Menuju konten utama

Di Balik Reaksi Emosional Orang yang Ditagih Utang

Menurut dr. Riati Sri Hartini, SpKj dari Institut Pertanian Bogor (IPB), hal tersebut berkaitan dengan stres finansial dan rasa ancaman pada harga diri.

Di Balik Reaksi Emosional Orang yang Ditagih Utang
Header Diajeng Ditagih Utang. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Sudah sering kita temukan curhatan di media sosial tentang orang-orang yang gagal menagih utang. Tak sedikit yang mengaku kebingungan, panik, hingga terluka, karena orang yang berutang tidak kooperatif.

Berawal dari niat sederhana untuk membantu sesama, yang sering terjadi saat tiba waktunya meminta hak kembali adalah situasi berbalik arah.

Alih-alih permintaan maaf dari orang yang berutang karena belum membayar, yang diterima si pemberi utang justru nada tinggi, emosi, bahkan tuduhan seolah-olah dia yang bersalah karena meminta uangnya kembali.

Fenomena ini terasa aneh sekaligus menyakitkan.

Bagaimana mungkin orang yang berutang bereaksi lebih emosional sehingga terkesan jadi lebih galak, lebih defensif, dan seakan-akan berada di posisi paling benar?

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik sikap tersebut? Mengapa menagih utang, sesuatu yang secara moral dan logika wajar, bisa memicu kemarahan dan perlawanan?

Alasan Pengutang Galak saat Ditagih

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dr. Riati Sri Hartini, SpKj, MSc menyampaikan alasan psikologis di balik ini semua.

Menurut dr. Riati, hal tersebut terkait dengan stres finansial dan mereka merasa adanya ancaman terhadap harga diri.

“Dari sisi psikologis dan neurosains, penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun.”

Begitu disampaikan dr. Riati dikutip dari situs resmi IPB.

Terkait alasan biologis, tekanan yang muncul akan mengaktifkan amigdala, yakni organ dalam otak yang berperan sebagai fungsi emosional, perilaku, dan ingatan.

Hal itu juga bisa menyebabkan prefrontal cortex yang berfungsi untuk mengatur pemahaman logika dan regulasi emosi jadi melemah.

“Kondisi ini membuat otak masuk ke mode fight or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif,” imbuh dr. Riati.

Itu sebabnya, lanjut dr. Riati, orang berutang menjadi galak saat ditagih. Ini merupakan respons psikologis-biologis terhadap stres, rasa malu, dan ancaman identitas diri dalam kondisi finansial yang tertekan.

Meski begitu, galaknya orang berutang ketika ditagih bukanlah karena mereka mengalami gangguan jiwa. Reaksi tersebut aadalah reaksi wajar saat orang merasa tertekan.

“Masalah keuangan membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi stres. Ketika ditagih, perasaan malu, takut, dan terpojok bisa muncul bersamaan, sehingga orang bereaksi dengan emosi tinggi. Ini lebih mirip refleks orang yang kaget, bukan karena sakit jiwa,” jelasnya.

Alasan Orang Menolak Bayar Utang Saat Ditagih

Melansir Huffington Post, ada lima alasan mengapa orang menolak membayar utang saat ditagih:

1. Pengutang Memang Tidak Berniat Mengembalikan

Mereka memang tidak pernah berencana untuk mengembalikannya sejak awal.

Dalam pikirannya, uang itu sudah dianggap “bantuan” atau “hibah”, alih-alih utang yang wajib dilunasi.

2. Pemberi Utang Terlalu Baik dan Sungkan

Sikap terlalu pengertian, jarang menagih, dan takut merusak hubungan membuat peminjam merasa tidak ada konsekuensi nyata jika menunda atau mengabaikan pembayaran.

3. Mudah Menghindar Karena Tidak Ada Sistem Pengingat

Tanpa mekanisme formal atau teknologi pengingat, peminjam bisa dengan mudah mengabaikan pesan atau pura-pura lupa. Ketiadaan sistem membuat utang terasa tidak serius.

4. Tidak Ada Bukti atau Kesepakatan Tertulis

Karena tidak pernah dicatat atau disepakati secara jelas, peminjam bisa mengaburkan fakta, mengingkari nominal, atau bahkan menyangkal bahwa utang itu pernah ada.

5. Tahu Hubungan Tidak Akan Diputus

Peminjam merasa aman karena yakin persahabatan akan tetap bertahan meski ia tidak membayar. Ini berkaitan dengan batasan (boundaries) yang lemah dalam hubungan.

Meminjamkan uang kepada orang lain bukanlah sekadar soal angka, melainkan soal perubahan dinamika relasi. Uang masih menjadi topik yang intim dan tabu bagi banyak orang.

Kita jarang benar-benar tahu kondisi finansial satu sama lain, bahkan dengan orang yang merasa paling dekat.

Oleh karena itulah, urusan utang di antara teman atau keluarga sering berjalan tanpa kejelasan, tanpa kontrak, tanpa konsekuensi yang tegas.

Ketika kita meminjamkan uang, secara sadar atau tidak, posisi kita pun berubah. Kita bukan lagi sekadar teman atau saudara, tetapi juga “petugas kredit”.

Orang yang meminjam berada dalam posisi berutang, dan itu menciptakan ketimpangan kuasa dalam hubungan, entah disadari atau tidak. Di titik inilah relasi mulai bergeser.

Maggie Baker, psikolog dan terapis keuangan mengingatkan satu hal penting: jika kita memutuskan meminjamkan uang, kita harus benar-benar siap dengan kemungkinan terburuk: uang tidak kembali. Bahkan, dalam banyak kasus, itulah yang paling sering terjadi.

"Kalau kamu meminjamkan uang kepada seseorang, mereka berutang budi kepada kamu, baik mereka menyadarinya atau tidak, dan tiba-tiba, kamu dianggap memiliki kekuasaan," kata Maggie dikutip dari BBC.

Peminjam, lanjutnya, akan lebih dulu memprioritaskan kebutuhan lain, dan bisa jadi menganggap kita cukup “mampu” sehingga tidak keberatan jika uang itu tak kembali.

Maka sebelum mengulurkan tangan, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri, "Apa kita siap kehilangan uang tersebut tanpa kehilangan kedamaian batin, dan tanpa merusak hubungan?"

Jika jawabannya belum, mungkin menolak dengan jujur adalah bentuk kebaikan yang lebih sehat, baik bagi diri sendiri maupun bagi relasi yang ingin kita jaga.

Simak artikel menarik lainnya di tautan ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih