diajeng.id - “Jangan punya satu anak saja, nanti anaknya jadi kesepian dan manja.”
Penuturan di atas kerap ditujukan pada pasangan yang memutuskan untuk memiliki satu anak saja.
Meski terkesan sebagai topik obrolan yang harmless atau spontan, kalimat tersebut bisa juga terdengar seperti semacam penghakiman karena seolah-olah memojokkan orang tua dengan keputusan keliru atau perlu dipertanyakan. Padahal, di baliknya, ada berbagai pertimbangan penting.
Ada banyak alasan di balik keputusan orang tua yang memilih punya satu anak. Mulai dari faktor finansial, kesehatan, kesiapan emosional, hingga keinginan untuk memberikan kualitas pengasuhan yang optimal. Alasan-alasan itu valid. Semuanya berasal dari proses berpikir yang matang.
Alih-alih sekadar mengikuti pandangan umum, semakin banyak orang tua yang kini berani menentukan pilihan berdasarkan apa yang paling sesuai dengan situasi dan kemampuan mereka.
Alasan di Balik Keputusan Punya Satu Anak
Di balik keputusan untuk memiliki satu anak, ada banyak cerita yang tidak selalu terlihat dari luar.
Bagi sebagian orang tua, pilihan ini bahkan bukan sekadar preferensi.
Salah satu alasan yang cukup sering terjadi adalah secondary infertility, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan untuk hamil kembali setelah memiliki anak.
Mengutip kisah Kara Nesvig di Parents, ia mengaku awalnya membayangkan akan memiliki lebih dari satu anak. Namun, kenyataan berkata lain.
Setelah berbagai usaha dan proses yang tidak mudah, keinginan tersebut tidak terwujud. Kondisi emosional Nesvig terguncang sering hatinya dipenuhi rasa kehilangan dan kekecewaan. Nesvig pun perlu belajar memproses kenyataan bahwa keluarga yang terbentuk mungkin tidak sesuai dengan rencana awalnya.
Sayangnya, secondary infertility itu sendiri adalah kondisi yang belum terlalu banyak dibicarakan di ruang publik.
Banyak orang mengira bahwa memiliki satu anak itu "mudah" dan "sudah seharusnya", sehingga perjuangan untuk memiliki anak berikutnya sering kali kurang dipahami, jika bukan disepelekan.
Padahal, keinginan untuk menambah anggota keluarga adalah hal yang sangat personal dan valid, dengan berbagai tantangan serta dinamika untuk mewujudkannya.
Di sisi lain, ada pula orang tua yang memang secara sadar memilih untuk memiliki satu anak.
Seperti yang disampaikan Jesse Sposato dalam tulisannya di The Bump, keputusan ini berangkat dari refleksi mendalam tentang gaya hidup, kesiapan, dan prioritas hidup.
Dalam banyak kasus, keputusan ini bukan karena “tidak ingin punya anak lagi”. Sebagian merasa bahwa satu anak sudah cukup untuk membentuk keluarga yang diinginkan.
Selain itu, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keputusan memiliki satu anak sering kali dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang kompleks.
Rangkuman riset yang dipublikasikan di The Conversation menegaskan bahwa alasan di balik keluarga dengan satu anak sangat beragam, mulai dari faktor ekonomi, kesehatan, usia, hingga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Yang menarik, riset tersebut juga menepis anggapan lama bahwa anak tunggal akan tumbuh menjadi pribadi yang manja atau kurang bersosialisasi. Sebaliknya, perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan lingkungan, bukan semata-mata jumlah saudara.
Berdasarkan berbagai alasan di atas, keputusan memiliki satu anak bukanlah sesuatu yang bisa kita oversimplifikasi. Setiap keluarga memiliki latar belakang, tantangan, dan harapan yang berbeda. Semua pilihan mereka layak untuk dipahami, alih-alih langsung dihakimi.
Di tengah berbagai pertimbangan rasional yang melatarbelakangi keputusan memiliki satu anak, tantangan lain yang sering muncul biasanya bersifat eksternal alias berasal dari luar, seperti komentar, pertanyaan, celetukan, hingga stigma yang berulang.
Pada satu titik, kalimat-kalimat tersebut bisa memicu rasa ragu bahkan bersalah pada diri kita yang memutuskan untuk punya satu anak. Terutama ibu, kerap dibuat merasa seolah-olah keputusan mereka perlu dibenarkan.
Pada waktu sama, tekanan sosial semacam ini sering berakar dari stereotip lama "banyak anak banyak rezeki" yang tak lagi relevan.
Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap?
Cara Menghadapi Stigma dan Komentar di Masyarakat
Dalam laman Happiful dijelaskan bahwa langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menyadari bahwa perasaan bersalah itu umum terjadi, meski tidak berarti itu benar.
Dalam konteks ini, keputusan untuk menambah anak hanya karena “merasa harus” bukanlah pilihan yang berangkat dari kebutuhan keluarga masing-masing.
Selain itu, rasa khawatir yang muncul sebenarnya bisa jadi pertanda bahwa kita sebagai orang tua peduli terhadap kesejahteraan anak.
Kedua, percayalah pada intuisi dan keputusan yang sudah dipertimbangkan dengan matang.
Setiap keluarga memiliki dinamika yang unik, sehingga tidak ada satu standar yang berlaku untuk semua. Maka, cobalah untuk mengikuti kata hati, alih-alih membiarkan diri disetir oleh tekanan eksternal.
Ketiga, menetapkan batasan dalam percakapan. Tidak semua komentar perlu ditanggapi panjang lebar.
Pertimbangkan jawaban singkat seperti, "Ini yang terbaik untuk keluarga kami," atau, "Ini sudah jadi pertimbangan matang kami.”
Penjelasan tersebut cukup untuk menghentikan diskusi yang tidak diinginkan. Ingat, kita tidak punya kewajiban untuk menjelaskan pilihan pribadi kita pada semua orang.
Selain itu, jika tekanan datang dari lingkungan, termasuk media sosial, tidak ada salahnya untuk mengurangi paparan terhadap konten yang memicu perbandingan.
Terakhir, cobalah sesekali menguatkan kembali alasan di balik keputusan tersebut.
Menuliskan atau mengingat kembali alasan membesarkan satu anak bisa membantu menenangkan. Apabila perlu, berbagi cerita dengan orang terdekat atau profesional juga bisa jadi cara yang aman untuk memproses perasaan.
Keputusan memiliki satu anak bukanlah sesuatu yang perlu dipertahankan di hadapan orang lain. Cukup fokus ke dalam keluarga sendiri, jalani dengan keyakinan.
Yang paling memahami kebutuhan keluarga kita bukanlah suara-suara riuh dari luar, akan tetapi diri kita sendiri yang menjalaninya setiap hari.
Kamu juga bisa membaca artikel yang berkaitan dengan pola asuh di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih