Menuju konten utama

Akuntabilitas di Tempat Kerja: Mengapa Begitu Sulit Dilakukan?

Menjadi pribadi yang akuntabel artinya kita berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas tindakan sendiri, dan mengambil langkah untuk memperbaikinya.

Akuntabilitas di Tempat Kerja: Mengapa Begitu Sulit Dilakukan?
Header Diajeng Akuntabilitas. foto/istockphoto

diajeng.id - “With great power comes great responsibility.”

Siapa ingat penuturan dari Paman Ben pada Peter Parker alias Spider-Man?

Dalam film Spider-Man (2002), momen ini menjadi penentu bagi Peter apakah dia mau bertanggung jawab dalam hidupnya, baik sebagai manusia biasa maupun sebagai superhero.

Peter tidak otomatis menyadari tanggung jawab yang ada di pundaknya. Perlu proses yang panjang sampai akhirnya pemuda New York ini menyadari apa yang seharusnya dia lakukan.

Kisah Peter menunjukkan bahwa akuntabilitas tumbuh melalui proses memahami konsekuensi dari setiap pilihan, sampai akhirnya muncul keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuat.

Sikap akuntabel ini sangat relevan dalam lingkungan kerja profesional.

Dengan menjadi pekerja yang bertanggung jawab, kerja sama antarindividu di tempat kerja dapat berlangsung dengan baik. Lingkungan yang pekerjanya akuntabel juga akan menciptakan hasil kerja yang lebih berkualitas.

Mengapa Akuntabilitas Sulit Ditumbuhkan?

Berdasarkan hasil survei Culture Partners terhadap lebih dari 40 ribu individu dari berbagai organisasi dan industri pada 2025, hanya sekitar 20 persen pekerja yang secara konsisten mencari sekaligus memberikan umpan balik di lingkungan kerja.

Di sisi lain, sebanyak 82 persen responden mengaku pernah mencoba tetapi gagal, atau bahkan memilih menghindari, meminta pertanggungjawaban dari rekan kerjanya.

Temuan di atas menunjukkan bahwa akuntabilitas masih menjadi tantangan besar di banyak tempat kerja.

Menjadi pribadi yang akuntabel artinya kita berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas tindakan sendiri, dan mengambil langkah untuk memperbaikinya.

Namun, mengambil sikap akuntabel tidak mudah lantaran dapat memicu cognitive dissonance, kondisi ketika kita merasa tidak nyaman karena harus menghadapi kenyataan bahwa tindakan atau keyakinan bertentangan dengan citra diri yang selama ini diyakini.

Semua orang memiliki persepsi terhadap dirinya sendiri. Kita mungkin menganggap bahwa diri kita adalah pekerja keras, berdedikasi, dan selalu berusaha yang terbaik dalam pekerjaan kita.

Jadi, ketika kita melakukan kesalahan, persepsi kita terhadap diri sendiri seakan-akan “diserang” atau ditantang. Kita cenderung sulit menerima bahwa kita bisa juga melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan persepsi diri kita.

Maka dari itulah, kebanyakan orang lebih memilih untuk menghindari tanggung jawab dan menolak untuk menerima konsekuensi atas tindakan yang dilakukan atau kesalahan yang ditimbulkan.

Menurut terapis Christine Olsen, rendahnya akuntabilitas sangat mungkin berkaitan dengan tingkat kepercayaan diri.

“Dalam lubuk hati terdalam, kamu mungkin meyakini bahwa berbuat salah atau tidak menjadi sosok yang sempurna artinya kamu tidak cukup baik, tidak berharga, atau tidak layak dicintai. Jadi, ketika suatu hari kamu melakukan kesalahan, yang pada dasarnya memang tidak terhindarkan sebagai manusia, kamu akan cenderung melakukan apa saja untuk menghindari tanggung jawab atas tindakanmu,” jelas Olsen.

Cara Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab

Akuntabilitas berawal dari kesadaran diri alias kemampuan untuk mengenali dan menerima bahwa kita pun bisa berbuat salah.

Maka, penting untuk mengenali luka yang mungkin ada di dalam diri dan mencari cara untuk mengatasinya.

Kathy Caprino dalam tulisannya di Forbes menjelaskan bahwa luka tersebut bisa jadi berasal dari masa kecil atau peristiwa traumatis yang membikin hati remuk tetapi belum benar-benar pulih.

“Perhatikan bagaimana luka tersebut terus berulang dalam berbagai aspek kehidupanmu. Pahami bahwa kita acap kali jadi sosok yang dibentuk oleh apa yang diajarkan dari masa kecil, kecuali jika kita bersedia healing dan melepaskan pola-pola yang selama ini telah dipelajari,” lanjut Caprino.

Dengan memulihkan segala luka dan membereskan hal-hal yang perlu closure, kita bisa jadi lebih peka dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

Bentuk akuntabilitas tidak selalu sebatas mengakui kesalahan. Dedikasi yang kita curahkan dalam pekerjaan juga termasuk wujud tanggung jawab terhadap peran yang kita jalankan.

Hasil pekerjaan mencerminkan seberapa besar upaya yang kita berikan. Maka, setiap keputusan dan tindakan perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh, alih-alih sekadar asal beres.

Sebagai pekerja, kita perlu belajar mengomunikasikan ekspektasi kepada rekan kerja. Komunikasi yang terbuka dapat membantu kita membangun kolaborasi yang lebih sehat sekaligus menghasilkan kualitas kerja yang lebih baik. Pada waktu yang sama, penting pula untuk mengenali batasan yang kita miliki.

Dalam relasi dengan rekan kerja, kita juga perlu peka terhadap perilaku diri sendiri. Jangan sampai tanpa sadar kita malah jadi rekan yang menyulitkan atau bahkan bersikap toksik bagi orang lain. Ketika melakukan kesalahan, akui dan ambil tanggung jawab.

Mengakui kesalahan memang menjadi bagian penting dari akuntabilitas. Namun, tak kalah penting adalah kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri agar kesalahan yang sama tidak terulang.

Meski sering dianggap sepele, sikap akuntabel dapat membawa dampak besar, baik bagi orang-orang di sekitar kita maupun bagi diri kita sendiri.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih