Menuju konten utama

Menyelami Intuisi: Seni Mendengarkan Suara Hati

Di dunia yang semakin rasional dan berbasis data, intuisi sering dipandang kabur dan tak terukur. Benarkah intuisi bersifat tidak logis?

Menyelami Intuisi: Seni Mendengarkan Suara Hati
Header DIajeng Intuisi Suara Hati. foto/istockphoto

diajeng.id - Kamu sudah merencanakan liburan ke tempat yang lama diidam-idamkan.

Sehari sebelum waktu keberangkatan, tiba-tiba kamu merasa harus membatalkan tiket pesawat. Siapa sangka, tak berapa lama tersiar kabar tentang kecelakaan di rute perjalanan tersebut?

Atau, kamu merasa yakin untuk mengundurkan diri dari pekerjaan, entah apa alasannya, hanya untuk mendapati bahwa beberapa bulan kemudian keputusan itu membuka peluang baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya?

Contoh-contoh kejadian di atas sering dikaitkan dengan "suara hati", disebut juga “perasaan”, “firasat”, atau “naluri”.

Suara-suara itu mendadak hadir dan sulit dijelaskan secara logika, seperti desakan yang muncul dengan lembut di dada sekaligus seruan, "Jangan pergi!" atau, "Segera lakukan!".

Di dunia yang semakin rasional dan berbasis data, intuisi sering dipandang kabur dan tak terukur. Namun begitu, benarkah intuisi tidak logis?

Sebetulnya, intuisi bukan lawan dari logika. Ia adalah bagian dari cara kita berpikir, hanya saja kerjanya di ruang yang berbeda.

Apabila logika dapat dianalogikan seperti lampu terang yang menyorot fakta, intuisi adalah cahaya temaram yang menuntun langkah di antara kabut. Intuisi mengandalkan sesuatu yang lebih halus: pengalaman, perasaan, dan pengetahuan yang tersimpan di bawah sadar.

Apa Itu Intuisi?

Kata intuisi berasal dari bahasa Latin: intueri.

Laman Psychology Today menulis, intuisi artinya suatu bentuk pengetahun yang muncul tanpa melalui proses berpikir yang panjang dan pertimbangan yang matang. Ia cenderung muncul secara holistik dan cepat, membuat kita seakan-akan memahami apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Bagi sebagian orang, intuisi identik dengan hal mistis, indra keenam, atau bisikan semesta.

Di sisi lain, ilmuwan menunjukkan bahwa intuisi bisa dijelaskan secara rasional. Sederhananya, informasi dapat terekam di otak tanpa kita sadari dan secara positif memengaruhi pengambilan keputusan dan perilaku kita.

Apa Kata Riset Tentang Intuisi?

Dikutip dari artikel di situs Atmos, studi ilmiah selama ini menunjukkan bahwa intuisi sering kali membantu kita membuat keputusan yang baik, terutama dalam situasi yang kompleks dan penuh ketidakpastian.

Joel Pearson, ahli saraf dan psikolog dari University of New South Wales, menjelaskan bahwa intuisi bekerja ketika otak memproses banyak faktor seperti lingkungan, pencahayaan, waktu, nada suara, ekspresi wajah, bahkan bayangan, dan kemudian memunculkan “rasa tahu” secara spontan.

Menurut Pearson, otak membuat semacam prediksi berdasarkan pengalaman masa lalu, seperti pernah menonton film seram, mendengar percakapan, dan segala hal yang sudah kita pelajari baik secara sadar maupun tidak sadar.

Jadi, misalnya ada seseorang yang tiba-tiba enggan melewati jalan gelap, itu bukan karena kekuatan magis, melainkan hasil kalkulasi cepat otak yang mempertimbangkan risiko berdasarkan data yang sudah tersimpan di lapisan memori bawah sadar.

Pearson telah meneliti intuisi selama lebih dari dua dekade. Ia mendefinisikannya sebagai “pemanfaatan informasi bawah sadar, yang dipelajari, untuk mendapatkan keputusan atau melakukan tindakan yang lebih baik".

Di laboratoriumnya, Future Minds Lab, ia mempelajari bagaimana alam bawah sadar memengaruhi keputusan, perilaku, dan emosi manusia.

Pearson menyebutnya ilmu "psikofisika"; subbidang psikologi yang ia gambarkan sebagai upaya menciptakan tes darah atau mikroskop untuk pikiran kita.

"Namun yang dilihat di bawah mikroskop bukanlah sel, neuron, atau zat kimia, melainkan perilaku, pengalaman, dan representasi, entah itu depresi, kecemasan, citra mental, atau intuisi," ujarnya kepada The Guardian pada 2024 lalu.

Di satu sisi, Pearson mengingatkan bahwa tidak semua “firasat” bisa dipercaya.

Ia menyebut bentuk-bentuk intuisi yang menyesatkan sebagai "misintuisi", ketika bias, emosi, atau paranoia saling berkelindan di dalamnya.

Intuisi yang baik, katanya, mencakup tiga komponen kunci, yakni didasarkan pada proses pembelajaran, produktif, dan berasal dari informasi bawah sadar.

Sejauh Mana Kita Dapat Bergantung pada Intuisi?

Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, menyebut intuisi sebagai bagian dari “Sistem 1”, yaitu cara berpikir yang cepat, otomatis, dan intuitif.

Lawannya adalah “Sistem 2”, yang lebih lambat dan rasional.

Keduanya bekerja bersama, tapi Sistem 1 lebih rentan menimbulkan kekeliruan karena sering dipengaruhi oleh emosi dan bias persepsi.

Dikutip Scientific American, dalam eksperimennya bersama Amos Tversky pada 1980-an, Kahneman menunjukkan betapa mudahnya pikiran intuitif kita dipengaruhi oleh bagaimana cara masalah dibingkai atau disampaikan.

Dalam suatu eksperimen, mereka membuat pengandaian tentang penyakit berbahaya yang berisiko merenggut 600 ribu jiwa.

Responden grup pertama diminta memilih solusi yang hasilnya merujuk pada “jumlah orang yang dapat diselamatkan". Kebanyakan peserta memilih opsi yang memberikan jumlah pasti orang selamat, alih-alih opsi yang menyebut probabilitas orang selamat.

Pada responden kedua, pilihan yang sama dibingkai dalam konteks “berapa banyak orang yang meninggal”. Hasilnya, kebanyakan justru memilih opsi yang menyebut probabilitas orang meninggal. Ya, grup kedua cenderung lebih mengambil risiko.

Pendek kata, cara penyajian informasi berpotensi mengubah keputusan. Itulah kekuatan sekaligus kelemahan intuisi.

Namun, tak semua ilmuwan bersikap skeptis terkait intuisi.

Gerd Gigerenzer dari Max Planck Institute berpendapat bahwa intuisi sering kali efektif, terutama saat kita menghadapi situasi kompleks dengan banyak variabel.

Menurut Gigerenzer, intuisi sebagai bentuk kecerdasan bawah sadar ternyata bekerja dengan “aturan praktis” yang sederhana. Kadang-kadang, keputusan intuitif justru lebih cepat dan memadai dibandingkan analisis panjang yang melelahkan.

Misalnya, kamu mau beli sepatu lari, lalu memutuskan dengan meniru pilihan pelari berpengalaman yang kamu kenal. Keputusan itu mungkin bukan berasal dari riset mendalam, melainkan dilandasi kepercayaan yang lahir dari pengetahuan sosial di benak bawah sadar.

Menemukan Keseimbangan Antara Intuisi dan Logika

Alih-alih pikiran dan perasaan yang sulit dijelaskan, intuisi merupakan bentuk kecerdasan yang bekerja di balik kesadaran manusia. Hanya saja, semua hal yang bersifat intuitif perlu juga disejajarkan dengan logika.

Belajar mengenali dan memahami suara hati berarti juga belajar membedakan antara firasat yang bijak dan ketakutan yang tak jelas datangnya.

Pada beberapa kesempatan, intuisi mengarahkan kita ke arah yang tak masuk akal, tapi justru benar. Di lain waktu, ia bisa mengelabui kita jika tak diperkuat dengan refleksi dan penilaian rasional.

Pada akhirnya, intuisi bukanlah jalan pintas menuju kebenaran, tetapi ia hadir sebagai penuntun langkah awal. Selebihnya, kitalah yang harus berani melangkah lebih jauh.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih