Menuju konten utama

Mengapa Gaun Pengantin Identik dengan Warna Putih?

Meski popularitas gaun putih meroket setelah Ratu Victoria mengenakannya, beberapa budaya di dunia tetap mempertahankan tradisi gaun selain putih.

Mengapa Gaun Pengantin Identik dengan Warna Putih?
Header Diajeng Gaun Pernikahan. foto/istockphoto

diajeng.id - Sepanjang pertengahan 2026, berbagai pasangan selebritas telah melangsungkan pernikahannya. Selain tingkat popularitas sang artis, sorotan terhadap mereka juga berkaitan dengan keunikan gaun pengantin.

Taylor Swift yang menikah dengan Travis Kelce, misalnya. Dalam pesta pernikahan di Madison Square Garden, New York, bintang pop global tersebut dikabarkan memakai gaun pernikahan Christian Dior Haute Couture berwarna putih yang didesain Jonathan Anderson.

Dua Lipa, yang meresmikan pernikahan dengan Callum Turner di London dan berpesta di Sisilia, ltalia, memilih dua pakaian berbeda untuk setiap acara. Pada peresmian pernikahan, Dua memilih blazer putih dipasangkan dengan rok pendek. Sementara pada pesta resepsi, Dua memakai gaun putih kustom Chanel Haute Couture yang dihias permata berkilau.

Jantung hati pernikahan selalu terletak pada gaun sang pengantin perempuan. Meski desain dan aksesori yang menyertainya bisa berbeda-beda, gaun selalu identik berwarna putih. Menariknya, pengantin zaman dahulu ternyata tidak selalu memilih warna tersebut.

Sejarah Gaun Putih dalam Pernikahan

Pada Abad Pertengahan, gaun pernikahan biasanya berwarna merah atau biru. Pengantin harus melakukan prosedur pewarnaan gaun yang cukup mahal. Maka dari itu, pemilihan gaun berwarna menjadi indikator seberapa kaya orang pada masa itu.

Sejak abad ke-17 sampai ke-18, pengantin perempuan masih menggemari gaun warna-warni. Pemilihan gaun ini ditujukan supaya mereka bisa memakai ulang gaun pernikahan mereka untuk acara lainnya. Gaun pernikahan putih terbilang cukup mahal untuk dibeli sebab kurang cocok untuk dipakai ulang.

Namun, memasuki abad ke-19, pergeseran warna gaun pernikahan mulai terjadi. Pada 1840, Ratu Victoria memakai gaun berwarna putih yang terbuat dari kain sutra dan satin untuk pernikahannya dengan Pangeran Albert.

Pemakaian gaun putih menunjukkan kemewahan gaya hidup Ratu Victoria serta privilese yang dimilikinya dalam membeli pakaian yang tidak harus dipakai ulang kembali. Masyarakat kelas atas lantas mengikuti Ratu Victoria dalam memilih gaun putih.

Gaun putih menjadi simbolisasi baru untuk menunjukkan status ekonomi pemakainya. Masyarakat juga mulai memandang pemakaian gaun putih sebagai pilihan yang klasik dan sesuai dengan acara pernikahan.

Sejak itulah, gaun putih mulai populer dipakai oleh pengantin perempuan dalam berbagai pernikahan.

Pada abad ke-20, bisa dibilang bahwa berbagai industri mulai proaktif mendorong penggunaan gaun putih dalam pernikahan. Gaun putih dipasarkan sebagai sesuatu yang seolah-olah “wajib dipakai” dalam salah satu momen paling penting dalam kehidupan tersebut.

Setelah Perang Dunia II, ekonomi masyarakat mulai membaik. Gaun putih pun menjadi pakaian yang mudah diproduksi. Semakin banyak butik pernikahan yang menawarkan gaun berwarna putih untuk dipakai pengantin.

Seiring waktu, gaun putih menjadi pakaian yang lekat dengan pernikahan sekaligus memegang simbol untuk kemurnian dan sakralitas dalam perkawinan.

Memakai Gaun selain Putih

Setiap budaya memiliki gaun pernikahannya masing-masing. Bahkan setelah dipopulerkan Ratu Victoria, berbagai budaya masih memakai gaun selain putih dalam acara-acara perkawinan.

Di daratan Cina, pengantin perempuan biasanya memakai gaun merah. Warna merah menjadi simbol kesejahteraan dan kebahagiaan pengantinnya. Sementara itu, pengantin di India selalu memilih pakaian pernikahan dengan warna-warna yang cerah.

Pemilihan gaun pernikahan selain putih juga populer di kalangan pengantin masa kini, dari warna merah, biru, ungu, atau bahkan motif-motif tertentu.

Jasmine (34) dari Vancouver, Canada memutuskan mengenakan gaun berwarna peach dengan tempelan bunga warna-warni.

“Kami melangsungkan pernikahan pada musim semi. Gaun ini melambangkan segala hal yang kami cintai tentang bunga-bunga yang bermekaran pada musim ini,” tutur Jasmine pada The Guardian bulan September 2025 lalu.

Selain Jasmine, Anne (47) dari Sheffield, UK menjahit gaun pernikahan berwarna-warni dengan bentuk permukaan menyerupai sisik putri duyung yang gemerlap.

Gaun warna-warni tersebut, kata Anne, terinspirasi dari koleksi La Chimère dari Thierry Mugler, salah satu gaun legendaris dalam sejarah fesyen yang memberikan kesan makhluk mitologi dalam cerita fantasi pada pemakainya.

Tradisi memang mendapatkan tempat atau perhatian spesial dalam pernikahan, tetapi bukan berarti semua orang harus mengikutinya.

Gaun putih bukan satu-satunya pilihan. Berbagai warna juga bisa menjadi cara kita untuk mengekspresikan gaya dan kepribadian masing-masing.

Kalau kamu, mau pakai gaun warna apa di pernikahanmu nanti?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih