajeng.id - Menjadi baik bukan berarti harus mengorbankan diri tanpa batas, termasuk selalu mengiyakan setiap permintaan.
Meminjamkan (atau mengikhlaskan) uang untuk teman yang mengaku sedang kesusahan, menerima pekerjaan tambahan yang tidak relevan karena tekanan atasan, mengisi kekosongan-kekosongan lain yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita.
Mengiyakan permintaan-permintaan itulah yang akhirnya membuat kita terbiasa meletakkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri, seolah-olah menolak adalah bentuk kegagalan moral, dan bilang "tidak" adalah respons negatif yang membuat kita berdosa atas kondisi orang lain.
Ada momen ketika tubuh memberi sinyal lelah, kepala terasa penuh, atau hati sudah tidak punya ruang untuk menampung permintaan baru.
Di saat-saat seperti itu, keberanian menolak jadi mekanisme penting untuk mengakui batas diri dan menyadari bahwa kesehatan mental kita perlu dijaga.
Menurut laman Psychology Today, ada baiknya meluangkan waktu sejenak untuk menggali alasan di balik sebuah penolakan.
Mungkinkah rasa enggan itu muncul karena tidak cocok dengan insting dan "vibe" tentang sebuah acara? Mungkinkah ada kekhawatiran terkait kondisi kesehatanmu? Atau mungkin sesederhana piringmu sudah terlalu penuh sehingga tidak realistis untuk menampung hal-hal baru lainnya.
Dengan memahami apa yang dirasakan dan apa yang sedang dibutuhkan, proses berkata “tidak” jadi bisa lebih efektif.
Kamu pun akan mulai paham pola-pola tertentu di dalam diri. Kapan diri merasa kewalahan? Situasi seperti apa yang memicu ketidaknyamanan? Kamu pun sadar mengapa kamu menolak, sehingga kamu lebih tenang dan percaya diri.
Ingat, penolakan tidak selalu berarti menutup pintu hati rapat-rapat dari orang lain.
Kamu bisa menawarkan alternatif yang sesuai dengan kondisimu supaya ruang pribadi tetap terjaga.
Misalnya, saat harus menolak ajakan hangout bareng teman, kamu bisa bilang, "Wah, terima kasih sudah diajak, tapi sayangnya aku sudah ada rencana lain. Kalau ada acara kumpul-kumpul lagi setelah minggu depan, aku bisa ikut, ya! Aku mau banget main bareng kamu dan teman-teman."
Jawaban dengan alternatif tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan diri sendiri tetap valid, sekaligus menegaskan bahwa keputusan atau pilihan yang diambil akan berdampak pada waktu, tenaga, serta kapasitas emosional yang tersedia.
Membangun Batasan yang Menyehatkan
Setiap orang menjalani banyak peran sekaligus di pekerjaan, dalam keluarga, dalam hubungan pertemanan, maupun kewajiban sosial lain.
Dengan banyaknya fungsi diri kita di lingkungan sosial, upaya menetapkan batas mungkin jadi terasa berat. Maka memahami diri dan mengenali batas jadi langkah penting untuk menjaga kesejahteraan mental.
Coba, mulailah dengan batasan yang selaras dengan tujuan pribadi. Apabila kamu sedang mengusahakan keseimbangan hidup dan kerja yang lebih stabil, misalnya, menolak panggilan atau rapat di luar jam yang wajar bisa menjadi langkah awal.
Menyesuaikan apa yang muncul di media sosialmu atau memilih siapa yang boleh mengakses kehidupan pribadi bisa menjadi bentuk perlindungan diri yang kecil, tetapi signifikan.
Langkah-langkah sederhana seperti ini sering kali memberi napas lega dan membantu memperbaiki mental.
Hal tersebut dikuatkan oleh pernyataan psikolog klinis Aura De Los Santos. Kata dia, memberi tahu orang lain tentang batasan seberapa jauh mereka bisa tahu hal-hal tentang diri kita adalah sebuah upaya untuk melindungi diri sendiri.
"Ketika mengatakan 'tidak', itu membantu kita menghindari situasi yang nantinya mungkin membuat kita merasa tidak nyaman atau bersikap buruk. Itu tidak bikin kita kelihatan buruk di mata orang lain," kata De Los Santos seperti dikutip Parents.
Justru yang akan merusak hubungan, lanjutnya, adalah menjawab "iya" lalu menariknya kembali dan mengatakan "tidak" di kemudian hari.
Oleh sebab itu, De Los Santos menyarankan untuk bilang "tidak" dari sejak awal ketika kita memang tidak bisa membantu. Dengan begitu, kita dapat terhindari dari situasi yang tidak nyaman dengan orang-orang terdekat kita.
Komunikasi terbuka dan batasan yang sehat penting untuk mempertahankan perasaan bahagia, berdaya, dan terkendali yang konsisten.
Ingat, menolak bukan berarti egois.
Menolak adalah bentuk perlindungan diri paling mendasar, sebuah langkah kecil untuk menjaga keselamatan diri, agar kita tidak hancur perlahan di balik senyum yang dipaksakan.
Mengatakan “tidak” adalah cara paling jujur untuk tetap hadir bagi diri sendiri, sebelum kita hadir bagi orang lain.
Simak juga artikel lain yang berkaitan dengan kebahagiaan diri di link ini.
Editor: Sekar Kinasih