Menuju konten utama

Lagu Bupati Purwakarta: Cermin Misogini di Ruang Publik

Lebih dari sekadar candaan, lagu "Lalaki Langit Lalanang Bejad" menguatkan stereotip dan misogini yang menempatkan perempuan sebagai objek olok-olok.

Lagu Bupati Purwakarta: Cermin Misogini di Ruang Publik
Ilustrasi Seksisme. foto/istockphoto

diajeng.id - Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad ciptaan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau akrab disapa Om Zein menuai protes dan mendapat kecaman dari banyak orang.

Pasalnya lagu yang diunggah ke YouTube pribadinya pada Januari 2026 itu dianggap mengandung misoginisme yang merendahkan martabat kaum perempuan.

Sejak bait pertamanya, lirik lagu berdurasi 4 menit 12 detik yang berbahasa Sunda tersebut sudah merendahkan perempuan.

Nuhun Gusti, Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki, Cakcak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali (Terima kasih Tuhan, Sudah menciptakan aku jadi laki-laki, Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali).

Nuhun Gusti, Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki, Teu kudu meuli kutang, Nu busana gede leuwih gede batan susu (Terima kasih Tuhan, Sudah menciptakan aku jadi laki-laki, Tidak usah membeli bra, yang busanya lebih besar daripada payudara).

Nuhun Gusti, Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki, Teu Kudu Ngaprak-ngaprak Apotek, Alatan telat bulan (Terima kasih Tuhan, Sudah menciptakan aku jadi laki-laki, Tidak usah keluyuran mencari apotek, karena telat datang bulan).

Nuhun Gusti, Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki, Teu kudu ngalukis Halis, Jeung bulu mata, Sakali nangi cep hese beunta (Terima kasih Tuhan, Sudah menciptakan aku jadi laki-laki, Tidak usah melukis alis dan bulu mata, yang sekali berkedip susah meleknya).

Salah satu kritik keras disampaikan oleh anggota DPR-RI Atalia Praratya. Dalam akun Instagram, Atalia menyatakan lagu tersebut mencerminkan pola pikir yang merusak.

"Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan. Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah. Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan. Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" tulisnya.

Menurutnya, budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Atalia percaya bahwa budaya Sunda tidak pernah mengajarkan untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" tuturnya.

Permohonan Maaf Om Zein

Menanggapi hal tersebut, Om Zein lantas menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan tidak pernah ada niat merendahkan.

Lagu yang ditulis pada tahun 2020 itu awalnya berupa puisi. Saat itu, dia juga belum menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Lirik lagunya, kata Om Zein, merupakan refleksi perjalanan hidup dan pencarian jati diri yang dialaminya pada masa itu.

"Saya secara pribadi memohon maaf kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan ini. Dan mohon maaf jika kata-kata dalam lagu itu membuat beberapa pihak ada yang tersinggung. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun dan tidak bermaksud mendiskreditkan siapa pun. Itu berawal dari sebuah puisi dan kata-kata lagu itu saya buat tahun 2020. Artinya pada saat itu dibuat oleh seorang Om Zein, seorang pengembara yang menurut saya sedang tersesat. Bukan oleh Om Zein seorang bupati, karena tahun 2020 saya belum menjadi bupati," terangnya saat menjalankan agenda pelayanan publik di Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Kamis (2/7/2026).

Meski lagu tersebut awalnya diniatkan sebagai lelucon, tentu saja tidak otomatis menjadi lucu. Jelas-jelas, isi liriknya merendahkan perempuan.

Di luar konteksnya sebagai candaan, lagu seperti itu memperkuat stereotip dan misogini yang menempatkan perempuan sebagai objek olok-olok.

Yang patut dikritisi lebih keras lagi bukan soal selera humor sang bupati, tetapi bagaimana ekspresi lagu dapat ikut melegitimasi penghinaan terhadap martabat perempuan, terlebih ketika dibawakan oleh seorang pejabat publik.

Nyatanya, Om Zein bukanlah satu-satunya figur di pemerintahan yang pernah melontarkan padangan atau komentar sarat misoginisme dan seksisme.

Misogini Pejabat dan Figur Publik

Jepang pun pernah mengalami kontroversi serupa.

Dilansir Reuters, saat pandemi COVID-19, Walikota Osaka Ichiro Matsui menuai kritik setelah berkomentar bahwa perempuan membutuhkan waktu lebih lama untuk berbelanja di supermarket.

Menurut Matsui, karakter berbelanja ini berbeda pada laki-laki, yang jika disuruh belanja barang ini-itu, akan langsung mengerjakannya dan bergegas pulang ke rumah. Konteksnya saat itu adalah pembatasan ruang gerak selama pandemi yang menganjurkan masyarakat untuk tidak berlama-lama di luar rumah.

Sebelumnya, Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara (1999-2012) juga berulang kali dikecam karena pernyataannya yang merendahkan perempuan.

Pada awal 2000-an, Ishihara menyebut kelompok aktivis perempuan dengan istilah "babaa", artinya "perempuan tua yang jelek dan jahat" atau "nenek sihir tua".

Dalam sebuah wawancara, Ishihara bahkan mengatakan bahwa perempuan yang tetap hidup setelah kehilangan kemampuan reproduktif adalah "pemborosan, bahkan sebuah kejahatan", pernyataan yang mengundang banyak protes.

Di Filipina, baru-baru ini sejumlah pejabat juga dikritik karena komentar sarat seksisme.

Anggota DPR "Bong" Suntay di Kota Quezon, misalnya, menuai kecaman setelah menggunakan nama aktris Anne Curtis sebagai analogi fantasi seksualnya dalam sidang pemakzulan DPR terhadap Wakil Presiden Sara Duterte.

Tak lama setelah itu, Senator Jinggoy Estrada memicu kontroversi karena melontarkan candaan yang merendahkan pemain basket perempuan, Elizabeth Jeanette Means, dalam sidang naturalisasi atlet kelahiran Amerika Serikat tersebut.

Estrada awalnya bertanya pada Means apakah memiliki pacar orang Filipina. Ketika si pebasket menjawab "tidak", Estrada langsung bergurau pada rekan senator lain yang sudah menikah, "Mungkin Senator Pangilinan mau mengajukan [jadi pacarnya Means]..."

Sementara itu, di Amerika Serikat, Donald Trump terkenal dengan segudang riwayat komentar yang merendahkan perempuan, jauh sebelum terpilih jadi presiden.

Ada banyak ucapan Trump yang terang-terangan merendahkan perempuan, salah satunya adalah komentar vulgar tentang perempuan saat sesi wawancara dengan Billy Bush dari Access Hollywood tahun 2005.

Rekaman video tentang ucapannya ini dirilis oleh Washington Post pada Oktober 2016, persis sebulan sebelum momen pilpres yang kelak memenangkan Trump untuk pertama kali.

"Kamu tahulah, aku memang otomatis tertarik pada perempuan cantik, aku bisa saja langsung mencium mereka. Rasanya seperti ada magnet. Langsung cium saja. Aku bahkan tidak perlu menunggu. Kalau kamu orang terkenal, mereka membolehkan kamu melakukannya. Kamu bisa melakukan apa saja. Pegang saja kemaluan mereka," begitu isi rekaman Trump ke Billy Bush.

Trump juga pernah bilang, saat tampil di The Howard Stern Show pada 2005, perempuan dengan payudara kecil tidaklah menarik, "Orang yang dadanya sangat rata sangat sulit untuk dapat skor 10."

Masih di Howard Stern Show, pembahasan yang Trump angkat banyak berkaitan dengan seks dan penampilan perempuan, tak terkecuali soal istrinya, Melania, kontestan Miss Universe (yang acaranya disponsori Trump), sampai sejumlah aktris Hollywood, seperti Angelina Jolie.

"Menurutku kulitnya tidak bagus. Wajahnya juga tidak istimewa. Menurutku, bibirnya terlalu besar. Kamu tahu juga, bibirnya kelihatan kebesaran. Aku beri dia skor 7, tapi 7 bukan 10," begitu komentar Trump tentang Jolie.

Lalu ada pula perkataan "bercanda" tentang berkencan dengan putrinya sendiri, Ivanka Trump, di acara The View pada tahun 2006, "Kalau Ivanka bukan anakku, mungkin aku berkencan dengannya. Mengerikan, bukan?"

Menariknya, meski Trump punya segudang riwayat ucapan seksisme dan "asbun" yang merendahkan perempuan, dia tetap saja jadi presiden dan terpilih dua kali.

Tak bisa dimungkiri, kasus-kasus semacam ini menunjukkan bahwa komentar atau candaan yang merendahkan perempuan bukanlah hal baru atau unik di tempat tertentu.

Di berbagai belahan dunia, selalu ada saja laki-laki berpengaruh dengan kedudukan politik yang menyampaikan pandangan atau komentar merendahkan perempuan.

Pertanyaannya kini kembali kepada kita sebagai pemilik hak suara, apakah kita tetap akan memilih dan memberikan kepercayaan kepada laki-laki seperti itu sebagai wakil rakyat?

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait MISOGINI atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih