Menuju konten utama

Orange Peel Theory, Seberapa Perlu Kita Menguji Pasangan?

Menurut gagasan ini, hubungan yang sehat tecermin dari kesediaan pasangan melakukan tindakan kecil yang memudahkan hidup kita.

Orange Peel Theory, Seberapa Perlu Kita Menguji Pasangan?
Header DIajeng orange peel theory. foto/istockphoto

diajeng.id - Kamu sudah dengar salah satu tren baru di TikTok? Meminta pasangan mengupas kulit jeruk.

Kalau pasangan langsung mengupasnya dan menyajikan buahnya, banyak orang menganggap itu sebagai bukti bahwa pasangan tersebut memang perhatian dan sayang.

Sebaliknya, jika pasangan hanya memberikan jeruk utuh atau bahkan menolak mengupasnya, tidak sedikit warganet yang langsung menyebut reaksinya sebagai "red flag".

Tren yang dikenal sebagai Orange Peel Theory ini memang terdengar sepele, sekaligus menghibur. Namun, benarkah tindakan seperti mengupas jeruk bisa jadi indikator untuk mengukur kualitas sebuah hubungan? Atau tren ini perlu dikritisi?

Dilansir VeryWell Mind, Orange Peel Theory merupakan sebuah gagasan yang menyebut bahwa hubungan yang sehat tecermin dari kesediaan pasangan melakukan tindakan-tindakan kecil yang memudahkan hidup kita.

Mengupas jeruk dipandang sebagai bentuk acts of service atau tindakan melayani, salah satu cara orang mengekspresikan kasih sayang. Dalam konteks ini, fokus kita bukan pada buah jeruknya, tetapi kesediaan pasangan melakukan hal remeh-temeh demi kenyamanan orang yang dicintainya.

Di satu sisi, teori tersebut memiliki keterbatasan. Hubungan yang sehat tidak dapat disimpulkan dari satu momen atau satu kali "tes" atau "pengujian".

Ada pula banyak alasan mengapa orang tidak mau langsung mengupas jeruk saat diminta, misalnya karena lagi capek atau lelah, tidak paham maksud pasangannya, atau memang mengira pasangannya mampu melakukannya sendiri.

Menilai kualitas hubungan hanya dari satu situasi berisiko menghasilkan kesimpulan yang jelas salah.

Menurut Psychology Today, ada sisi lain yang lebih penting, yaitu komunikasi.

Kalau kamu merasa dicintai melalui tindakan-tindakan kecil oleh pasanganmu, kebutuhan itu sebaiknya diungkapkan melalui komunikasi yang terbuka kepada pasanganmu, bukan malah diuji diam-diam.

Tren seperti Orange Peel Theory mungkin bisa jadi bahan candaan bersama, tetapi ketika dijadikan alat untuk "membuktikan" cinta, fungsinya berubah menjadi "ujian" yang berisiko menciptakan kesalahpahaman dan mengikis kepercayaan.

Nah, di sini muncul persoalan lebih besar.

Pada dasarnya, kebiasaan menguji pasangan merupakan perilaku yang perlu dikritisi. "Tes" semacam ini lebih sering mencerminkan rasa tidak aman (insecurity), kesulitan memercayai pasangan, atau ketidakmampuan menyampaikan kebutuhan secara terbuka, dibandingkan benar-benar mengukur kualitas hubungan.

Situs The Irish Times, misalnya, menjelaskan bahwa banyak orang menguji relasi mereka karena takut dikecewakan, pernah mengalami pengkhianatan, atau memiliki pengalaman masa lalu yang memengaruhi rasa aman dalam menjalin relasi.

Meski motivasinya dapat dipahami, cara tersebut tetap berpotensi merusak hubungan karena pasangan akan merasa dicurigai atau dimanipulasi. Alih-alih memperkuat rasa percaya, pengujian justru menciptakan keraguan di kedua belah pihak.

Solusi yang lebih sehat adalah membicarakan kebutuhan akan kepastian, alih-alih membuat skenario untuk "memancing" reaksi pasangan.

Artikel berjudul "If You’re Still Testing Your Partner, You’re the Problem" di The Mood Recipes menekankan bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas komunikasi yang jujur, bukan jebakan apalagi eksperimen tersembunyi.

Kalau kita terdorong untuk terus-menerus menguji pasangan, bisa saja hasilnya tidak akurat. Pasangan kita mungkin sedang tidak berada dalam kondisi terbaik, salah memahami situasi, atau bahkan sadar bahwa dirinya sedang diuji sehingga sengaja bereaksi dengan berbeda.

Akibatnya, "hasil tes" tersebut mungkin malah tidak mencerminkan betul karakter maupun kualitas hubungan sesungguhnya.

Selain itu, kebiasaan menguji pasangan dapat menciptakan siklus yang tidak sehat. Semakin sering kita menuntut bukti cinta melalui berbagai tes, semakin sulit pula rasa percaya tumbuh secara alami.

Padahal, hubungan jangka panjang lebih banyak dinilai dari pola perilaku yang konsisten sehari-hari. Apakah pasangan saling membantu ketika dibutuhkan? Apakah kedua pihak mendengarkan satu sama lain, menepati janji, dan mampu menghadapi konflik dengan komunikasi yang baik?

Orange Peel Theory memang mengingatkan kita bahwa cinta biasanya disalurkan lewat aksi-aksi kecil dan sepele. Namun, kalau hal itu dijadikan alat untuk menguji kedalaman cinta, makna dan tujuannya bisa sangat berbeda.

Alih-alih meminta tolong pasangan kita untuk mengupaskan jeruk, mungkin sebaiknya ajukan pertanyaan, "Apa kita berdua sudah cukup nyaman untuk saling menyampaikan kebutuhan tanpa harus saling menguji?"

Artikel lainnya seputar relationship bisa dicek di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih