diajeng.id - Coba perhatikan, dari sekian banyak konten yang berseliweran di linimasa media sosial, berapa persen yang menampilkan foto dan video kebahagiaan pasangan? Terutama dalam konteks momen liburan atau acara keluarga.
Mulai dari foto kekasih beradu pandangan penuh cinta, makan malam romantis, hingga penampilan dengan pakaian serasi saat menghadiri pesta keluarga atau acara sosial lainnya.
Di balik kehangatan yang memancar dari layar smartphone, ternyata ada realitas yang mengejutkan.
Melansir VICE, sebuah survei dari layanan perjodohan Tawkify di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa hampir 40 persen orang dalam relasi asmara mengaku pernah memalsukan kebahagiaan bersama pasangan mereka saat momen liburan.
Hampir 1 dari 4 responden mengaku mengunggah momen manis hanya untuk tetap bertahan pada hubungan yang sama sekali tidak membuat mereka bahagia demi bisa melalui musim liburan dengan mulus.
Akibatnya, lebih dari seperempat responden bertahan dalam hubungan yang tidak bahagia hanya demi melewati musim liburan, dan 27 persen bertahan melampaui "tanggal kedaluwarsa emosional" relasi mereka.
Bahkan, 40 persen responden menunda perpisahan selama satu hingga dua bulan. Selain itu, 15 persen responden memilih terus berpura-pura demi menghindari status lajang di acara yang spesial.
Melansir American Psychiatric Association, tekanan finansial, konflik keluarga, dan kecemasan musiman bisa jadi alasan pasangan berpura-pura bahagia untuk "membeli waktu" sebelum relasi benar-benar diakhiri.
Mengapa Pasangan Memilih Memalsukan Kebahagiaan?
Pura-pura bahagia ternyata tidak hanya terjadi ketika sedang liburan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga acap kali menemui orang-orang yang berusaha memalsukan emosinya.
Berdasarkan penjelasan dalam artikel Rula berjudul "The dark side of pretending to be happy", salah satu alasan utamanya adalah rasa takut dihakimi serta kekhawatiran bahwa mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya malah menjadi beban bagi orang-orang di sekitar.
Sebagian orang juga memiliki perasaan malu yang besar terhadap emosi negatif yang mereka miliki dan tidak tahu cara mengekspresikannya dengan aman.
Selain itu, norma sosial atau tuntutan situasi untuk "seharusnya" merasa bahagia pada momen tertentu, memaksa orang memakai topeng kebahagiaan.
Ada pula yang sengaja menyembunyikan ketidakbahagiaan demi menjaga privasi, misalnya saat sedang berduka, kecewa, atau ketika mengalami persoalan pribadi yang belum siap dibagikan ke orang lain.
Budaya toxic positivity juga ikut andil menuntut kita untuk selalu optimis. Sebagian orang bahkan terus memalsukan senyuman karena percaya bahwa jika berpura-pura cukup lama, perasaan bahagia itu lambat laun akan jadi kenyataan.
Pada kasus lain, memalsukan kebahagiaan menjadi mekanisme pertahanan untuk menutupi gejala kondisi kesehatan mental seperti depresi atau alexithymia (ketidakmampuan untuk mengenali, merasakan, atau mengungkapkan emosi secara akurat).
Mengenali Tanda-Tanda Relasi Kebahagiaan Palsu
Meskipun berpura-pura bahagia sering dianggap sebagai cara yang elegan dan sopan untuk mencegah rasa sakit hati pasangan, kebiasaan ini berdampak buruk bagi kesehatan emosional maupun fisik. Kepura-puraan juga menyita kesempatan kita untuk menjalani hidup yang memuaskan.
Maka penting untuk menyadari dan mengenali tanda-tanda ketika relasi sudah tidak lagi sehat untuk dipertahankan.
Seperti dikutip laman Marriage, terdapat beberapa indikasi kuat bahwa kita terjebak dalam kebahagiaan palsu.
Tanda utamanya adalah menghindari komunikasi dan intimasi. Contohnya adalah sengaja menghindari percakapan serius karena takut dengan risiko perpisahan, atau menghindari kontak fisik karena hilangnya ketertarikan dan rasa cinta.
Selain itu, menunjukkan perbedaan sikap di depan umum. Kita bisa jadi lebih ramah dan bersikap seperti "pasangan sempurna" saat berada di depan teman atau keluarga, semata-mata demi menjaga citra sosial.
Menutupi perilaku beracun (toxic trait) pasangan juga merupakan tanda penting yang perlu diwaspadai; kita mengabaikan atau memaklumi perilaku pasangan yang merendahkan, melakukan gaslighting, atau bersikap buruk kepada orang lain.
Kita juga sering mengalami kelelahan emosional, merasa sendiri meskipun sedang bersama pasangan, serta membayangkan kehidupan lain dengan orang lain.
Di luar itu semua, kita masih memendam rasa kecewa, kekesalan, atau pengkhianatan masa lalu yang tidak pernah diselesaikan, serta kehilangan rasa percaya diri dalam hubungan.
Dengan mengenali tanda-tanda di atas, kita artinya sudah selangkah lebih maju untuk mencoba menemukan kedamaian sejati.
Artikel lainnya seputar kesehatan mental juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih