diajeng.id - Kita tidak pernah sepenuhnya tahu beban yang ditanggung masing-masing anggota keluarga di balik dinding rumah.
Pada waktu sama, di luar rumah, kita masih harus mengatasi persoalan-persoalan interpersonal yang belum tentu dipahami orang lain.
Novel perdana karya Kalis Mardiasih berjudul Makamkan Ibu di Samping Ayah (2026) berupaya menangkap kompleksitas emosi di dalam dinamika keluarga tersebut.
Sebelas bagian cerita dalam buku setebal 142 lembar ini menghadirkan rangkaian kisah dari berbagai sudut pandang tokoh dalam upaya masing-masing mengurai keruwetan relasi keluarga yang saling berkelindan.
Dengan menonjolkan sisi-sisi psikologis dan kesehatan mental, Makamkan Ibu di Samping Ayah menawarkan pendekatan lain dalam memotret realitas keluarga pekerja di Indonesia.
Resensi Makamkan Ibu di Samping Ayah
Novel yang dikemas dalam alur maju-mundur ini dibuka dengan kisah tiga bersaudara Aji, Vikra, dan Lini yang berkunjung ke makam kedua orang tua mereka.
Setiap bab menyingkap secara perlahan relasi keluarga mereka di masa lalu yang membentuk identitas diri ketiga bersaudara tersebut ketika dewasa.
Aji, Vikra, dan Lini menghabiskan sebagian besar hidup mereka bersama sang ibu, atau disapa Bu Indah. Pak Rukma, suaminya, digambarkan sebagai sosok ayah yang tidak hadir, baik secara fisik maupun emosional.
Bu Indah turut mengenalkan kepada anak-anaknya bahwa Pak Rukma adalah sosok ayah yang kurang bertanggung jawab lantaran gagal mendapatkan kerja lagi usai terkena PHK.
Pada akhirnya, Bu Indah harus banting tulang sendirian sebagai PNS untuk menghidupi keluarga.
Aji, sebagai anak sulung, memiliki memori kebersamaan dengan ayahnya yang lebih banyak dibandingkan saudara-saudaranya. Kedekatan ini turut menjadikan Aji sebagai saksi pertama kemalangan sang ibu yang ditimbulkan oleh ayahnya.
Setelah orang tuanya bercerai dan ayahnya menikah lagi, Aji sering diutus ibunya untuk pergi ke rumah keluarga baru sang ayah.
Bu Indah menyuruh Aji untuk meminta dukungan finansial dari Pak Rukma. Di satu sisi, sang ibu sebetulnya menginginkan Aji pasang badan untuk menunjukkan bahwa keluarga mereka baik-baik saja usai ditinggalkan sosok sang ayah.
Meskipun Aji tetap melaksanakan perintah Bu Indah untuk pergi ke rumah baru ayahnya, ia merasa kesulitan dengan tugas ini.
Aji selalu berangkat dengan berat hati dan pulang dengan perasaan yang jauh lebih menyesakkan karena harus melihat ayahnya lagi sekaligus mendapat penolakan untuk kesekian kali.
Si sulung pun bertumbuh dewasa dengan tekad bahwa dirinya tidak akan menjadi seperti ayahnya. Aji menolak menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab kepada keluarganya.
Kebenciannya terhadap Pak Rukma membuat Aji menjadi pribadi yang sensitif lantaran takut mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Aji juga rentan merasa terpukul saat dirinya mengalami kesalahan kecil.
Sifat Aji ini khususnya dirasakan pasangannya, Amanda. Aji sering meminta maaf perihal kesalahan yang bahkan tidak disebabkan olehnya langsung.
Ketika Aji dan Amanda menikah, mereka harus berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Aji berganti profesi dari jurnalis menjadi pemilik kafe.
Bertepatan dengan itu, Amanda sedang hamil anak pertama mereka. Aji pun semakin merasa cemas karena keuntungan kafe yang semakin menipis. Aji benar-benar tidak ingin dirinya berubah menjadi kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab seperti ayahnya.
Anak tengah Bu Indah dan Pak Rukma, Vikra, tumbuh menjadi pribadi yang irit bicara. Di dalam group chat ketiga bersaudara, Vikra jarang terlibat dalam pembicaraan. Saat bertemu pun, Vikra sekadar unjuk wajah, tanpa ada niat lebih untuk bercengkerama.
Sedari muda, Vikra memutuskan untuk menjaga jarak aman dari kekeruhan keluarga. Keputusan tersebut didasarkan pada trauma yang dirasakannya saat harus menerima luapan emosi bertubi-tubi dari sang ayah.
Ketika Vikra masih kecil dahulu, Pak Rukma pernah menginterogasinya untuk mendapatkan informasi terkait pertemuan Bu Indah dengan temannya, Pak Jiwo.
Pak Rukma melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam pada Vikra sekaligus tuduhan selingkuh terhadap Bu Indah. Vikra kecil harus menyaksikan ledakan kemarahan ayahnya tanpa benar-benar tahu alasan di baliknya.
Meskipun selalu berupaya menjauhkan diri dari segala hal terkait Pak Rukma, Vikra tetap bisa mendengar bisik-bisik gunjingan yang dilayangkan untuk sosok tersebut. Vikra kelak menjadi tertutup, bukan hanya kepada keluarganya, tetapi juga ke orang-orang sekitarnya.
Lini, lahir beberapa bulan sebelum Pak Rukma meninggal dunia, tidak sempat memiliki ingatan apapun bersama sang ayah. Lini juga awalnya tidak mengetahui rasa geram yang dipegang kedua kakaknya terhadap mendiang ayahnya.
Namun begitu, si bungsu justru bisa lebih memahami beban yang selama ini ditanggung Bu Indah.
Lini melihat cara kerabat mereka memperlakukan Bu Indah secara buruk hanya karena statusnya sebagai janda. Lewat kemalangan yang ibunya terima, Lini menyaksikan betapa kerasnya masyarakat menekan ibu tunggal.
Lini selalu dihantui rasa penasaran atas alasan yang mendasari ibunya ingin memiliki anak ketiga. Ketika sudah beranjak dewasa, Lini menanyakan alasan kelahirannya di dunia.
Ternyata, Lini harus dihantam fakta pahit bahwa dirinya adalah upaya putus asa yang dilakukan ibunya untuk membuat ayah mereka kembali mencintainya.
Sayangnya, upaya ini terbukti gagal karena Pak Rukma justru menceraikan Bu Indah dan meninggalkan mereka sekeluarga.
Bu Indah adalah sosok yang berusaha sekeras mungkin untuk menghidupi ketiga anaknya. Sebagai satu-satunya pencari nafkah, ia mengerahkan seluruh tenaganya agar dapat mengamankan posisinya di tempat kerjanya. Oleh karena itulah, Bu Indah merasa keheranan pada suaminya yang berulang kali gagal mendapat pekerjaan.
Saat Bu Indah berhasil membantu Pak Rukma mendapatkan pekerjaan sampingan, Bu Indah tak henti-hentinya membanggakan diri. Ia merasa Pak Rukma harus memahami posisi Bu Indah yang selama ini bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarganya.
Pak Rukma sendiri telah terbiasa menerima penuturan pahit dan kekecewaan dari Bu Indah karena kegagalan mencapai standar yang ditetapkan sang istri.
Sementara Bu Indah menghabiskan banyak waktu bekerja di luar rumah, Pak Rukma menetap di rumah bersama anak-anaknya.
Citra Pak Rukma sebagai ayah sebenarnya jauh lebih baik daripada sebagai suami, akan tetapi kembali hancur setelah Aji dan Vikra tidak lagi melihatnya demikian.
Cerita mencapai klimaks ketika Bu Indah meminta pertolongan yang sulit dikabulkan anak-anaknya. Bu Indah memohon agar ketika meninggal, jasadnya dimakamkan di samping Pak Rukma.
Permintaan tersebut menimbulkan perdebatan di antara Aji, Vikra, dan Lini. Mereka merasa Pak Rukma tidak pantas beristirahat di samping Bu Indah.
Apalagi, keputusan untuk memakamkan ibu di samping ayah berarti mereka harus meminta izin kepada istri terakhir sang ayah, Bu Santi.
Untuk Semua Ketidaksempurnaan dalam Keluarga
Makamkan Ibu di Samping Ayah berhasil menyingkap trauma psikologis di dalam keluarga yang kompleks.
Aji, Vikri, dan Lini tumbuh besar sambil menyaksikan “versi diri” kedua orang tua yang ternyata berbeda-beda. Mereka menjadi saksi pertama jatuh-bangun perjalanan hidup orang tuanya dan cara mereka memproses masalah.
Ketidaksempurnaan Bu Indah dan Pak Rukma dalam memproses emosi ini kelak memengaruhi perkembangan diri ketiga anak mereka. Aji dengan rasa cemasnya, Vikra dengan kecenderungannya menarik diri, dan Lini yang tenggelam dalam bayang-bayang ketidaktahuan.
Lebih mudah bagi Aji, Vikra, dan Lini untuk menganggap bahwa trauma yang mereka rasakan disebabkan oleh Pak Rukma. Kita sebagai pembaca cerita awalnya juga ikut merasakan kemarahan mereka terhadap Pak Rukma.
Namun, seiring waktu, mereka paham bahwa Bu Indah dan Pak Rukma sebenarnya punya porsi dan peran yang sama dalam memengaruhi hidup mereka. Kita sebagai pembaca pun perlahan menyadari bahwa Pak Rukma ternyata menanggung kepahitannya sendiri.
Meskipun kita tidak menyelami realitas yang sama persis dengan keluarga Bu Indah dan Pak Rukma, dinamika keluarga mereka bisa jadi terasa relevan bagi kita semua, sebab sesungguhnya tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna.
Friksi akan selalu timbul dalam keluarga. Kericuhan yang tercipta akan selalu membayangi langkah kita di luar rumah.
Jalan keluarnya kembali pada kemampuan kita dalam memproses luka-luka lama dan kesediaan kita untuk membangun dinding “closure” yang sehat.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih