diajeng.id - Gaun pink selutut dipadukan dengan sepatu pink yang tak kalah mencolok.
Dipercantik dengan seutas kalung dan sepasang anting sebagai aksesori, begitulah Barbie bersiap memulai hari-harinya.
Di dunia boneka dengan pilihan fesyen penuh warna, gaya berpakaian Barbie tentu dianggap lumrah. Pertanyaannya, apa yang terjadi jika kita mengadopsi pakaian ala Barbie di dunia nyata?
“Ih, lebay! Norak!”
Komentar tersebut sangat mungkin muncul dari orang-orang yang tidak cocok, atau mungkin tidak terbiasa, pada busana dengan sentuhan personal lebih berani nan berwarna-warni.
Terlebih dari itu, semesta fesyen belakangan ini sedang digoyang oleh tren berpakaian minimalis. Alih-alih pakaian berwarna mencolok, orang-orang memilih baju yang model atau warnanya tidak terlalu menarik perhatian.
Mulai dari gaya clean girl aesthetic, old money style, sampai outfit cewek Bumi, kebanyakan tren sekarang menekankan pada gaya berpakaian sederhana, jauh dari risiko sorotan berlebihan.
Realitasnya, tidak ada gaya berpakaian yang benar-benar tepat untuk disebut "overdressed". Semua kembali pada selera atau preferensi, yang tentu saja bersifat sangat pribadi.
Overdressing: Batas Samar dalam Berpakaian
Sejak awal peradaban manusia, masyarakat mengembangkan dress code atau kode berpakaian sebagai tata aturan sosial. Kode ini mengatur cara sepantasnya kita memilih pakaian untuk keperluan acara-acara tertentu.
Gaya berpakaian disesuaikan dengan konteks kegiatan dan orang-orang yang berkumpul di dalamnya, baik itu untuk menghadiri resepsi pernikahan, upacara kematian, pergi berbelanja atau makan di restoran, hingga kerja dan sekolah.
Pakai gaun dan sepatu hak tinggi bisa jadi dianggap berlebihan untuk jalan-jalan pada hari ini. Menariknya, pada era 1920-an, gaun justru menjadi basic staple bagi perempuan untuk bepergian. Garis batas antara pakaian “normal” dan “overdressed” nyatanya bisa jadi semakin kabur.
Konsep “overdressed” sejatinya lahir dari konstruksi masyarakat. Reeya Kulkani menulis di Valley Magazine bahwasanya gaya yang cenderung dinilai "overdressed" hanyalah pakaian dengan bumbu sentuhan personal pemakainya. Perasaan "overdressing" muncul karena kita kesulitan menyamarkan sentuhan personal itu dalam gaya sehari-hari.
Aku "Overdressed", Memangnya Kenapa?
Selama ini, kita mungkin merasa galau untuk mengenakan kemeja batik saat menjenguk kolega sakit, pakai gaun warna pelangi saat makan di restoran atau belanja di supermarket, pakai blazer dan celana kain untuk menghadiri acara ulang tahun teman, atau pakai gamis kembang-kembang dan topi pantai berpita emas saat tamasya ke taman kota atau kebun binatang.
Ada semacam kecemasan bahwa kita akan menjadi sorotan atau bual-bualan hanya karena punya gaya berbeda dengan orang lain.
Kenyataannya, standar masyarakat akan selalu berubah. Pakaian yang sekarang dianggap minimalis bisa saja dianggap “overdressing” di esok hari. Sebaliknya, gaya yang sekarang “sederhana” besok bisa saja dinilai “berlebihan”.
Gaya berpakaian kita bukanlah untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Dirimu sendiri adalah pihak yang paling tahu tentang pilihan busana terbaik. Apa kamu merasa nyaman? Apa kamu bisa jadi diri sendiri dengan balutan pakaian ini?
Seperti kata stylist Jenna Flood, “Bukankah lebih baik memilih busana yang benar-benar mencerminkan gaya dan kepribadian kita? Memang, kita tidak harus pakai jas dan dasi cuma untuk pergi ke supermarket, tetapi bukankah bisa berdandan dan berekspresi lewat pakaian adalah salah satu bentuk kesenangan dalam hidup?”
Kita tidak tahu sampai kapan kita masih punya kebebasan untuk menikmati hidup ini. Alih-alih berlarut-larut mengkhawatirkan reaksi orang lain, pakailah busana yang paling membuatmu nyaman, aman, dan bahagia.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih