Menuju konten utama

Mengapa Kita Cenderung Suka Mencari-cari Alasan?

Beralasan merupakan cara untuk "meredakan" rasa bersalah yang sifatnya temporer. Jika jadi kebiasaan, hal ini berisiko merusak perkembangan diri.

Mengapa Kita Cenderung Suka Mencari-cari Alasan?
Header Diajeng Suka Cari Alasan. foto/istockphoto

diajeng.id - Meski sulit untuk diakui, sebagai manusia, kita pada dasarnya punya kecenderungan untuk ingin mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Tidak mengherankan apabila kita spontan berfokus pada penjelasan alasan, alih-alih pencarian solusi, ketika mengalami kendala dalam hidup.

Secara psikologis, dikutip dari artikel di situs Let’s Talk About Mental Health (LTAMH), alasan adalah bentuk penjelasan atau pembelaan yang kita gunakan untuk membenarkan kesalahan, kegagalan, atau kesempatan yang terlewat.

Membuat alasan jauh lebih mudah dan menarik untuk dilakukan karena dengan begitu kita otomatis memindahkan beban tanggung jawab dari pundak sendiri ke faktor luar seperti situasi yang tidak mendukung, perlakuan orang lain, atau bahkan faktor takdir.

Masih melansir LTAMH, ada beberapa pemicu utama di balik kebiasaan ini.

Yang pertama, pada dasarnya kita memang punya tendensi untuk memilih jalur paling ringan dalam hidup. Ketika kita dihadapkan pada fakta bahwa kita melakukan kekeliruan atau menyadari kita punya kekurangan, kita akan merasakan ketidaknyamanan emosional. Menepis atau mengelak realitas tersebut dengan alasan-alasan pun menjadi mekanisme koping otomatis untuk melindungi ego dan kenyamanan diri dari rasa malu atau canggung.

Pemicu kedua, adanya dorongan tasa takut dan ketidaknyamanan. Banyak alasan yang sebenarnya dipicu oleh rasa takut, entah karena takut gagal, takut terlihat tidak kompeten, maupun rasa takut akan kerentanan (vulnerability). Selain itu, kebiasaan ini bisa diperparah oleh keyakinan diri yang membatas, seperti "aku memang tidak berbakat di bidang ini".

Pemicu selanjutnya, mencari-cari alasan bisa "meredakan" rasa bersalah yang sifatnya temporer atau sementara. Menyalahkan keadaan di luar dapat memberikan rasa lega sesaat sehingga kita tidak merasa sepenuhnya bersalah atas kegagalan atau kelalaian yang telah terjadi.

Dampak Buruk di Balik Kebiasaan Cari-cari Alasan

Meskipun dapat memberikan rasa aman sementara, kebiasaan mencari-cari alasan menyimpan dampak negatif yang merusak pertumbuhan diri.

Dari sisi kesehatan mental, suka beralasan memicu munculnya victim mentality (mentalitas korban) dan perasaan tidak berdaya (helplessness).

Ketika kita terus melempar tanggung jawab, kita bisa kehilangan rasa kendali atas hidup sendiri. Hal ini mengikis harga diri, memicu kecemasan, dan jebakan stagnasi.

Dalam ranah hubungan sosial dan profesional, kebiasaan beralasan dapat merusak rasa percaya dan autensitas diri.

Dalam sebuah tim atau organisasi, perilaku ini berisiko menggerogoti produktivitas dan kualitas hasil kerja secara keseluruhan.

Menjadi Pribadi yang Tanggap dan Bertanggung Jawab

Ada beberapa langkah yang bisa dipraktikkan agar kita keluar dari jebakan ini.

Ketika kita mendapati diri sendiri mulai menyalahkan orang lain dan keadaan, cobalah untuk berdiam dan menenangkan diri. Meski berat untuk dilakukan, akui bahwa kita memang sedang mencari-cari alasan. Dengan menyadari dan bersedia untuk refleksi, artinya kita sudah membangun fondasi utama perubahan.

Solusi selanjutnya adalah mencermati dialog yang sedang dilakukan pada diri sendiri. Jika muncul pikiran, "Ini sulit sekali, aku tidak bisa mengerjakannya," coba geserlah menjadi narasi yang menguatkan, "Ini memang menantang, tapi aku bisa menyelesaikannya step-by-step."

Kemudian, kita juga harus berkemauan untuk mengubah sudut pandang terhadap kegagalan dengan menganggapnya sebagai pelajaran berharga, alih-alih ancaman bagi harga diri. Menerima ketidaksempurnaan membuat kita tidak perlu lagi membentengi diri dengan alasan.

Laman Psychology Today menekankan agar kita mengalihkan fokus langsung ke solusi. Ketika menghadapi masalah, tetapkan konsekuensi yang jelas dari tindakan yang sering mencari alasan.

Alih-alih merasa bingung dengan apa yang akan kita ucapkan, sebaiknya langsung tanyakan pada diri sendiri, misalnya, "Apa langkah dan solusi praktis yang bisa diambil saat ini?"

Selain itu, bangun disiplin diri dari komitmen kecil harian yang konsisten untuk membangun rasa tanggung jawab. Tetapkan pula konsekuensi yang jelas bagi diri sendiri agar kebiasaan beralasan tidak berulang.

Dengan mengalihkan energi dari mencari-cari alasan menuju aksi, kita belajar jadi pribadi yang lebih tanggap dan paham akuntabilitas. Hidup kita pun akan menjadi lebih autentik dan bermakna.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait SELF-LOVE atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih