Menuju konten utama

Keuangan dan Kejujuran: Luka di Balik Selingkuh Finansial

Perselingkuhan ini merujuk pada perilaku menyembunyikan, memanipulasi, atau sengaja berbohong perihal uang kepada pasangan.

Keuangan dan Kejujuran: Luka di Balik Selingkuh Finansial
Header Diajeng Selingkuh Finansial. tirto.id/Quita

diajeng.id - Dalam menjalin relasi dengan pasangan, kesetiaan tidak hanya soal perasaan dan raga.

Salah satu hal yang juga berperan penting adalah soal kejujuran dalam mengelola keuangan.

Ketika keputusan finansial dibuat diam-diam, disembunyikan, atau sengaja tidak dibicarakan, luka yang timbul bisa sama dalamnya dengan bentuk pengkhianatan lain.

Fenomena inilah yang kerap disebut sebagai selingkuh finansial, sebuah isu yang sering luput disadari tapi diam-diam menggerogoti kepercayaan dalam relasi.

W (57) telah lama memahami peran suaminya sebagai tulang punggung keluarga besar.

Selama puluhan tahun pernikahan mereka, sang suami konsisten membantu ibunya dan para adiknya, membayarkan kebutuhan mereka dari urusan mobil atau motor rusak, sampai biaya saat sakit.

Bagi W, hal itu bukan masalah besar selama dilakukan secara terbuka dan disepakati bersama.

Namun kenyataannya tidak selalu demikian.

Tanpa sepengetahuan W, sang suami kerap mengambil uang rumah tangga untuk melunasi utang saudara-saudaranya atau membayar kontrakan rumah iparnya. W justru sering mengetahui hal tersebut dari anak-anak mereka sendiri.

Anak-anak beberapa kali diminta membantu proses transfer uang dan diingatkan oleh ayahnya agar tidak memberi tahu sang ibu.

W tentu merasa terluka mengetahui hal tersebut.

Bukan semata soal uang, melainkan rasa dikhianati karena tidak dilibatkan.

Meski begitu, W juga sadar, sifat keras kepala suaminya sudah menjadi bagian dari kondisi dan keadaan rumah tangga mereka sejak lama.

Apa Itu Selingkuh Finansial?

Dilansir situs Ramsey Solutions, selingkuh finansial atau perselingkuhan keuangan merujuk pada perilaku menyembunyikan, memanipulasi, atau sengaja berbohong perihal uang kepada pasangan, baik nominal kecil maupun nominal yang besar.

Bentuknya bisa beragam, mulai dari menyembunyikan kebiasaan berbelanja, memiliki utang atau kartu kredit diam-diam, hingga menggunakan uang bersama tanpa sepengetahuan pasangan.

Sekecil apa pun nominalnya, ketika keputusan finansial sengaja tidak disampaikan secara jujur, di situlah batas kepercayaan mulai dilanggar.

Banyak orang menganggap hal ini sepele, hanya “pengeluaran kecil” atau “demi menghindari pertengkaran”. Namun masalah muncul ketika kebiasaan itu terus berulang dan menjadi pola.

Tanda-Tanda Selingkuh Finansial

Diam-diam membelanjakan sesuatu, berharap pasangan tidak mengetahui transaksi tertentu, atau menyimpan rahasia finansial lain perlahan dapat merusak fondasi hubungan.

Tak jarang, luka yang ditinggalkan bukan soal kerugian materi, melainkan rasa dikhianati karena tidak dipercaya dan tidak dilibatkan.

Lebih lanjut Investopedia menuliskan bahwa selingkuh finansial sering kali terjadi secara diam-diam dan tidak langsung terasa, terutama di tengah kemudahan transaksi digital saat ini, ketika pembayaran tagihan daring dan penawaran kartu kredit sangat mudah dilakukan.

Salah satu tanda yang paling umum adalah adanya utang yang disembunyikan, misalnya kartu kredit yang tidak pernah dikomunikasikan atau tagihan yang sengaja dialihkan ke surel pribadi agar pasangan tidak mengetahuinya.

Dalam banyak kasus, utang bisa menumpuk dalam jumlah besar sebelum akhirnya terungkap.

Tanda lainnya terlihat dari pola pengeluaran yang tidak transparan, seperti penarikan uang tunai dalam jumlah tidak wajar, penggunaan dana dari rekening bersama tanpa penjelasan jelas, atau pengeluaran berlebihan untuk hadiah, perjalanan, maupun perjudian.

Sikap defensif atau cenderung menghindar saat topik uang dibahas juga kerap menjadi sinyal adanya masalah yang disembunyikan.

Selain itu, selingkuh finansial dapat muncul dalam bentuk pendapatan yang tidak diungkapkan, belanja rahasia, menyembunyikan laporan bank, hingga membatasi akses pasangan terhadap rekening bersama.

Ketika dua orang dalam hubungan memiliki tujuan keuangan yang berbeda dan tidak dibicarakan secara terbuka, misalnya satu pihak berusaha menabung demi masa depan sementara pihak lain terus menghabiskan uang, ketegangan pun tak terhindarkan.

Dalam jangka panjang, ketidaksepahaman ini bisa menggerogoti kebahagiaan dan kestabilan hubungan.

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mencegah Selingkuh Finansial?

Instruktur edukasi keuangan Maggie Germano menjelaskan, cara menghindari selingkuh finansial sangat bergantung pada keterbukaan dan kesediaan kedua belah pihak untuk jujur sejak awal.

Membicarakan uang sebaiknya dilakukan sedini mungkin dalam hubungan, termasuk perbedaan cara pandang, kebiasaan belanja, dan prioritas finansial.

Dengan memahami sudut pandang masing-masing, pasangan tidak merasa perlu menyembunyikan sesuatu di kemudian hari.

Jika selingkuh finansial sudah telanjur terjadi, langkah penting berikutnya adalah menghadapinya secara dewasa. Percakapan perlu dilakukan dengan tenang, tanpa tudingan, agar kedua pihak bisa saling menjelaskan dan didengarkan.

Kemudian, pasangan dapat kembali menyepakati tujuan dan batasan keuangan bersama, termasuk mencari titik kompromi jika visi finansial tidak sepenuhnya sejalan.

Membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu dan konsistensi.

Transparansi dalam pengelolaan uang, evaluasi rutin kondisi keuangan bersama, serta kesepakatan-kesepakatan kecil yang dijalankan secara disiplin dapat menjadi fondasi baru.

Namun begitu, jika kepercayaan sudah benar-benar runtuh dan tidak mungkin dipulihkan, mengakui batas tersebut juga merupakan bentuk kejujuran.

Dalam kondisi tertentu, melindungi diri dan mengambil jarak bisa menjadi pilihan paling sehat.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih