diajeng.id - Dalam hidup, kita pasti pernah bertemu orang, yang meski sudah berusia dewasa, memiliki perilaku "ajaib".
Salah satunya adalah mencari perhatian alias caper dengan cara yang merepotkan orang lain.
Di balik kekesalan kita pada watak orang yang haus perhatian ini, perlu dipahami ada alasan-alasan yang mendasari kenapa ada beberapa orang, meski sudah dewasa, suka cari perhatian dan manja.
Melansir Psychology Today, terdapat sejumlah alasan yang dapat menjelaskan mengapa manusia cenderung haus akan perhatian.
Pertama, caper adalah naluri manusia yang sangat dasar terkait kebutuhan sosialisasi di lingkungan.
Sejak dulu, manusia bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup. Maka dari itu, kita terprogram untuk ingin diperhatikan.Alasannya sebenarnya bukan karena haus pujian semata, tapi karena perhatian juga diartikan sebagai koneksi. Tanpa koneksi, manusia merasa terancam, sendirian, dan tidak aman.
Kedua, kebutuhan untuk tetap terhubung.
Di balik perilaku caper, sering kali ada kebutuhan untuk dilihat, didengar, dan diakui keberadaannya.Perhatian hanyalah “jalan masuk” menuju perasaan dicintai dan dianggap berarti.
Ketiga, jadi kompensasi kurangnya emosional dalam hidup.
Banyak orang mencari perhatian karena ada yang kurang dalam hidupnya, terutama sejak kecil, misalnya:
- kasih sayang orang tua tidak konsisten
- jarang diapresiasi
- sering diabaikan secara emosional
Keempat, rendahnya harga diri.
Saat seseorang merasa tidak cukup berharga, kesepian, iri, atau tidak percaya diri, caper bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti membual, pamer, drama, playing victim, memancing kontroversi, sampai ledakan emosi.Dalam banyak kasus, manifestasi di atas tak lain adalah teriakan minta tolong yang tidak diucapkan.
Kelima, pengaruh lingkungan dan pengalaman.
Ada orang yang terbiasa mendapat perhatian ketika tampil atau bersikap berlebihan, sehingga perilaku itu terus diulang.Ada pula yang tumbuh dalam lingkungan kompetitif, di mana perhatian terasa langka dan harus “diperebutkan”.
Keenam, perhatian memang tidak dibagi secara adil.
Kita harus paham bahwa perhatian dalam relasi sosial tentu tidak dibagikan secara rata.Dalam beberapa contoh, orang yang “miskin perhatian” lebih rentan melakukan apa saja agar dirinya "dilihat" atau diakui oleh banyak orang, meski caranya tidak selalu sehat.
Ketujuh, sering merasa lebih diperhatikan daripada kenyataannya.
Faktanya, kebanyakan orang terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri. Studi menunjukkan bahwa kita sering melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan kita.Hal itulah yang membuat sebagian orang terus berusaha “menarik sorotan”, padahal sorotan itu tidak sebesar yang dibayangkan.
Namun begitu, mencari perhatian tidak selalu buruk.
Banyak karya seni, inovasi, dan pencapaian lahir dari harapan untuk diakui. Masalahnya baru muncul ketika seluruh harga diri digantungkan pada validasi dari orang lain.
Perbedaan Perilaku Caper Berlebihan dan yang Wajar
Dilansir situs The Treetop, tidak semua bentuk mencari perhatian bisa langsung disebut caper berlebihan.
Dalam kehidupan sosial, minta perhatian secara wajar adalah hal normal. Beberapa poin yang membedakan keduanya akan dibahas di bawah ini:
1. Motivasi
Perilaku minta perhatian yang lumrah biasanya muncul karena kebutuhan situasional, seperti hanya ingin didengar, ingin dilihat, ingin berbagi, atau sedang membutuhkan bantuan.Sementara itu, caper berlebihan didorong oleh kebutuhan internal yang lebih dalam, keinginan kuat untuk mendapatkan perhatian atau validasi dari orang lain, bukan karena faktor lainnya.
2. Frekuensi
Perilaku minta perhatian yang wajar cuma terjadi sesekali dan sepadan dengan situasi yang terjadi.Sebaliknya, perilaku caper berlebihan kerap muncul berulang. Intensitasnya tinggi, bahkan disertai dorongan untuk mendapatkan respons sesegera mungkin.
3. Konteks Kemunculan
Minta perhatian yang wajar biasanya muncul dalam konteks yang jelas, misalnya saat sedang membutuhkan dukungan atau ketika berada pada situasi tertentu.Sedangkan caper berlebihan sering muncul ketika seseorang merasa diabaikan, ditelantarkan, atau terpinggirkan, meskipun kondisi objektifnya belum tentu begitu.
4. Konsistensi
Perilaku minta perhatian yang normal bersifat fleksibel dan situasional. Caper berlebihan, sebaliknya, bersifat konsisten dan berulang, menjadi pola perilaku, bukan reaksi sesaat.
5. Dampak terhadap Interaksi Sosial
Perilaku minta perhatian yang wajar umumnya masih membuka ruang komunikasi dua arah.Caper berlebihan sering kali justru mengganggu hubungan karena fokus utamanya adalah menarik perhatian, bukan membangun koneksi yang sehat.
Dengan memahami motivasi dan polanya, seseorang, baik diri sendiri maupun orang lain, dapat dibantu untuk membangun cara berinteraksi yang lebih sehat dan positif.
Cara Menghadapi Orang yang Caper Berlebihan
Menghadapi orang yang terus-menerus mencari perhatian memang melelahkan. Namun, ingat, respons yang salah justru bisa memperkuat perilaku tersebut.
Sebuah artikel lainnya dari Psychology Today berjudul "Five Strategies to Deal with a Compulsive Attention-Seeker" memberikan cara-cara yang lebih sehat untuk menyikapinya.
1. Hentikan penguatan terhadap perilaku caper
Bentuk perhatian baik kemarahan atau reaksi emosional, sering kali menjadi “hadiah” bagi perilaku caper.Sesulit apa pun kondisnya, jangan sampai terlibat lebih dalam secara emosional ketika drama dimulai.
Kamu harus tetap bersikap netral, jaga jarak jika mulai terpancing, dan beri waktu diri sendiri untuk tenang.
2. Ajarkan cara menenangkan diri
Orang yang haus perhatian sering kesulitan mengelola emosi.Bantuan profesional seperti psikoterapi, pelatihan kesadaran diri, atau manajemen amarah bisa sangat membantu.
3. Jangan mempermalukannya, tapi tunjukkan cara membela diri yang benar
Perilaku mencari perhatian tidak perlu dipermalukan di depan umum, karena rasa malu justru bisa memperparahnya.Sebaliknya, tunjukkan bagaimana menyampaikan kebutuhan dan membela diri dengan cara yang lebih sehat, tanpa berlebihan atau dramatis.
Sikap ini membantu menormalkan kebutuhan akan perhatian, sekaligus memberi contoh batas yang jelas.
4. Ajak memahami motif tentang mencari perhatiannya
Bantu orang tersebut memahami apa yang sebenarnya ia cari. Ajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif.Apa arti perhatian bagi kamu? Apakah itu tentang menjadi hidup, merasa berharga, merasa penting? Selain validasi orang lain, apa lagi yang bisa kamu lakukan atau rasakan?
Pendekatan ini menciptakan jarak antara diri dan dramanya, sehingga orang yang caper bisa melihat pola perilakunya dengan lebih jernih.
5. Arahkan pada kekuatan dan tujuan yang lebih bermakna
Banyak pencari perhatian terjebak pada keinginan akan popularitas, ketenaran, atau kekaguman.Bantu mereka mengenali kekuatan dan potensi yang dimiliki, lalu arahkan ke tujuan yang lebih tinggi dan bermakna.
Tanyakan pada orang yang caper, hal apa yang bisa memberi kepuasan selain mendapatkan perhatian berlebih?
Ketika seseorang merasa hidupnya berarti, kebutuhan akan perhatian berlebihan biasanya berkurang.
Editor: Sekar Kinasih