Menuju konten utama

Mengapa Kita Terobsesi dengan Self-Improvement?

Manusia selalu ingin hidupnya jadi lebih baik lagi. Keinginan memperbaiki kehidupan ini berkaitan dengan munculnya imbalan (reward) dari usaha kita.

Mengapa Kita Terobsesi dengan Self-Improvement?
Header diajeng Obsesi Self-Improvement

diajeng.id - Belakangan ini, semakin banyak kita temukan orang-orang di sekitar yang menonton atau mendengarkan podcast tentang personal growth.

Kamu pun mungkin salah satu orang yang gemar mengembangkan diri lewat nasihat dari para pembicara di podcast.

Tidak hanya lewat podcast, topik-topik pengembangan diri ini juga marak ditemukan di rak-rak toko buku bertema self-help. Seiring itu, sekecil apa pun perkembanganmu, kamu selalu bersemangat untuk mendokumentasikannya lewat jurnal.

Semua kamu lakukan untuk meningkatkan kualitas diri, dengan kata lain self-improvement.

Self-improvement tidak hanya populer di kalangan manusia modern. Sejak awal peradaban dunia, manusia selalu punya caranya masing-masing dalam meningkatkan kualitas diri.

Di era para filsuf Yunani, mereka fokus mempertanyakan jati diri manusia. Aristoteles merumuskan konsep eudaimonia, yakni perasaan bahagia dari terpenuhinya kebutuhan manusia. Eudaimonia didapatkan dengan senantiasa mengusahakan kesejahteraan diri.

Mercè Mur Effing dalam jurnal Atlantis (2009) menemukan bahwa riwayat buku self-help di Amerika Serikat bisa ditarik sejak era munculnya autobiografi Benjamin Franklin (1706-1790).

Dalam bukunya, salah satu Bapak Pendiri utama Amerika Serikat ini memberikan panduan lengkap untuk menetapkan tujuan, mengkritisi diri, sampai mencatat progres mengenai pengembangan diri.

Seiring zaman berganti, buku-buku self-help berkembang menjadi genre buku yang konsisten diterbitkan di AS. Kamu mungkin juga pernah membaca buku-buku self-help, seperti The 7 Habits of Highly Effective People, Atomic Habits, dan How to Win Friends and Influence People.

Mengapa Self-Improvement Populer?

Grand View Research mencatat, pasar di industri self-improvement ini bernilai 51 miliar dolar AS (kira-kira Rp900 triliun) pada tahun 2025.

Pada kenyataannya, manusia memang selalu memiliki keinginan agar kehidupannya bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Jennice Vilhauer PhD dari Psychology Today menjelaskan bahwa keinginan memperbaiki kehidupan ini berkaitan dengan munculnya imbalan (reward) dari usaha kita.

“Imbalan adalah hal-hal yang kita yakini akan membuat hidup kita lebih baik jika kita memilikinya. Saat kamu memikirkan tentang imbalan, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmitter yang menimbulkan perasaan senang,” jelas Vilhauer.

Self-improvement berkaitan erat dengan kultur kesehatan (wellness culture).

Di era media sosial, budaya hidup sehat ini kian mudah tersebar luas terutama melalui aktivitas grup, seperti komunitas pelari, budaya nge-gym, sampai tren diet. Akibatnya, semakin banyak orang yang terpapar dengan pandangan bahwa kesehatan merupakan bagian dari penanda status sosial.

Samuel Cornell dan Rob Brooks dalam tulisannya di The Conversation mencatat, “Orang cenderung meniru simbol-simbol status, terutama kalangan remaja dan dewasa muda. Selain itu, algoritma media sosial juga mempelajari pola tersebut untuk memperkuat sinyal prestise, konten yang memicu emosi, dan konten yang seolah-olah ditujukan pada kelompok tertentu dalam rangka memaksimalkan keterlibatan pengguna internet.”

Bagi sebagian orang, self-improvement juga menjadi bagian dari upaya menghadapi masa-masa sulit.

Dalam penelitian Amber Gwynne berjudul “‘Up to you’: Self-help books, depression and the reconstruction of reading” di jurnal Media, Culture & Society (2023), sebagian besar pembaca yang memiliki pengalaman depresi mengaku pertama kali mencari atau membaca buku self-help ketika sedang menghadapi kondisi sakit, tekanan, atau pergolakan dalam hidup.

Bagi para pembaca tersebut, buku self-help dapat menjadi salah satu cara untuk memahami dan menghadapi pengalaman yang mereka alami.

Kritik di Balik Narasi Self-Improvement

Masih merangkum temuan studi di atas, pengalaman membaca buku self-help ternyata tidak selalu memberikan kelegaan.

Sebagian pembaca bisa merasa kecewa, bingung, takut, atau marah, sementara gejala depresi yang berat juga dapat membuat mereka kesulitan mengikuti tuntutan membaca buku tersebut.

Dengan demikian, membaca buku self-help tidak serta-merta membuat persoalan yang kita hadapi hilang.

Penelitian di atas menegaskan bahwa hubungan pembaca dengan buku self-help jauh lebih kompleks. Betul, buku tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sumber bantuan, akan tetapi manfaatnya sangat bergantung pada kondisi dan cara kita sebagai pembaca dalam memaknainya.

Pada akhirnya, self-improvement harus tetap dilaksanakan secara bijaksana. Dr. Gregory Jantz, PhD dari Very Well Mind menyarankan untuk merefleksikan usaha self-improvement dengan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

“Apakah aku merasa tidak nyaman ketika tidak melakukan self-improvement?”

“Apa tindakanku memperbaiki diri berisiko mengganggu kehidupanku dan hubunganku dengan sekitar?”

“Apa self-improvement mengambil alih prioritasku untuk kegiatan penting dalam hidupku?”

Self-improvement bisa menyita banyak waktu sampai-sampai kita merasa kewalahan. Kamu pun dapat merasa terbebani karena menganggap dirimu harus menjadi sosok yang semakin sempurna setiap saat.

Poin lain yang harus diwaspadai dalam narasi ini adalah kecenderungan untuk terlalu berfokus pada diri sendiri sehingga kita lupa akan eksistensi orang-orang di sekitar kita.

Padahal, meminta bantuan dari orang lain tidak mengurangi kehebatanmu. Kamu masih bisa mengembangkan diri meski pada waktu sama mendapatkan pertolongan orang lain.

“Ketika bicara soal pengembangan diri, semuanya dilakukan sendiri. Dengan melakukan hal itu, kamu kehilangan kesempatan untuk memiliki komunitas dan mempererat hubungan dengan orang lain,” jelas penulis Jessica Lamb-Shapiro kepada Vox.

Self-improvement tidak cukup dipahami secara sempit sebagai proses yang memaksa kita mengisolasi diri dari orang di sekitar. Kebersamaan dengan orang-orang di sekitar juga penting untuk mendukung diri kita berkembang menjadi sosok lebih baik.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih